Makna Kolak yang Identik Jadi Takjil Ramadhan

Muhammad Faishal Haq - detikJatim
Sabtu, 21 Feb 2026 16:45 WIB
Ilustrasi kolak untuk takjil buka puasa Ramadhan. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Momen buka puasa rasanya belum lengkap tanpa kehadiran kolak di meja makan. Sajian bersantan dengan aroma pandan yang khas ini seolah menjadi menu takjil yang selalu diburu masyarakat begitu bulan Ramadhan tiba.

Namun, di balik rasa manis yang mengenyangkan, terdapat makna yang tersimpan di dalamnya. Mulai dari nama kolak itu sendiri hingga isian dalam kolak, menyimpan sejarah dan filosofi mendalam yang menjadikan kuliner ini begitu melekat dengan tradisi puasa di nusantara.

Makna Kolak Takjil Buka Puasa Ramadhan

Mengutip buku "Belajar dari Makanan Tradisional Jawa" karya Dawud Achroni, keberadaan kolak tidak bisa dipisahkan dari strategi penyebaran Islam di tanah Jawa. Para ulama terdahulu, khususnya Wali Songo, dikenal cerdas dalam menggunakan budaya lokal sebagai media dakwah, dan kuliner adalah salah satunya.

Konon, kolak kerap disajikan para ulama saat mengadakan perkumpulan warga atau kenduri. Melalui sajian yang lezat ini, pesan-pesan kebaikan disisipkan secara halus.

Secara etimologi, nama "kolak" diyakini berasal dari bahasa Arab "khalaqa", yang berarti menciptakan, atau "khaliq" yang bermakna Sang Pencipta. Penamaan ini bukan tanpa alasan. Tujuannya sebagai pengingat agar manusia senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Filosofi ini sangat relevan dengan suasana Ramadhan, di mana umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah, mengendalikan hawa nafsu, dan mempererat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Makna Isian Kolak

Kecermatan para ulama masa lalu juga terlihat dari pemilihan isian kolak. Setiap komponen dalam semangkuk kolak memiliki makna simbolis dalam bahasa Jawa. Berikut makna isian kolak dan filosofinya.

  • Pisang Kepok: Jenis pisang ini sering diplesetkan dengan kata "kapok", yang berarti jera. Ini adalah pesan agar manusia bertaubat dan tidak mengulangi dosa-dosa di masa lalu.
  • Ubi (Telo): Ubi yang tumbuh di dalam tanah (polo pendem) dimaknai sebagai anjuran bagi umat Islam untuk mengubur dalam-dalam kesalahan yang pernah diperbuat ( mendem jero).
  • Santan: Dalam bahasa Jawa, santan disebut "santen", yang merupakan akronim dari "sing salah nyuwun pangapunten" (yang salah memohon maaf).

Jadi, menyantap kolak adalah momen refleksi untuk mengingat Tuhan, bertaubat dari dosa, mengubur kesalahan lama, dan saling memaafkan sesama manusia.

Jadi, menyantap kolak bukan sekadar menikmati sajian manis setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Di dalamnya tersimpan pesan refleksi mengingat Sang Pencipta, bertaubat dari dosa, mengubur kesalahan masa lalu, hingga saling memaafkan sesama manusia.

Namun, muncul satu pertanyaan yang kerap terdengar setiap Ramadhan, benarkah umat Islam dianjurkan berbuka dengan makanan manis? Banyak orang mengaitkan tradisi menyantap kolak saat buka puasa dengan anggapan Rasulullah SAW menyarankan berbuka dengan yang manis-manis. Bagaimana sebenarnya?

Kolak dan Anjuran Berbuka dengan yang Manis

Salah satu kalimat yang sering menjadi acuan umat Islam ketika berbuka adalah "berbukalah dengan yang manis-manis". Namun, kalimat tersebut bukan merupakan anjuran atau sunah Nabi Muhammad SAW secara langsung.

Dikutip dari laman NU Online, tidak ada hadis yang secara eksplisit berbunyi "berbukalah dengan yang manis" atau yang mendekati makna tersebut, baik dalam kitab hadis maupun kitab fikih. Salah satu hadis yang kerap disalahartikan adalah riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, dan at-Tirmidzi berikut.

عن أنس بن مالك قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل ان يصلى فان لم يكن رطبات فتمرات فان لم يكن تمرات حسا حسوات من ماء رواه أحمد وأبو ظاود والترمذي

Artinya: Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa kurma matang dan basah (ruthab) sebelum melaksanakan shalat. Kalau tidak ada kurma basah, maka Rasulullah SAW berbuka dengan kurma kering (tamr). Bila tidak ada kurma kering, beliau meminum beberapa teguk air." (HR Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi).

Anjuran memakan kurma saat berbuka selain untuk mengamalkan sunah Rasulullah SAW, kurma mengandung zat (manis) yang dapat memulihkan fungsi anggota tubuh yang berkurang saat puasa.

Namun, bukan berarti semua makanan atau minuman yang manis merupakan anjuran dari Nabi. Menurut pendapat al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar al-Masyhur (Allaamah Hadhramaut), dalam Bughyatul Mustarsyidin 185:

فائِدةٌ : يُسَنُّ لِمَنْ لَمْ يُفْطِرْ على تَمْرٍ أنْ يُفْطِرَ على الماء وكونهُ ماءَ زَمْزَمَ أولى وَبَعْدَهُ الحلوُ وهو ما لمْ تمسُّهُ النَّارُ كالزَّبيبِ والعسلٍ واللّبنِ وهو أفضلُ من العسلِ واللّحمُ أفضلُ منهما ثُمَّ الحلوى المعمولةُ بالنَّارِ

Artinya: Sunah berbuka dengan air bagi orang yang tidak berbuka dengan kurma. Air yang paling utama adalah air zam-zam, kemudian sesuatu yang manis yang tidak dimasak dengan api. Seperti anggur, madu, susu yang mana lebih baik dari madu, dan daging yang lebih baik dari keduanya. Kemudian makanan manis yang dimasak dengan api."

Artinya, kolak tetap diperbolehkan dan baik, namun posisinya sebagai "sunah" berada di urutan setelah kurma dan air putih. Jika ingin mendapatkan kesunahan maksimal, disarankan membatalkan puasa dengan air putih atau kurma terlebih dahulu, baru kemudian menyantap kolak.

Manfaat Kolak untuk Takjil Ramadhan

Terlepas dari makna dan sisi religiusnya, kolak memang juara soal mengembalikan energi. Setelah berpuasa kurang lebih 13-14 jam, kadar gula darah dalam tubuh (glukosa) akan menurun drastis, yang seringkali menyebabkan rasa lemas dan kantuk.

Dilansir dari detikFood, tubuh membutuhkan asupan glukosa cepat untuk menormalkan kembali gula darah. Di sinilah peran kolak. Rasa manis dari gula aren dan karbohidrat dari pisang atau ubi mampu memberikan suplai kalori instan.

Sensasi manis ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi membantu menyegarkan tubuh dan pikiran setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Maka tak heran jika kolak dengan segala makna dan manfaatnya, tetap menjadi primadona takjil yang tak tergantikan di hati masyarakat Indonesia.

Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.



Simak Video "Video: Aturan Buka Puasa di Transjakarta, KRL, MRT dan LRT"

(hil/irb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork