BEC 2026 Hidupkan Roh Perang Puputan Bayu Lewat Mahakarya Budaya

BEC 2026 Hidupkan Roh Perang Puputan Bayu Lewat Mahakarya Budaya

Eka Rimawati - detikJatim
Sabtu, 18 Jul 2026 16:52 WIB
Banyuwangi Ethno Carnival 2026.
Banyuwangi Ethno Carnival 2026. (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Kemegahan seni kolosal berpadu dengan spirit perjuangan yang magis kembali menghentak panggung Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. Tahun ini, festival etnik terbesar di Indonesia itu mengangkat tema yang sangat sakral bagi masyarakat Bumi Blambangan, yakni "Perang Puputan Bayu".

Sebuah fragmen sejarah perlawanan heroik rakyat Banyuwangi melawan kolonialisme VOC pada tahun 1771 silam, kini direaktualisasikan lewat mahakarya busana kontemporer dan teatrikal yang memukau puluhan ribu pasang mata, termasuk para wisatawan mancanegara dan jajaran tokoh nasional.

Perhelatan yang berlangsung super megah ini tidak hanya menjadi panggung pameran kreativitas visual, melainkan juga sebuah ruang refleksi ideologis yang masif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani dalam sambutannya menyampaikan rasa haru dan bangganya atas dedikasi kolektif seluruh elemen masyarakat yang berhasil mewujudkan pagelaran bertaraf internasional tersebut.

"Kekompakan kita sebagai warga Banyuwangi mengungkit rasa bangga. Semoga BEC tahun 2026 ini menjadi tongkat bagi kita semuanya untuk bersama-sama tandang bareng membangun Banyuwangi yang kita cintai," ujar Bupati Ipuk penuh semangat.

ADVERTISEMENT

Sebelum menyerahkan panggung kepada para tamu kehormatan, Bupati Ipuk secara khusus memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh ekosistem pendukung yang telah bekerja keras di balik layar demi menyukseskan perhelatan akbar ini.

"Sebelum Ibu Zita Anjani menyampaikan sambutan, saya atas nama Bupati Banyuwangi juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh seniman, budayawan, sejarawan, tokoh agama dan para alim ulama, tokoh masyarakat, teman-teman tim kreatif. Teman-teman tim kreatif, talent yang mengisi kegiatan BEC tahun 2026 seluruhnya, jajaran pendidikan, kesehatan dan seluruh teman-teman OPD dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, teman-teman Forkopimda, teman-teman DPRD, para pengusaha, para pelaku UMKM yang saya cintai dan saya banggakan, anak-anak muda Banyuwangi, teman-teman semuanya, seluruh masyarakat Banyuwangi," tutur Ipuk.

"Kami mengucapkan terima kasih atas kerja bersama kita hingga kita bisa menyelenggarakan sebuah pagelaran yang sangat super star pada hari ini. Teman tamu-tamu kami yang kami hormati dari mancanegara, undangan-undangan yang kami hormati yang turut hadir pada hari ini. Kehadiran Bapak, Ibu semuanya, Ibu Gubernur, Ibu Zita, adalah penyemangat bagi kami untuk terus berbuat lebih baik bagi Kabupaten Banyuwangi. Amin. Mungkin ini yang bisa kami sampaikan, sekali lagi terima kasih untuk semuanya yang tidak bisa kami sebutkan," tambahnya sembari mengundang Utusan Khusus Presiden ke atas panggung.

Apresiasi luar biasa pun datang dari pemerintah pusat. Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani yang hadir secara langsung mengaku sangat terkesan dengan kedalaman substansi tema yang dipilih oleh Banyuwangi. Dalam pidato kebudayaannya yang menggetarkan, Zita menilai Banyuwangi telah berhasil mempertahankan standar emas dalam manajemen festival berbasis komunitas.

"Sebuah daerah yang membuat sebuah pertunjukan ketika mampu berkali-kali menjaga kualitas, merawat konsistensi, dan tentu memberikan manfaat yang banyak bagi masyarakat. Dan Banyuwangi terlahir berkali-kali konsisten membuktikan itu. Bapak, Ibu, tema hari ini saya baca, saya pelajari, saya resapi. Temanya tentang perang Bayu," ungkap Zita Anjani di hadapan publik.

Lebih lanjut, Zita menegaskan bahwa esensi dari perjuangan Perang Bayu sangat relevan dengan kebangkitan kebudayaan daerah di era modern saat ini.

"Perang Bayu mengajarkan kita bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan di medan perang. VOC boleh memenangkan peperangan, Benteng Bayu boleh runtuh, tetapi mereka tidak akan pernah mampu merampas jati diri masyarakat Banyuwangi, yaitu budaya. Hari ini, lewat Banyuwangi Ethno Carnival, masyarakat Banyuwangi lagi dan lagi membuktikan bahwa budaya yang tetap hidup adalah kemenangan sesungguhnya," tegas Zita disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Atas nama Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi beserta seluruh masyarakat yang terus-menerus membuktikan dan berinovasi mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Keberhasilan Banyuwangi dalam mentransformasikan narasi lokal sejarah perjuangan menjadi sebuah perayaan kebudayaan berskala global juga mendapat sorotan tajam dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Ia memuji bagaimana kepemimpinan lintas generasi di Banyuwangi mampu mengorkestrasi potensi lokal dengan sangat apik.

"Saya sudah melihat bagaimana sebuah perhelatan yang berhasil digelar from local to global ditunjukkan oleh kekuatan Budaya, kekuatan inovasi dan kreativitas masyarakat Banyuwangi. Terima kasih Pak Anwar Anas, terima kasih Bu Ipuk Fiestiandani yang telah mengorkestrasi berbagai event yang ada di Banyuwangi terutama BEC," puji Khofifah Indar Parawansa.

Khofifah berharap esensi kreativitas yang dipertontonkan dalam BEC tahun ini dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat dan industri kreatif lokal.

"Mudah-mudahan Banyuwangi terus melejit, terus inovatif. Budayawan dan pelaku industri kreatif terus bisa membangun sinergi demi local to global, salah satunya adalah melalui Banyuwangi Ethno Carnival," tambahnya optimis.

Dengan suksesnya BEC 2026 yang mengangkat heroisme Perang Puputan Bayu, Kabupaten Banyuwangi kembali menegaskan posisinya sebagai kiblat festival budaya nasional. Event ini bukan sekadar parade busana megah, melainkan sebuah monumen hidup di mana memori kolektif sejarah, nasionalisme, inovasi ekonomi, dan pariwisata berpadu harmoni demi melesatkan nama Indonesia di panggung dunia.



(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads