Aksi penimpaan mural ikonik Malang The Glory Land di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang, demi promosi agenda Festival Mbois 11 memicu gelombang kritik tajam. Termasuk dari Pemkot Malang.
Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin secara terbuka menyayangkan langkah sepihak kelompok komunitas yang dinilai mencederai semangat saling menghargai sesama pelaku industri kreatif di Kota Malang.
Mural legendaris yang memuat nilai historis karya almarhum Heri Sucahyo alias Sam Nyek sejak 2016 tersebut mendadak ditimpa tulisan Malang Menyala Bersama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah promosi tersebut memantik keriuhan di kalangan masyarakat luas, khususnya Aremania dan pegiat seni lokal yang memiliki ikatan emosional kuat terhadap karya asli tersebut.
Ali Muthohirin menegaskan bahwa kebebasan berekspresi di ruang publik hendaknya tidak diiringi sikap merasa paling berhak.
Penghapusan karya yang sudah menjadi bagian dari identitas kota hanya demi kepentingan promosi acara yang bersifat sementara dipandang sebagai bentuk tindakan arogansi.
"Sebagai insan kreatif di Kota Malang, kita harus saling menghargai roda karya kreativitas yang ada. Siapapun tidak berhak bersifat arogan, mengganti atau menghapus karya yang ada di Kota Malang, apapun itu," ujar Ali saat ditemui wartawan, Jumat (21/8/2026).
Ali juga mengklarifikasi keterlibatan pemerintah daerah guna menghindari salah persepsi di tengah publik. Ia memperjelas bahwa kegiatan Festival Mbois 11 murni diinisiasi oleh komunitas.
Sementara jajaran Pemkot Malang sebatas memberikan dukungan fasilitasi tempat dan ruang gerak bagi anak muda.
"Apalagi hanya untuk kepentingan event sementara. Yang harus kami garis bawahi, itu bukan event Pemkot Malang. Pemkot cuma diminta memfasilitasi agenda. Yang kita sayangkan adalah cara untuk mempromosikan kok begitu," ungkapnya.
Ali menekankan pentingnya membangun dialog terbuka apabila terdapat perbedaan pandangan atau kebutuhan ruang kreatif di kawasan perkotaan.
Menurut Ali, sinergi antarkomunitas seharusnya dibangun melalui komunikasi yang sehat, bukan dengan mengorbankan karya seni yang sudah berdiri lama.
"Sikap sebuah kreativitas harus dihargai semuanya. Harus bisa tetap diskusi. Setiap karya, sekecil apa pun, siapa pun yang berkarya harus dihargai," tegas Ali.
"Jangan segelintir sekelompok orang merasa paling kreatif, kemudian tidak menghargai kreativitas yang lain. Ini tidak boleh ada arogansi seperti ini," sambungnya.
Meski menyayangkan insiden tersebut, Ali memastikan bahwa Pemkot Malang tetap membuka pintu bagi pengembangan potensi anak muda dan mendukung keberlangsungan Festival Mbois 11.
Pemerintah menegaskan sikap tidak akan menghambat iklim kreatif, sembari mengingatkan agar iklim saling menghargai tetap dijunjung tinggi.
"Acara itu beberapa hal kita fasilitasi, kita permudah. Termasuk membantu. Karena ada kreativitas anak muda, ya sudah kita fasilitasi. Cuma ini antar kelompok kreativitas. Saya berpesan itu, saling menghargai karya masing-masing. Kita juga tidak menghalangi setiap event yang menampilkan kreativitas," pungkasnya.
Cat bertulis Malang Menyala Bersama kini telah ditutup warna biru oleh sejumlah orang yang menjadi bagian dari panitia Festival Mbois 11.
Mereka juga memasang banner untuk menegaskan bahwa mural Malang The Glory Land akan dibuat kembali. Selain menyampaikan permintaan maaf terbuka, karena telah menimpa mural sebelumnya ada.
