Mulanya, alun-alun hanya menjadi ruang singgah singkat, tempat orang berlalu, melintas, lalu pergi. Kini, terutama di musim liburan seperti Nataru, ruang ini berubah dari sekadar tempat lewat menjadi opsi berkumpul dan bercengkerama.
Menjelang malam, Alun-alun Kota Batu terasa semakin padat. Langkah kaki tak lagi bebas sebab ruang gerak yang terbatas. Bahkan, banyak yang memakai kaus senada sebagai penanda hadir bersama rombongan.
Bangku-bangku penuh, sebagian pengunjung memilih duduk lesehan, sementara lainnya berdiri berkelompok sambil berbincang. Alun-alun yang dulu terasa lapang kini berubah menjadi ruang yang dipenuhi orang-orang dengan beragam latar belakang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keramaian Mendominasi di Beberapa Titik
Salah satu titik terpadat berada di sentra kuliner. Pengunjung berdesakan, saling menunggu giliran, sebagian antre di lapak jajanan, sementara lainnya tampak kebingungan memilih di antara banyaknya opsi makanan.
Ada yang mondar-mandir, ada pula yang akhirnya menyerah dan memilih tempat yang sudah pasti seperti kafe kopi dan gelato De Classe, atau Pos Ketan Legenda yang sejak lama menjadi destinasi ikonik.
Keramaian ini menciptakan dua arus yang beriringan. Banyak orang betah duduk lama, menikmati makanan dan obrolan. Di sisi lain, tak sedikit pengunjung yang berkeliling cukup lama hanya untuk mencari satu bangku kosong. Alun-alun menjadi ruang yang diperebutkan, bukan hanya untuk sekadar berlalu lalang.
Dari Ruang Gerak ke Ruang Diam
Perubahan wajah alun-alun juga terlihat dari aktivitas yang perlahan kabur. Konon, masih banyak pengunjung bermain scooter, kini pemandangan itu semakin jarang. Bianglala yang biasanya tidak habis antrean, kini sepi tidak berfungsi. Sehingga kepadatan tidak terpusat lagi dan membuat ruang gerak menjadi kurang leluasa.
Di tengah keterbatasan tersebut, Alun-alun Kota Batu justru memperlihatkan peran barunya. Ia menjadi ruang jeda. Orang-orang datang bukan untuk berpindah cepat, melainkan untuk berhenti. Duduk lama, mengobrol, menunggu malam, atau sekadar menikmati suasana kota tanpa tujuan yang jelas.
Ruang publik ini perlahan berubah menjadi semacam ruang tamu bersama. Tidak ada tuntutan untuk terus bergerak atau berbelanja. Cukup hadir, duduk, dan berbagi waktu. Inilah yang membuat banyak pengunjung enggan beranjak, meski ruang semakin padat.
Keramaian ini menciptakan kesan kota yang hidup. Alun-alun masih menjadi denyut Kota Batu, terutama menjelang libur Natal dan Tahun Baru. Namun, tantangan ini bukan hal baru. Wajah Alun-alun Kota Batu hari ini merupakan hasil dari perjalanan panjang yang terus berubah seiring waktu.
Sejarah Alun-alun Kota Batu
Berdasarkan catatan sejarah, yang dilansir dari jurnal UMM, pada 1950-an kawasan ini dikenal sebagai Alun-alun Tugu, sebelum beralih menjadi pasar seiring meningkatnya kebutuhan ruang ekonomi warga.
Perubahan terus terjadi hingga kebakaran pasar menyisakan lahan kosong. Pemerintah Kabupaten Malang membangun Alun-alun Batu pada 1984, ketika Kota Batu masih berstatus kecamatan.
Transformasi terbesar terjadi pada tahun 2011, saat kawasan ini dikembangkan menjadi Alun-alun Kota Wisata Batu, dan diposisikan sebagai ikon kota sekaligus destinasi wisata utama.
Seiring perkembangan Kota Batu sebagai kota wisata, pengelolaan alun-alun pun terus berubah. Awalnya, pengelolaan melibatkan masyarakat dan organisasi kemasyarakatan.
Namun, pada 2020, di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Batu mengambil alih pengelolaan karena keterbatasan perawatan dan kerusakan sejumlah fasilitas. Sejak itu, Dinas Lingkungan Hidup bertanggung jawab atas taman, area bermain, bianglala, serta kebersihan kawasan alun-alun
Selain sebagai ruang terbuka dan area rekreasi, alun-alun juga tumbuh sebagai pusat kuliner. Pasar kuliner di sisi barat alun-alun menjadi ruang hidup bagi pedagang kaki lima, meski tak lepas dari persoalan penataan dan relokasi.
