Menurunnya tingkat kunjungan wisata di Kota Batu pada tahun 2025 menjadi persoalan serius. Pasalnya, wisata menjadi salah satu sektor utama dalam penopang pengembangan daerah berjuluk Kota Apel itu.
Tourismologist dari Universitas Brawijaya Faidlal Rahman menilai penurunan kunjungan wisata pada 2025 merupakan bagian dari dinamika pariwisata global. Di mana, perilaku wisatawan pasca pandemi COVID-19 yang semakin rasional.
"Saat ini wisatawan lebih rasional, sensitif terhadap biaya, dan cenderung mempersingkat durasi perjalanan. Ketidakpastian ekonomi global mendorong wisata singkat, day trip, dan kunjungan tanpa menginap," kata Faid, sapaan akrabnya kepada detikJatim, Kamis (15/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal inilah yang melahirkan tren liburan "tek-tok", di mana pelancong datang pagi hari untuk menikmati satu atau dua atraksi, lalu langsung pulang atau melanjutkan perjalanan ke kota lain tanpa menginap. Fenomena liburan tek-tok ini pada akhirnya berdampak pada berbagai sektor pendukung wisata seperti perhotelan.
"Akibatnya, banyak destinasi terlihat tetap ramai, namun nilai ekonomi, terutama sektor perhotelan, justru menurun. Memang dampak liburan tek-tok ini paling besar dirasakan hotel melalui penurunan okupansi dan lama tinggal wisatawan," terang Faid.
"Kondisi ini diperkuat karakter pariwisata Kota Batu yang didominasi wisata keluarga dan wisata buatan, sehingga sangat sensitif terhadap tekanan biaya dan perubahan preferensi pasar," imbuhnya.
Faid menyampaikan pandangan pengelola wisata di Kota Batu tentang penurunan jumlah kunjungan wisata karena melemahnya daya beli masyarakat memang benar. Namun, selain persoalan isi dompet, faktor kejenuhan destinasi akibat kemacetan parah dan kepadatan luar biasa saat musim liburan juga menjadi pemicu utama.
Tak hanya soal macet, rusaknya reputasi akibat ulah oknum yang melakukan getok parkir hingga penipuan vila bodong juga mempengaruhi psikologis calon pengunjung. Terlebih, di era digital saat ini, satu ulasan buruk mengenai rasa tidak aman dapat menyebar dengan cepat dan langsung menciptakan persepsi resiko.
"Akibatnya, wisatawan yang merasa terancam lebih memilih kunjungan singkat, atau bahkan mengalihkan tujuannya ke daerah lain yang dianggap lebih aman dan transparan," ungkapnya.
Dalam situasi ini, Faid menyarankan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu dan pemangku kepentingan segera melakukan transformasi strategi besar-besaran. Menurutnya, sudah saatnya Kota Batu bergeser dari orientasi kuantitas yang hanya mengejar jumlah pengunjung menuju pariwisata berbasis kualitas.
Fokus utama harus diarahkan pada peningkatan lama tinggal wisatawan dengan menciptakan alasan yang kuat untuk menginap, misalnya melalui pengembangan atraksi malam hari, wisata kuliner tematik, hingga integrasi antara hotel dengan pengalaman wellness dan budaya lokal.
Selain itu, perbaikan di lapangan tidak bisa ditawar lagi. Penegakan aturan yang tegas terhadap praktik getok parkir serta pengawasan ketat terhadap akomodasi ilegal menjadi kunci utama pemulihan kepercayaan publik. Faid menekankan pentingnya standardisasi harga dan manajemen reputasi digital yang solutif agar wisatawan kembali merasa dilindungi.
Pada akhirnya, tantangan terbesar Kota Batu saat ini bukan sekadar menarik orang untuk datang, melainkan bagaimana menciptakan pengalaman yang bernilai sehingga wisatawan mau tinggal lebih lama, bukan sekadar singgah untuk berfoto lalu pergi.
(irb/abq)
