Kegiatan birdwatching atau pengamatan burung liar di kawasan hutan lereng Gunung Arjuno, Malang sedang dikembangkan sebagai bagian dari aktivitas pariwisata di kawasan itu. Pengembangan aktivitas ini dilakukan masyarakat setempat bersama Profauna Indonesia Foundation sebagai strategi kreatif mengedukasi dan mencegah penangkapan burung liar.
Birdwatching adalah kegiatan mengamati jenis dan perilaku burung di habitat aslinya dengan memadukan unsur petualangan, edukasi, serta konservasi. Wisata minat khusus yang mulai aktif menerima kedatangan tamu sejak 2026 ini ternyata berhasil menyedot perhatian pecinta alam dari berbagai daerah.
Dalam sebulan rata-rata ada 15 orang peserta yang datang dari Malang, Surabaya, Sidoarjo, Tangerang, hingga Jakarta. Rentang usia peserta pun sangat beragam, mulai dari anak-anak usia 7 tahun hingga lansia berumur 72 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pelaksanaannya, masyarakat lokal yang tinggal di tepi hutan dilibatkan secara aktif. Mulai dari penyediaan konsumsi bagi para peserta hingga survei lokasi pengamatan. Keterlibatan ini sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar.
"Ada keinginan dari masyarakat bahwa ke depannya mereka juga akan menyediakan home stay, sehingga untuk tamu yang jauh bisa menginap dekat lokasi pengamatan," kata Ekolog Profauna Indonesia Rosek Nursahid, Rabu (7/10/2026).
Sementara untuk mengamati berbagai jenis satwa terisolasi itu, para peserta diajak menelusuri jalur trekking sepanjang kurang lebih 6 kilometer dengan medan kategori sedang.
Aktivitas birdwatching yang dikembangkan Profauna bersama masyarakat setempat di Gunung Arjuno. (Foto: Istimewa) |
Rute ini melintasi vegetasi hutan yang beragam, mulai dari kawasan pohon pinus hingga hutan campuran. Selama perjalanan, peserta mengamati pergerakan burung menggunakan teropong binokuler dan kamera khusus.
Hingga saat ini, Tim Profauna berhasil mengidentifikasi sedikitnya 55 jenis burung di area hutan lereng Gunung Arjuno. Beberapa di antaranya adalah elang jawa (Nisaeetus bartelsi), elang hitam (Ictinaetus malaiensis), kadalan birah (Phaenicophaeus curvirostris), paok pancawarna (Hydrornis guajanus), uncal loreng (Macropygia unchall), caladi tilik (Picoides moluccensis), hingga takur tohtor (Psilopogon armillaris).
"Burung favorit bagi peserta birdwatching adalah kadalan birah dan elang jawa, karena selain ukurannya besar itu warnanya juga menyolok," ujar Rosek.
Kehadiran program wisata edukatif ini membawa dampak positif bagi kesadaran ekologi warga setempat. Masyarakat lokal kini bertindak langsung menjaga kelestarian ekosistem dengan melarang keras siapa pun melakukan perburuan atau penangkapan burung di kawasan hutan lereng Gunung Arjuno.
"Program Profauna untuk melestarikan hutan dan satwa liar di lereng Gunung Arjuno dimulai tahun 2021 lewat pendekatan perhutanan sosial dan pengembangan wisata khusus birdwatching," tutur Rosek.
Selain mengembangkan kegiatan birdwatching, Profauna juga menjalankan program rehabilitasi hutan lindung di lereng Arjuno dengan bekerja sama dengan kelompok tani hutan dan Perhutani. Program ini fokus memulihkan kawasan hutan lindung yang sempat beralih fungsi menjadi lahan pertanian.

