Rapuhnya lini pertahanan menjadi salah satu faktor yang membuat proses transformasi Arema FC pada musim 2025/2026 belum berjalan maksimal. Meski sempat menunjukkan tren positif di awal kompetisi, Singo Edan kesulitan menjaga konsistensi performa sepanjang musim.
Pada awal musim, Arema sempat tampil menjanjikan dengan permainan yang cukup kompetitif. Namun, memasuki pekan kelima putaran pertama kompetisi, performa tim mulai menurun. Situasi tersebut dipengaruhi oleh absennya beberapa pemain inti yang membuat keseimbangan tim terganggu.
Memasuki putaran kedua BRI Super League, kedatangan sejumlah pemain baru sempat memberi harapan bagi kebangkitan Arema. Nama-nama seperti Gabriel Silva, Gustavo Franca, Hansamu Yama, dan Joel Vinicius langsung dipercaya menjadi bagian penting dalam skema permainan tim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kehadiran mereka juga berdampak pada komposisi pemain lama. Beberapa pemain senior seperti Dendi Santoso, Johan Alfarizi, hingga Dedik Setiawan harus rela lebih sering memulai pertandingan dari bangku cadangan.
Namun, tren positif yang sempat muncul di awal putaran kedua tidak berlangsung lama. Arema kembali menghadapi kendala absennya sejumlah pemain kunci yang mempengaruhi stabilitas tim.
Di sisi lain, lini depan Singo Edan sebenarnya cukup produktif dalam menciptakan peluang. Sayangnya, sektor pertahanan justru menjadi titik lemah yang kerap dimanfaatkan oleh lawan untuk mencetak gol.
Baca juga: 4 Laga Beruntun Arema FC Tanpa Kemenangan |
Kondisi tersebut semakin terasa setelah absennya dua pemain penting di lini belakang, yakni Luis Gustavo dan Walisson Maia.
Luis Gustavo harus menepi setelah mengalami cedera ligamen lutut atau ACL pada Januari lalu dan menjalani operasi. Sementara itu, Walisson Maia mengalami patah tulang fibula saat Arema bertandang ke markas Borneo FC.
Absennya dua bek tersebut membuat lini pertahanan Singo Edan kehilangan stabilitas. Situasi ini menjadi salah satu penyebab mengapa proses pembenahan tim Arema FC musim ini belum dapat berjalan secara sempurna.
