Bonek Disaster Response Team (BDRT) membantu memulihkan akses air bersih warga Desa Wudi, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui program pipanisasi. Bantuan tersebut diberikan setelah tim menemukan persoalan air bersih menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak masyarakat di wilayah tersebut.
"Kalau sebelum mau operasi itu ada namanya tim assessment yang berangkat dulu sebelum rombongan utama. Tim assessment diberangkatkan lebih dahulu untuk mencari data. Jadi di mana tempatnya yang terdampak parah, terus jumlah korban ini berapa, jumlah pengungsi berapa, terus kebutuhan medis atau kebutuhan prioritasnya itu apa," kata Bryan Putra Perdana, anggota Tim SAR BDRT.
Krisis air bersih di wilayah tersebut berkaitan dengan rusaknya sistem pengaliran air yang sebelumnya pernah dibangun. Menurut BDRT, jaringan air terakhir dibangun pada 1992, sebelum gempa pada tahun berikutnya membuat sumber air bergeser dan saluran yang digunakan masyarakat terputus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi terakhir air bersih itu tahun 1992. Tahun 1992 itu dibangun oleh Australian Aids untuk warga Desa wudi. Nah, di situ memang enggak ada sumber air di sini, karena sumbernya ini di bawah dan desanya di atas," ujarnya pada (29/09/2026).
Setelah gempa, warga disebut tidak lagi mendapatkan air bersih dari jaringan tersebut sebab terputus akses airnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga harus mengambil air dari sumber yang berada lebih rendah dari permukiman. Kondisi itu juga berdampak pada anak-anak yang harus membawa air ketika berangkat maupun pulang sekolah.
"Mulai tahun 1993 warga Desa Budi ini tak mendapat air bersih. Mereka turun ke bawah. Setiap hari mereka turun, anak-anak kalau sekolah itu berangkat turun, bawa air, pulang sekolah juga bawa air," katanya.
Program pipanisasi kemudian menjadi bagian dari bantuan BDRT setelah kebutuhan air bersih ditetapkan sebagai prioritas. Berdasarkan keterangan dalam wawancara, penggalangan dana dilakukan melalui jaringan Bonek dan relawan di Surabaya. Donasi yang terkumpul untuk program kemanusiaan tersebut disebut mencapai sekitar Rp134.127.065 jutaan.
"Jadi untuk di NTT kemarin jumlahnya itu 100 jutaan lebih. Jumlah yang terkumpul itu dibagi untuk pipanisasi air bersih," kenang Bryan.
Selain pipanisasi, dana dan bantuan yang dihimpun Bonek juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lainnya. BDRT menyebut bantuan mencakup sembako, beras, perlengkapan sekolah, mainan, hingga jersey untuk anak-anak.
"Terus kita juga sembako, kita juga beli beras 2 ton untuk 4 desa ini. Terus kita memberi alat-alat sekolah, perlengkapan sekolah buat adik-adik yang terdampak. Kita juga beli mainan, beli jersey untuk menghibur adik-adik ini," katanya.
Program pipanisasi tersebut kemudian diarahkan agar warga kembali memiliki akses terhadap air tanpa harus terus bergantung pada bantuan logistik. Sumber lain juga mengonfirmasi bahwa BDRT27 menyelesaikan perbaikan instalasi air di Desa Wudi pada September 2026 setelah krisis air yang berlangsung sejak gempa 1992.
