Kebakaran lahan dan hutan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo sudah dapat dikendalikan. Satgas Karhutla menunggu waktu dua sampai tiga hari, apakah akses wisata dapat dibuka kembali.
Operasi darat dan pemantauan udara terus dilakukan tim gabungan untuk memastikan tidak ada lagi titik api, asap, maupun bara sebelum kawasan wisata Bromo kembali dibuka.
Danrem 083/Baladhika Jaya selaku Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj, Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan menyatakan, kondisi kawasan kaldera Gunung Bromo sebelumnya mengalami kebakaran sudah bisa dikendalikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wahyu menegaskan, rencana pembukaan akses wisata menunggu sampai tidak adanya titik maupun bara api.
"Pembukaan wisata akan dilakukan setelah kita benar-benar yakin bahwa tidak ada lagi titik asap maupun titik api. Kita akan melihat perkembangan dalam dua sampai tiga hari ke depan," kata Wahyu kepada wartawan, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Wahyu, hasil pemantauan selama dua sampai tiga hari ke depan akan menjadi dasar satgas untuk memberikan rekomendasi kepada pengelola TNBTS terkait pembukaan kembali kawasan wisata.
Karena itu, operasi darat belum dihentikan. Personel masih menyisir dan melakukan pembasahan di sejumlah area yang sebelumnya terbakar, terutama wilayah Pusung Duwur dan Pakis Binjil, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Pembasahan difokuskan untuk mengantisipasi bara yang masih tertinggal di dalam kawasan dan berpotensi kembali memicu api.
Di sisi lain, pemantauan udara juga terus diperkuat. Dua helikopter, yakni Super Puma dan Air Base, disiagakan untuk mendukung pembasahan dari udara apabila ditemukan titik yang memiliki potensi bara.
Pemantauan menggunakan drone juga dilakukan secara berkala untuk mendeteksi titik panas, asap, maupun bara secara lebih dini. Hasil pemantauan tersebut menjadi acuan dalam menentukan lokasi yang perlu mendapat penanganan lanjutan.
Akses menuju kawasan wisata Bromo hingga kini masih diperketat. Tidak ada wisatawan yang diperbolehkan memasuki area yang masih menjadi wilayah penanganan Karhutla.
Sementara masyarakat lokal yang memiliki kepentingan tetap dapat melintas dengan pengawasan.
Wahyu menegaskan, kesiapan pembukaan wisata tidak hanya ditentukan dari kondisi api yang padam. Satgas harus memastikan kawasan benar-benar aman sebelum kembali menerima wisatawan.
"Prioritas kita saat ini adalah memastikan tidak ada lagi titik api yang tersisa. Operasi darat, pemantauan drone maupun kesiapsiagaan dukungan udara tetap kita laksanakan," tandasnya.
Evaluasi melibatkan unsur Satgas Penanganan Karhutla, TNBTS, TNI-Polri, BPBD, BMKG serta instansi terkait lainnya. Seluruh hasil pemantauan akan terus dievaluasi hingga kawasan dinyatakan aman.
Jika dalam dua sampai tiga hari ke depan tidak ditemukan kembali titik api maupun asap, hasil evaluasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan langkah pembukaan kembali wisata Bromo.
Dengan demikian, tiga hari ke depan menjadi periode penentuan untuk memastikan penanganan Karhutla benar-benar tuntas sekaligus mematangkan kesiapan kawasan sebelum aktivitas pariwisata kembali dibuka.
Sementara Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha menyebut bahwa pihaknya menunggu keputusan dan rekomendasi dari Satgas Karhutla untuk kepastian kapan dibukanya wisata Gunung Bromo.
Meski sebenarnya tenggat penutupan kawasan Gunung Bromo berakhir Sabtu (15/8/2026) hari ini, pihaknya akan menanti kepastian sembari mematangkan rencana kedepan.
"Kawasan belum dibuka. Jika masih ada yang reschedule atau refund kita persilahkan. Kita menunggu keputusan pusat," pungkas Rudijanta.
(auh/abq)
