Momentum arus balik Lebaran 2026 membawa angin segar bagi pelaku usaha oleh-oleh di Surabaya salah satunya yang berada di kawasan pusat oleh-oleh Genteng Besar.
Di kawasan ini dapat ditemui berbagai toko yang menyediakan beragam jenis oleh-oleh. Salah satunya di Toko Sudi Mampir, pengunjung dapat menemukan berbagai makanan khas, seperti krupuk dan kripik, pia, olahan ikan, sambel, pecel, serta camilan tradisional lainnya.
Berada di Jalan Genteng Besar Nomor 72-74, Genteng, toko legendaris tersebut diketahui menampung ratusan produk dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini sekitar 300 hingga 400 UMKM menitipkan produknya di sana, tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, tetapi juga dari daerah lainnya seperti Solo, Jawa Tengah.
Pengelola Toko Sudi Mampir Rofi'i (60) mengatakan peningkatan jumlah pengunjung mulai terlihat sejak hari ketiga Lebaran, bertepatan dengan arus balik. Para pembeli didominasi warga luar kota yang kembali dari Surabaya dan menyempatkan diri berburu oleh-oleh.
"Kalau dibandingkan hari biasa, ada kenaikan sekitar 30 sampai 35 persen. Kebetulan kita memang buka di hari ketiga lebaran (23/3). Kebanyakan yang datang ke sini itu yang mau balik, terutama ke Jakarta," ujarnya.
Meski begitu, Rofi'i mengakui lonjakan tahun ini tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Ia menyebut pada periode Lebaran sebelumnya, peningkatan pengunjung bisa mencapai lebih dari 50 persen. Sementara tahun ini, kenaikannya hanya berkisar 25-30 persen dibandingkan momen Lebaran tahun lalu.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, termasuk daya beli masyarakat yang cenderung menurun. Selain itu, perubahan kebiasaan belanja juga ikut memengaruhi penjualan.
"Kalau dibandingkan tahun lalu, sekarang memang lebih sepi yang mana tahun lalu bisa naik 50 persen. Ramadhan kemarin saja justru sepi, tidak ada peningkatan sama sekali. Kita dapat ramainya sama peningkatannya ya baru arus balik ini," jelasnya.
Sepinya minat belanja oleh-oleh saat Ramadhan ini jauh berbeda dengan kondisi jalan Genteng Besar yang juga difungsikan untuk lahan parkir mobil dan motor pengunjung Jalan Tunjungan.
"Kawasan ini terlihat ramai ya karena memang banyak yang parkir saja mau ke Tunjungan. Kalau kondisi toko kami ya biasa-biasa aja, nggak sebegitu ramai," kata Rofi'i.
Di sisi lain, tren belanja oleh-oleh pada Lebaran tahun ini juga mengalami perubahan. Rofi'I menyebut saat ini pembeli lebih memilih produk siap santap atau camilan instan dibandingkan produk mentah. Jenis seperti keripik, kue kering, hingga camilan ringan menjadi yang paling banyak diburu.
"Kalau tahun lalu, pengunjung sukanya olahan laut, misalnya ikan asap, grinting lorjuk, teripang. Sekarang, orang maunya yang praktis. Jadi yang langsung bisa dimakan itu yang paling banyak dicari," kata Rofi'i.
Namun menariknya, di tengah tren camilan instan yang tahan lama, justru produk dengan masa simpan lebih singkat menjadi primadona tahun ini. Selain almond crispy, pembeli banyak memburu bandeng asap dan spikoe meski keduanya tidak seawet olahan keripik yang bisa bertahan hingga 3-4 bulan.
Ketiga produk ini kerap diborong, baik dalam satuan maupun dalam jumlah banyak untuk oleh-oleh. Untuk harganya, almond crispy dibanderol sekitar Rp 55.000 per kemasan, bandeng asap Rp 170.000 per kilogram atau sekitar Rp 85.000 per ekor, sementara spikoe dijual seharga Rp 115.000 per kotak.
"Spikoe ada yang bisa tahan satu minggu, ada juga yang satu bulan karena pakai plastik vakum kedap udara. Kalau bandeng presto tahan satu bulan. Berbeda dengan bandeng asap, kita produksi sendiri dan hanya tahan 3-4 hari karena kadar airnya lebih tinggi, jadi nggak bisa divakum," jelas Rofi'i.
Lonjakan pengunjung saat arus balik juga sempat membuat beberapa stok produk ludes dalam waktu singkat. Rofi'i mengungkapkan beberapa jenis seperti spikoe dan camilan singkong bahkan habis dalam dua hingga tiga hari setelah toko kembali buka.
"Banyak yang cari, tapi stoknya belum datang lagi dari pemasok. Jadi sempat kosong, tapi untuk spikoe hari ini sudah masuk lagi," katanya.
Dengan kondisi ini, arus balik menjadi momen penting bagi perputaran penjualan. Namun demikian, para pelaku usaha berharap tren kunjungan dan daya beli bisa kembali meningkat seperti tahun-tahun sebelumnya.
(ihc/ihc)
