Turnamen sepak bola yang diikuti 400 talenta muda dari 16 provinsi, Soekarno Cup 2026 terus memperkuat standar penyelenggaraan turnamen dengan menghadirkan perangkat pertandingan berkualitas dan mengedepankan prinsip netralitas.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah penggunaan wasit Liga 1 serta penerapan teknologi Video Assistant Referee (VAR) pada babak semifinal dan final.
"Kebijakan tersebut menjadi bagian penting dari upaya panitia menjaga obyektivitas pertandingan sekaligus memastikan setiap laga berlangsung secara profesional, transparan, dan menjunjung tinggi sportivitas," ujar Pengarah Panitia Soekarno Cup, Deni Wicaksono, Jumat (21/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Soekarno Cup 2026 telah memasuki babak semifinal. Di mana Banteng Jawa Timur akan menghadapi Banteng Bali. Di pertandingan semifinal lain akan mempertemukan Banteng Papua melawan Banteng Jawa Barat. Babak semifinal akan diselenggarakan hari ini.
Deni mengatakan, dengan peserta yang datang dari berbagai daerah, kualitas dan independensi perangkat pertandingan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kredibilitas turnamen.
Pendekatan teknologi ini diharapkan membantu mengurangi dampak kesalahan keputusan pada momen-momen krusial, seperti dalam situasi gol, penalti, kartu merah langsung, serta kesalahan identitas pemain.
"Penggunaan VAR pada fase akhir turnamen juga memiliki nilai strategis. Semifinal dan final merupakan pertandingan dengan tekanan tinggi sehingga keputusan perangkat pertandingan dapat memiliki dampak besar terhadap hasil kompetisi. Kehadiran teknologi pendukung memberikan lapisan pengawasan tambahan agar keputusan penting dapat diambil berdasarkan fakta pertandingan," ujar Deni Wicaksono.
Namun, VAR bukan berarti menggantikan peran wasit. Teknologi tersebut tetap menjadi alat bantu bagi wasit untuk mengambil keputusan secara lebih akurat. Karena itu, kombinasi antara wasit yang profesional, perangkat pertandingan yang netral, dan teknologi pendukung menjadi formula penting untuk membangun pertandingan yang obyektif.
Deni menjelaskan, bagi Soekarno Cup, peningkatan kualitas perangkat pertandingan bukan sekadar persoalan teknis pertandingan. Dari perspektif pembinaan, pengalaman bertanding dalam kompetisi dengan standar penyelenggaraan yang semakin profesional memiliki nilai yang besar.
"Pemain tidak hanya belajar mengenai teknik dan taktik, tetapi juga belajar menghadapi tekanan pertandingan, menghormati keputusan perangkat pertandingan, menjaga disiplin, dan memahami pentingnya fair play," ujarnya.
Karena itu, lanjut Deni, penggunaan wasit berkualitas dan VAR dapat dipandang sebagai investasi jangka panjang. Pemain-pemain muda yang tampil di Soekarno Cup bukan hanya dipersiapkan untuk menjadi pesepak bola yang memiliki kemampuan teknis, tetapi juga dibentuk untuk memahami budaya kompetisi yang sehat dan profesional.
"Dengan menghadirkan teknologi VAR pada semifinal serta final, Soekarno Cup 2026 menunjukkan keseriusan untuk terus meningkatkan standar kompetisinya. Lebih jauh, langkah tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan sepak bola usia muda membutuhkan ekosistem yang profesional, obyektif, transparan, dan berorientasi pada masa depan. Ini komitmen kita bersama," pungkas Deni Wicaksono.
(faa/hil)
