Gunung Bromo masih termasuk gunung api aktif di Jawa Timur. Berdasarkan pemantauan terbaru, Gunung Bromo berada pada Level II atau Waspada.
Status tersebut tercatat dalam laporan MAGMA ESDM untuk periode pengamatan Sabtu 8 Agustus 2026 pukul 00.00-00.00 WIB.
Gunung Bromo memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan berada di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Gunung Bromo Masih Aktif atau Tidak?
Aktivitas vulkanik Gunung Bromo masih dipantau secara berkala oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Dalam laporan MAGMA ESDM, pada 8 Agustus 2026, Gunung Bromo teramati mengeluarkan asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga ketinggian sekitar 50-400 meter dari puncak.
Selain pengamatan visual, aktivitas Gunung Bromo juga dipantau melalui kegempaan. Pada periode tersebut tercatat satu kali gempa tektonik jauh dan satu kali gempa tremor menerus. Dengan kondisi tersebut, status aktivitas Gunung Bromo saat ini berada pada Level II.
Apa Arti Level II Waspada Gunung Bromo?
Level II atau Waspada merupakan salah satu tingkat status aktivitas gunung api yang menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik dibandingkan kondisi normal.
Status ini bukan berarti Gunung Bromo sedang mengalami erupsi besar. Namun, masyarakat dan wisatawan tetap perlu mengikuti rekomendasi dari pihak berwenang karena aktivitas gunung api dapat berubah.
Masyarakat serta pengunjung, wisatawan, dan pendaki diminta tidak memasuki kawasan dalam radius 1 kilometer dari kawah aktif Gunung Bromo. MAGMA ESDM juga mengingatkan adanya kemungkinan letusan freatik yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan tanpa didahului gejala vulkanik yang jelas.
Gunung Bromo Pernah Mengalami Erupsi
Gunung Bromo memiliki sejarah erupsi yang panjang. Salah satu catatan aktivitas vulkaniknya terjadi pada 5 Januari 2011, ketika erupsi masih berlangsung meski aktivitas vulkaniknya cenderung menurun. Berdasarkan arsip ESDM, status Gunung Bromo saat itu berada pada Level III atau Siaga.
Aktivitas erupsi Bromo kembali tercatat pada Juli 2019, ketika erupsi menghasilkan abu vulkanik. Pada 19 Juli 2019, kawasan Bromo juga mengalami aliran air yang membawa material batuan berukuran abu hingga pasir.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Bromo PVMBG saat itu, Wahyu Adrian Kusuma, menjelaskan bahwa aliran tersebut merupakan dampak hujan di sekitar Kaldera Tengger dan tidak berkaitan langsung dengan aktivitas erupsi Gunung Bromo.
Riwayat tersebut menunjukkan aktivitas Gunung Bromo dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, aktivitas vulkaniknya terus dipantau untuk menentukan tingkat status dan rekomendasi keselamatan berdasarkan kondisi terkini.
Apakah Gunung Bromo Bisa Meletus Lagi?
Sebagai gunung api aktif, Gunung Bromo tetap memiliki potensi mengalami erupsi. Namun, waktu terjadinya erupsi tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jarak waktu dari erupsi sebelumnya.
Pemantauan dilakukan melalui berbagai parameter, termasuk pengamatan visual dan kegempaan. Perubahan pada parameter tersebut menjadi salah satu bahan dalam menentukan tingkat aktivitas serta rekomendasi keselamatan.
Dengan demikian, status Level II (Waspada) menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Bromo masih perlu dipantau. Status tersebut dapat berubah sesuai perkembangan kondisi vulkaniknya.
Bagi masyarakat dan wisatawan, informasi mengenai aktivitas Gunung Bromo sebaiknya selalu mengacu pada pembaruan resmi dari MAGMA ESDM dan PVMBG, terutama sebelum melakukan aktivitas di kawasan gunung api tersebut.
Simak Video "Menikmati Pesona Alam Kawah Gunung Bromo di Jawa Timur"
(irb/hil)