Begini Cara BDRT Petakan Kebutuhan Korban Bencana

Begini Cara BDRT Petakan Kebutuhan Korban Bencana

Diky Kurniawan Arief - detikJatim
Sabtu, 03 Okt 2026 18:20 WIB
BDRT
BDRT (Foto: Diky Kurniawan Arief/detikJatim)
Surabaya -

Bonek Disaster Response Team (BDRT) memiliki mekanisme khusus sebelum mengirim personel maupun bantuan ke wilayah terdampak bencana. Tim assessment diterjunkan lebih dahulu untuk memetakan kondisi di lapangan dan mengetahui kebutuhan masyarakat.

Tim tersebut bertugas mengumpulkan data mengenai tingkat dampak bencana, jumlah korban dan pengungsi, hingga kebutuhan yang paling mendesak di lokasi. Hasil assessment kemudian menjadi acuan BDRT untuk menentukan bantuan yang akan dikirim.

"Kalau sebelum mau operasi itu ada namanya tim assessment yang berangkat dulu sebelum rombongan utama. Tim assessment diberangkatkan lebih dahulu untuk mencari data. Jadi di mana tempatnya yang terdampak parah, terus jumlah korban ini berapa, jumlah pengungsi berapa, terus kebutuhan medis atau kebutuhan prioritasnya itu apa," kata Anggota Tim SAR BDRT, Bryan Putra Perdana kepada detikJatim, Sabtu (3/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Data yang diperoleh dari lapangan selanjutnya disampaikan kepada posko BDRT di Surabaya. Tim di posko kemudian mengolah informasi tersebut untuk menentukan jenis bantuan, jumlah kebutuhan, hingga waktu pengiriman ke lokasi bencana.

"Tapi kita sampaikan ke posko yang ada di Surabaya. Jadi di posko ini mengolah kebutuhan teman-teman di lapangan, terus targetnya itu berapa hari untuk didorong lagi ke lapangan, sesuai kebutuhan teman-teman di lapangan," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Mekanisme tersebut diterapkan karena kebutuhan korban bencana dapat berbeda di setiap wilayah. BDRT tidak ingin bantuan yang dikirim hanya berdasarkan perkiraan dari Surabaya, melainkan berdasarkan kondisi nyata yang ditemukan langsung oleh tim di lapangan.

Dalam operasi Sumatera, misalnya, assessment membuat BDRT menemukan kebutuhan pangan tertentu yang tidak dapat dipenuhi hanya dengan sembako. Kondisi banjir dan longsor membuat masyarakat juga membutuhkan bahan makanan segar serta peralatan untuk memasak.

"Nah kalau di Sumatera kemarin itu, di Tapanuli yang kebutuhannya itu sayur-sayuran. Soalnya kebanyakan orang yang terdampak itu sembako. Sembako yang keras, terus bumi, yang lain-lain. Nah kalau di bencana banjir atau longsor, kalau sembako banyak, tapi masalahnya sayur enggak ada," kenangnya.

Setelah kebutuhan dipetakan, bantuan kemudian disesuaikan dengan kondisi masyarakat. BDRT menyebut bantuan yang diberikan dapat berupa bahan pangan maupun peralatan yang diperlukan warga untuk bertahan setelah bencana.

"Jadi kita kasih kepada warga yang terdampak, kita kasih alat masak sama sayur-sayuran juga. Jadi kita support terus kebutuhannya. Sambil kita kasih tahu, ini bertahan berapa hari, terus kalau habis bagaimana untuk mencari lagi," ujarnya.

Pola assessment tersebut juga diterapkan BDRT dalam operasi NTT. Tim terlebih dahulu mencari kebutuhan prioritas sebelum menentukan bentuk intervensi, termasuk ketika menemukan persoalan air bersih di Desa Wudi, Manggarai.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads