Melalui akun resminya @disbudparjatimprov, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengumumkan penetapan tujuh objek sebagai cagar budaya peringkat Provinsi Jawa Timur tahun 2026. Ketujuh cagar tersebut terdiri dari beragam jenis objek. Mulai dari bangunan, situs, hingga struktur bersejarah.
Status cagar budaya tingkat provinsi ini tidak sekadar menjadi predikat, tetapi juga membawa tanggung jawab untuk menjaganya. Dengan penetapan tujuh objek baru tersebut, masyarakat diharapkan turut berperan aktif dalam upaya pelestarian agar warisan budaya ini tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
7 Cagar Budaya Baru di Jawa Timur
Dikutip dari laman @disbudparjatimporv, berikut tujuh cagar budaya di Jawa Timur terbaru 2026 yang perlu diketahui.
1. Jembatan Lama Kota Kediri
Salah satu cagar budaya baru di Jawa Timur adalah Jembatan Lama Kota Kediri. Jembatan ini dibangun atas inisiatif pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menunjang aktivitas perekonomian dan mobilitas masyarakat saat itu.
Jembatan yang telah berusia lebih dari satu abad ini membentang luas di atas Sungai Brantas, dan menjadi saksi sejarah masa kolonial di Kota Kediri. Jembatan Lama mempunyai panjang 160 meter dan lebar 5,8 meter.
Jembatan ini menghubungkan wilayah barat dan timur sungai. Pembangunannya dimulai pada 1853, rampung pada 11 Maret 1869, diuji coba pada 11-17 Maret 1869, dan resmi dibuka pada 18 Maret 1869.
2. Petirtaan Jalatunda
Selanjutnya, terdapat Petirtaan Jalatunda yang merekam jejak sejarah yang melalui berbagai pahatan dan inkripsi. Lokasinya berada di kaki barat Gunung Penanggungan, Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Situs pemandian kuno ini diperkirakan telah ada sejak masa Airlangga belum menjadi raja. Pada masa itu, tempat ini digunakan sebagai tempat mandi keluarga Raja Majapahit. Hingga kini, air di Petirtaan Jalatunda masih terus mengalir, bahkan kandungan mineralnya kerap disandingkan dengan air zam-zam.
3. Candi Surawana
Candi Surawana juga masuk ke dalam tujuh cagar budaya baru di Jawa Timur. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Candi dengan corak hindu ini diperkirakan dibangun pada abad ke-14 dengan tujuan memuliakan Bhre Wengker, paman sekaligus mertua dari Raja Hayam Wuruk.
Tidak diketahui pasti kapan candi ini ditemukan. Namun, candi ini tercantum pernah dipugar pada tahun 1908 oleh ilmuwan Eropa, DM Verbeek dan J Knebel.
4. Masjid Jami'
Masjid Jami' dibangun pada tahun 1781 atas perintah Panembahan Somala. Lokasinya berada di Letaknya di Desa Bangselok, Sumenep, Provinsi Jawa Timur.
Arsitektur masjid ini sangat unik, terutama dari gerbangnya. Tak heran karena arsiteknya adalah orang tionghoa bernama Lauw Pia Ngo.
Pembangunan tersebut menjadi salah satu bagian integral dari tata ruang pusat kota baru yang berlandaskan filosofi kosmologi Jawa. Selain itu, bangunan ini juga menjadi simbol akulturasi budaya yang memadukan gaya arsitektur lokal, Islam, Tiongkok, dan Eropa secara harmonis.
5. Betoh Labheng
Betoh Labheng merupakan struktur megalitik di Bondowoso yang terletak di Desa Banyuputih, Wringin. Batu ini memiliki bentuk yang unik dengan ukuran memanjang sekitar 8 meter, lebar 5 meter, serta tingginya kurang lebih 8 meter.
Sebagian masyarakat setempat meyakini batu ini dapat menjadi penanda datangnya musim kemarau. Caranya dengan mengintip melalui celah pada batu yang tembus hingga ke bagian belakang. Dari celah setinggi sekitar 3 meter tersebut, pengamat dapat melihat area di balik batu.
6. Kompleks Pasareyan Aermata
Selanjutnya, ada Kompleks Pasareyan Aermata yang menjadi cagar budaya baru di Jawa Timur. Kompleks Pasareyan Aermata merupakan situs pemakaman bersejarah yang berada di puncak Bukit Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan.
Kisah di balik nama Air Mata Ibu berawal dari tokoh yang dikenal sebagai Ratu Ibu atau Nyai Syarifah Ambami (dalam beberapa sumber tertulis Sarifah/Syarifah Ambani), istri Panembahan Cakraningrat I.
Berdasarkan catatan lokal dan tradisi lisan, Ratu Ibu konok merupakan keturunan Sunan Giri Dari Wali Songo. Ia sering bertapa dan menangis karena meratapi rasa bersalah dan pilu.
Konon, air mata yang terus menetes itu dipercaya kemudian menjelma menjadi mata air keramat yang muncul di sekitar area makamnya.
7. Gedung PTPN 1 Regional 5 Surabaya
Gedung PTPN 1 Regional 5 Surabaya juga masuk ke dalam kategori cagar budaya baru di Jawa Timur. Gedung ini berada di Jalan Merak, Krembangan Selatan Surabaya.
Mulanya, gedung ini didirikan sebagai kantor pusat Handels Vereeniging Amsterdam (HVA) pada tahun 1920-1925 dengan arsitektur megah karya bito Hulswit, Fermont, dan Cuypers. Pada masa itu, gedung ini menjadi bangunan beton terbesar di Surabaya.
Gedung PTPN 1 Regional 5 mempunyai rekam jejak sejarah yang panjang. Mulai dari simbol kejayaan industri gula kolonial, beralih fungsi menjadi gudang senjata Jepang, markas komando militer pejuang Surabaya, hingga lokasi perundingan penting pada masa revolusi kemerdekaan
(dpe/irb)











































