Fakta Terbaru Femas yang Kabur dari Rombongan Saat Tur di Korea Selatan

Round Up

Fakta Terbaru Femas yang Kabur dari Rombongan Saat Tur di Korea Selatan

Amir Baihaqi - detikJatim
Minggu, 19 Jul 2026 07:31 WIB
Sayembara pencarian Femas Yani Arianto yang kabur saat tur di Korea Selatan (Korsel)
Sayembara pencarian Femas Yani Arianto yang kabur saat tur di Korea Selatan (Foto: Dok. Istimewa)
Madiun -

Keberadaan Femas Yani Arianto (22), warga Madiun yang kabur dari rombongan saat tur di Korea Selatan masih misteri. Pihak travel pun sampai membuat sayembara bagi WNI di Negeri Ginseng yang mengetahuinya.

Sayembara diunggah melalui akun Instagram @sarjanabackpacker dan viral di media sosial. Dalam unggahannya, pihak travel meminta siapa pun yang bertemu Femas agar segera melapor kepada petugas.

"Kalau ada WNI di Korea ketemu Femas, jangan diajak ngopi, jangan diajak healing dulu, langsung lapor ke petugas," demikian ketarangan sayembara yang dilihat detikJatim.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Unggahan itu juga menjanjikan hadiah bagi pihak yang berhasil membantu memulangkan Femas ke Indonesia. Adapun hadiahnya paket liburan ke negeri Jiran.

"Kalau aksi loe bikin si Femas pulang ke Indonesia, tanda terima kasih kami gue ajak 1 keluarga lo healing ke Singapore Malaysia 4 hari 3 malam GRATIS," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Pihak travel juga kembali mengingatkan bahwa tindakan Femas berpotensi berdampak pada banyak orang. Sebab keputusannya yang kabur saat tur bisa mempersulit orang dalam bepergian ke luar negeri.

"FEMAS... Visa bukan hanya selembar stiker di paspor. Di baliknya ada kepercayaan. Dan kepercayaan itu dijaga oleh ribuan orang yang selalu pulang sesuai aturan. Jangan sampai keputusan satu orang membuat jalan mereka menjadi lebih sulit," tutupnya.

Marketing Manager Berani Backpacker, Wiky saat dikonfirmasi membenarkan terkait unggahan sayembara tersebut. "Betul kak (sayembara tersebut)," kata Wiky kepada detikJatim, Minggu (19/7/2026).

Wiky menjelaskan, visa Femas sebenarnya telah berstatus overstay sejak 12 Juli 2026. Sebelum status overstay itu terjadi, pihak travel mengaku telah berupaya melakukan pendekatan secara persuasif ke keluarga agar Femas bersedia kembali ke Indonesia.

"Itu kenapa sebelum 12 Juli kemarin kita benar-benar coba untuk pendekatan secara soft. Kita coba datang ke keluarga, follow up terus ke ibunya," jelasnya.

Menurut Wiky, keputusan Femas kabur bukan hanya merugikan pihak travel, tetapi juga berpotensi berdampak pada peserta lain yang berada dalam rombongan yang sama maupun WNI lain yang akan mengajukan visa ke Korea Selatan.

"Karena ini merugikannya enggak hanya ke kita, tapi merugikan banyak orang. Visa orang-orang lain satu grup itu pasti terkendala. Jadi tour leader dan seluruh peserta yang ada di grup kita ketika mengajukan visa lagi untuk ke Korea bisa jadi tidak di-approve karena ada di rombongan yang sama dengan Femas yang kabur," pungkasnya.

Ulah Femas pun berimbas ke ibunya yang beda di Madiun berinisial MT (56). iA mengaku kaget mendengar kabar sudah sampai di Korea Selatan dan dilaporkan kabur.

Menurut MT, Femas tidak pernah izin ke dirinya terkait ikut tur bersama pihak travel hingga dikabarkan kabur. Dia tahu kabar itu dari pihak travel pada 15 Juli 2026 melalui pesan singkat.

Akibat ula anaknya itu, MT JUGA mengaku ditagih seseorang mengaku pegawai biro tur membayar kerugian puluhan juta. Pegawai itu bahkan sempat datang di rumahnya di Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.

"Saya uang dari mana dimintai uang banyak. Bisa buat makan sehari-hari saja alhamdulillah," ujar MT.

Menurut MT, nominal uang yang diminta pihak travel senilai Rp 50 juta. Ia mengaku kaget kenapa ganti rugi yang besar dibebankan kepada dirinya. "Saya juga kurang tahu pasti uang sebanyak itu saya dari mana," papar M.

Selain itu, M juga mengaku pernah didatangi seseorang dari pegawai Imigrasi Madiun. Namun kedatangan petugas imigrasi membelanya dan menyarankan agar tak menuruti permintaan pihak travel yang minta ganti rugi Rp 50 juta.

"Dari imigrasi juga ke sini ngecek dan sepertinya juga keberatan jika saya ada beban tagihan dari biro travel. Karena saya tidak bersalah," ungkap MT.

MT lalu menuturkan bahwa selama ini suaminya sudah meninggal sejak 2018. Sedangkan sehari-hari ia hanya mengandalkan kerja serabutan di pabrik porang. Pekerjaan itu yang kemudian menjadi penghasilan utamanya.

"Saya kerja serabutan di pabrik porang musiman saat ini juga sudah selesai tidak beroperasi pabrik. Kerja bersih - bersih rumah orang sehari Rp 60 ribu. Dulu masih ada suami buka toko kios pupuk sekarang sepi dan tutup," tandas M.



(ihc/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads