Di balik polesan cat baru bertuliskan 'Malang Menyala Bersama' tersimpan cerita berharga yang kini resmi tertutup. Dinding yang dulu dihiasi mural legendaris 'Malang The Glory Land' karya almarhum Heri Sucahyo alias Sam Nyek bukan sekadar lukisan jalanan biasa.
Mural tergambar pada dinding salah satu bangunan di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang dibuat sekitar tahun 2016 itu memuat pesan mendalam tentang persatuan warga Malang yang kini perlahan hilang dari ruang publik.
Sahabat almarhum Sam Nyek Andi F Sinyo mengungkapkan bahwa karya tersebut lahir saat dunia sepakbola di Malang tengah dihantam isu dualisme. Di tengah situasi yang memanas dan memecah belah warga, Sam Nyek secara sadar memilih diksi yang inklusif untuk menyatukan semua pihak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa nggak ditulis 'Arema The Glory Land'? Dia memilih diksi 'Malang', timbang 'Arema'," ujar Sinyo kepada wartawan, Jumat (21/8/2026).
Pilihan kata tersebut membuktikan bahwa sang seniman sengaja menekan ego demi kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Bagi Sinyo, mural tersebut bukan sekadar identitas kelompok supporter, melainkan sebuah seruan moral agar masyarakat Kota Malang kembali bergandengan tangan menatap masa depan.
"Dia meletakkan egonya dan melihat kepentingan yang lebih luas. Malang ini sudah banyak peristiwa, banyak kejadian yang membuat semuanya pecah belah. Dia ingin spirit Malang itu kembali seperti dulu, Malang Tanah Kejayaan," jelas Sinyo.
Ia menegaskan bahwa pesan utama dari mural tersebut diperuntukkan bagi seluruh lapisan masyarakat, baik pencinta sepak bola maupun warga biasa. Nilai historis dan kultural inilah yang dinilai ikut lenyap ketika karya seni tersebut ditimpa dengan lukisan baru.
"Pesannya buat wong Malang, ayo rukun. Ayo rukun karena Malang ini tanah kejayaan. Yang harus kita perjuangkan bersama," tegasnya.
Hilangnya mural legendaris ini diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga bagi banyak pihak.
Sinyo mengingatkan pentingnya menghargai karya seni di ruang publik yang membawa rekam jejak sejarah serta nilai sosial tinggi bagi warga lokal.
"Kecewa boleh, tapi kita juga harus melihat bagaimana respons dan tanggung jawabnya," pungkas Sinyo.
(hil/abq)
