Persebaya Sebagai Octopus's Garden Sadida Putra

Super League

Persebaya Sebagai Octopus's Garden Sadida Putra

Dimas Linang Jati Pratondo - detikJatim
Senin, 26 Jan 2026 10:30 WIB
Persebaya Sebagai Octopuss Garden Sadida Putra
Sadida Putra Nugraha ketika membela klub kebanggaannya sejak kecil, Persebaya Surabaya.(Foto: Dok Persebaya Surabaya)
Surabaya -

"I'd like to be under the sea..."

Kalimat itu membuka Octopus's Garden milik The Beatles dengan nada yang hampir tak menuntut apa pun. Bukan tentang obsesi untuk dilihat atau berdiri di depan sorotan. Hanya keinginan untuk berada di tempat yang tenang sembari menempa diri.

Sadida Putra menjalani musim pertamanya bersama Persebaya Surabaya dengan perasaan yang barangkali serupa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"In an octopus's garden in the shade."

Ia bukan pemain yang datang dari jauh, membawa mimpi kota lain. Sadida adalah arek Surabaya, besar di Siwalankerto, tumbuh dengan cerita-cerita Persebaya di sekitarnya. Ia mendukung Bajul Ijo sejak kecil, jauh sebelum mengenakan seragam klub kebanggaannya.

ADVERTISEMENT

Di lapangan, peran Sadida sering kali tak tercatat dalam statistik mencolok. Ia bekerja tanpa peduli sorot kamera, di antara garis tengah lapangan. Di sela-sela tekanan.

Sadida memahami itu. Musim pertamanya bukan tentang menjadi pusat permainan, bukan pula tentang memaksakan diri sebagai penentu hasil. Ia hadir dengan cara yang lebih sunyi. Bermain ketika dibutuhkan, menjaga ritme, menutup ruang. Selebihnya, ia belajar.

"We would be warm below the storm."

Persebaya bukan klub kecil yang tanpa tekanan. Setiap pemain, terlebih yang asli Surabaya, membawa beban ganda: ekspektasi publik dan rasa memiliki. Kesalahan kecil bisa terasa lebih berat karena dilakukan di hadapan kota sendiri.

Bermain di hadapan publik sendiri, terlebih sebagai pemain lokal, berarti setiap langkah diawasi lebih dekat. Sadida memikul beban itu bukan hanya sebagai pemain profesional, tetapi sebagai arek Suroboyo yang tumbuh dengan kebanggaan terhadap Persebaya.

"We would sing and dance around, because we know we can't be found."

Ada kebahagiaan kecil dalam Octopus's Garden. Kebahagiaan sebab berada di tempat yang tepat, meski tidak selalu terlihat. Sadida belum menjadi pusat permainan, belum menjadi nama yang dielu-elukan. Tapi ia ada, bertumbuh di sana.

Ada sesuatu yang personal ketika pemain lokal membela klub kotanya. Kemenangan terasa lebih dalam, sementara kekalahan membekas perih. Sadida membawa semua itu ke lapangan. Ia bermain bukan hanya untuk kontrak atau menit bermain, tapi untuk mimpi masa kecil yang perlahan menjadi kenyataan.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads