Kesuksesan tidak selalu datang dari jalan yang mudah. Hal itu dibuktikan Yulianto, warga Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, yang berhasil mengubah lahan kritis menjadi kebun kelengkeng bernilai ekonomi tinggi.
Yulianto mengaku perjalanan merintis kebun kelengkeng tidaklah mulus. Saat awal menanam, ia sempat diremehkan warga sekitar karena dianggap nekat mengembangkan tanaman kelengkeng di lahan yang dinilai kurang subur.
"Banyak yang meragukan karena lahannya dianggap tidak cocok. Tapi saya tetap mencoba dan belajar pelan-pelan," ujar Yulianto kepada detikJatim saat ditemui di kebunnya, Jumat (10/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, tanaman kelengkeng sebenarnya bisa tumbuh optimal jika ditanam di tanah dengan pH sedikit asam hingga netral, yakni sekitar 5,5 hingga 6,5. Kondisi tanah yang gembur dan kaya bahan organik juga menjadi faktor penting agar tanaman dapat menyerap nutrisi secara maksimal.
"Kalau terlalu asam, bisa ditambahkan dolomit supaya pH-nya naik. Saya juga rutin cek kondisi tanah pakai pH meter," jelasnya.
Selain itu, ia memastikan lahan memiliki drainase yang baik agar tidak tergenang air, serta mendapat paparan sinar matahari penuh. Ketinggian ideal untuk tanaman kelengkeng pun berkisar antara 25 hingga 800 meter di atas permukaan laut.
Yulianto memulai usahanya sejak 2017 dengan belajar secara otodidak. Ia memanfaatkan media sosial dan internet untuk mempelajari teknik budidaya, termasuk dari petani di Thailand dan Vietnam.
Berbekal ketekunan, ia berhasil menyulap lahan seluas 1,5 hektare menjadi kebun kelengkeng produktif dengan sekitar 300 pohon varietas unggulan New Kristal.
Dalam sekali panen, kebunnya mampu menghasilkan sekitar 200 hingga 300 kilogram buah. Bahkan, dengan teknik khusus berupa "booster", Yulianto mampu membuat pohon kelengkeng berbuah sepanjang tahun.
"Jadi tidak tergantung musim. Itu yang membuat hasilnya lebih stabil," katanya.
Di pasaran, harga kelengkeng di tingkat petani berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Namun, Yulianto memilih mengembangkan konsep berbeda dengan menjadikan kebunnya sebagai wisata edukasi.
Kini, kebunnya ramai dikunjungi berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga mahasiswa. Pengunjung tidak hanya belajar budidaya, tetapi juga merasakan pengalaman memetik buah langsung dari pohonnya.
"Kita arahkan ke wisata edukasi. Banyak yang datang ke sini untuk belajar sekaligus merasakan petik buah," ujarnya.
Meski demikian, ia tetap menjaga kualitas hasil panen dengan membatasi aktivitas petik buah. Pengunjung diwajibkan didampingi agar buah tidak rusak dan tanaman tetap terawat.
Ke depan, Yulianto berharap kebunnya bisa terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi masyarakat lain untuk memanfaatkan lahan secara produktif. "Yang penting mau belajar dan tidak mudah menyerah," pungkasnya.
(irb/hil)
