Di antara deretan lapak pedagang kaki lima yang mengelilingi Alun-Alun Nganjuk, Sabtu malam (11/4/2026), ada satu lapak yang menarik perhatian.
Jika yang lain berjualan jajanan populer dan makanan kekinian, lapak ini justru menjajakan kue yang tampilannya berbeda. Bentuknya panjang seperti lontong tapi lebih pipih. Bungkusnya dari pelepah pinang yang dijahit tali di kedua ujungnya. Saat dibuka, isinya kue basah yang sekilas mirip dodol. Warnanya cokelat kemerah-merahan.
"Ini namanya dumbleg, Mas," ujar Parmi (50), si penjual kue pada Sabtu (11/4/2026) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dumbleg adalah jajanan tradisional asli Nganjuk. Sangat otentik dan tidak ada di daerah lain. Produksinya hanya ada di Dusun Ngemplak, Desa Gondangkulon, Kecamatan Gondang. Sudah turun-temurun sejak era kolonial tahun 1940-an.
Parmi sendiri berasal dari dusun tersebut. Ia meneruskan usaha ibunya, Paijem yang dahulu juga memproduksi dumbleg.
"Saya jatuhnya generasi keempat. Dari nenek buyut dulu sudah bikin dumbleg," ungkap Parmi.
Saat ini, hanya segelintir orang di dusun tersebut yang masih mempertahankan tradisi membuat dumbleg. Tempat menjualnya juga sangat spesifik. Yakni hanya di Pasar Gondang setiap hari pasaran Pon (penanggalan Jawa) dan di Pasar Rejoso setiap Kliwon.
"Jadi memang tidak setiap hari jualan, ada hari-hari tertentu," imbuh Parmi.
Kondisi ini membuat kue dumbleg semakin hari semakin langka. Orang-orang juga jarang membeli.
Parmi, penjual dumbleg di alun-alun Nganjuk Foto: Bakrie/detikJatim) |
Tak ingin kue warisan leluhurnya itu punah, Parmi pun berinisiatif membuka lapak dumbleg di Alun-Alun Nganjuk.
"Sejak corona (Covid-19), tahun 2020, saya mulai jualan di Alun-Alun Nganjuk. Dulunya saya kerja di pabrik," ungkap Parmi.
Di alun-alun, Parmi biasanya berjualan pada Sabtu malam dan Minggu pagi saat event car free day.
"Biar orang kota dan anak-anak muda juga mengenal dumbleg," ujarnya.
Sebungkus dumbleg buatannya dijual Rp 15 ribu. Beberapa pelanggannya membeli untuk cemilan di rumah, atau dijadikan oleh-oleh ke luar kota.
Hal lain yang membuat dumbleg semakin langka, menurut Parmi adalah proses pembuatannya yang tidak sederhana. Bahan bakunya adalah tepung beras, santan kental, gula jawa atau gula pasir, dan garam. Serta, pelepah pinang atau daun jambe dan tali untuk membungkus.
Bahan baku yang telah menjadi adonan dumbleg, kemudian dituang ke dalam bungkus pelepah pinang, dengan menyisakan sedikit ruang agar kue mengembang.
"Adonan dumbleg kemudian dikukus, disusun di dalam kukusan panci besar lalu kukus selama kurang lebih satu sampai dua jam," ujar Parmi.
Total lama produksi dumbleg dari bahan baku hingga siap saji sekitar 4 jam.
Menurut Parmi, biasanya ada dua varian warna dan rasa dumbleg. Yakni dumbleg merah berbahan gula merah yang dominan manis. Serta, dumbleg putih berbahan gula pasir yang memiliki citarasa lebih gurih.
"Dumbleg ini tidak menggunakan pengawet, jadi yang daya tahannya paling lama sampai 3 hari," pungkas Parmi.
(ihc/dpe)

