Ichsas Baihaqi, gelandang muda Persebaya, merintis mimpi sepak bolanya di SSB Surabaya Bersatu, Karang Pilang. Dari SSB tersebut, perjalanan sepak bolanya bermula.
Icas, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa dulu ia sering diantar oleh bapak atau kakak dari rumahnya di Kecamatan Taman ketika hendak berangkat untuk berlatih di SSB Surabaya Bersatu.
"Waktu itu diajak teman-teman ikut SSB. Dulu pertama ikut SSB Surabaya Bersatu di Karang Pilang. Keluarga selalu mendukung terus, dulu latihan sering diantar bapak atau kakak," tutur Icas pada detikJatim, Rabu (4/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar tahun 2021, penempaan keterampilan sepak bola Icas berlanjut di PS AL, salah satu klub internal Persebaya. Kerja sama yang dijalin oleh SSB Surabaya Bersatu membawanya menjadi bagian PS AL.
Di PS AL, Icas merasakan kompetisi yang telah melahirkan banyak pemain berbakat, Liga Internal Persebaya.
"Terus setelah itu karena SSB Surabaya Bersatu ga ikut klub internal, lalu menjalin kerja sama dengan PS AL, saya ikut PS AL. Itu saat 2021, pas usia saya 14 tahun," imbuhnya.
Keberadaannya di PS AL membawa Icas pada babak baru. Potensi yang ia miliki mulai terpantau radar Persebaya ketika EPA U-16 Bajul Ijo beruji coba dengan PS AL.
Setelah laga uji coba tersebut, ia diajak untuk bergabung latihan hingga akhirnya lolos menjadi bagian EPA U-16 Bajul Ijo. Langkah Icas menuju mimpi untuk membela Persebaya perlahan tertapaki.
"Waktu itu ada sparing PS AL kontra EPA Persebaya U-16. Pas di uji coba itu saya main gelandang. Waktu itu saya kepantau, lalu disuruh ikut latihan terus di EPA U-16, habis itu ternyata saya lolos di EPA U-16," jelasnya.
Sebelum pada akhirnya masuk dalam skuad EPA U-16 Persebaya, Icas pernah merasakan pedihnya gagal seleksi. Ia menangis meratapi namanya tak masuk dalam pantauan.
"Dulu pernah nangis kayak sedih gitu waktu ga kepilih seleksi EPA U-16. Pernah sedih ga kepantau seleksi," ungkapnya.
Sebagai seorang gelandang yang mahir mengatur serangan dan mengalirkan bola, posisi lain pernah dijajalnya semasa SSB. Di kompetisi usia dini yang berlaga di arena berukuran setengah lapangan, Icas pernah menjadi seorang pemain sayap.
"Sebelum gelandang, dulu waktu main lapangan kecil di SSB saya main sayap," terangnya.
Icas menambahkan bahwa Kevin De Bruyne, gelandang Timnas Belgia dan mantan Kapten Manchester City, menjadi pemain yang dikaguminya. Ketika bermain bola, ia sering beranda-andai di lapangan seolah-olah dirinya adalah De Bruyne.
"Waktu kecil pemain idola saya Kevin De Bruyne, dulu saya sering bayangin seakan-akan saya itu dirinya kalau di lapangan," lanjutnya.
Rangkaian fase yang ditapaki Icas kini membawanya ke panggung tertinggi sepak bola nasional bersama Persebaya Surabaya. Perasaan bahagia dan motivasi tinggi menyertainya ketika bisa membela tim yang ketika kecil ia impikan.
"Senang dan bangga karena bisa membela tim impian waktu kecil. Senang, motivasi tinggi, dan lebih semangat lagi," pungkas Icas.
