Buah-buahan dikenal sebagai sumber penting vitamin dan antioksidan yang dibutuhkan tubuh. Di tengah kekayaan hayati Indonesia, terdapat buah langka bernama namnam (Cynometra cauliflora L.) yang masih dapat dijumpai di wilayah Ponorogo, Jawa Timur.
Buah unik ini tidak hanya menawarkan rasa segar, tetapi mengandung beragam senyawa bioaktif yang bermanfaat, terutama untuk kesehatan kulit. Bagi detikers yang tertarik dengan keanekaragaman hayati lokal, buah namnam menghadirkan pengalaman rasa asam manis yang khas.
Selain menyegarkan, buah ini menyimpan khasiat yang telah dikenal sejak lama dalam tradisi masyarakat. Berikut ulasan lengkap mengenai buah namnam, mulai dari sejarah hingga kandungan nutrisinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Buah Namnam
Secara botani, buah namnam berasal dari Asia Tenggara Maritim, yang diperkirakan mencakup Semenanjung Malaya (Malaysia) serta wilayah Indonesia, khususnya Sumatra dan Jawa. Dari wilayah asalnya tersebut, tanaman namnam menyebar ke berbagai daerah tropis lain seperti Filipina, Thailand, hingga India.
Berbeda dengan buah komersial pada umumnya, namnam tidak dibudidayakan secara massal. Tanaman ini lebih sering tumbuh sebagai tanaman pekarangan atau tanaman hias karena bentuk pohonnya yang unik dan buahnya yang dapat diolah menjadi berbagai sajian.
Di Indonesia, namnam memiliki sejarah panjang dalam kuliner tradisional dan pengobatan lokal. Rasa asam segarnya membuat buah ini kerap dimanfaatkan sebagai bahan asinan, rujak, manisan, hingga pelengkap masakan yang membutuhkan cita rasa kecut alami.
Selain buahnya, bagian lain dari pohon namnam, seperti daun, secara tradisional digunakan sebagai ramuan untuk mengatasi gangguan pencernaan, seperti diare dan masalah saluran kemih.
Pada masa lalu, keberadaan pohon namnam di pekarangan rumah dianggap sebagai bagian dari kekayaan tanaman pangan keluarga. Namun, seiring berkembangnya pertanian modern dan perubahan gaya hidup, status namnam perlahan berubah menjadi tanaman langka.
Sejak pertengahan abad ke-20, perhatian petani lebih banyak tertuju pada tanaman buah yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan masa panen cepat, seperti mangga, jeruk, dan pisang.
Banyak pohon namnam yang kemudian ditebang untuk perluasan permukiman atau digantikan dengan tanaman yang lebih populer. Pengetahuan mengenai budidaya dan pemanfaatannya pun mulai memudar, terutama di kalangan generasi muda.
Di wilayah Jawa Timur, termasuk Ponorogo, alih fungsi lahan dari kebun atau hutan menjadi kawasan permukiman dan industri turut mempersempit habitat tanaman namnam. Saat ini, buah namnam tergolong tanaman langka yang membutuhkan upaya konservasi dan revitalisasi agar tetap lestari.
Kandungan Nutrisi Buah Namnam
Buah namnam tak hanya segar dan manis, tetapi juga kaya nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan. Mengutip laman resmi Halodoc yang dibina Kementerian Kesehatan, buah ini menyimpan berbagai zat gizi penting yang mendukung tubuh tetap fit dan bertenaga.
- Kandungan air sebesar 87,3 persen yang membantu menjaga hidrasi tubuh dan memberikan sensasi segar, terutama saat cuaca panas.
- Protein sekitar 4,16 persen per 100 gram, berperan dalam pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh serta membantu proses penyembuhan luka.
- Lemak yang relatif rendah, yakni sekitar 0,63 persen, sehingga cocok untuk pola makan rendah lemak.
- Karbohidrat sebesar 7,6 persen yang berfungsi sebagai sumber energi dan membantu meningkatkan stamina.
- Vitamin C dengan kadar mencapai 121,44 mg per 100 mL sari buah, berperan sebagai antioksidan kuat untuk mendukung daya tahan tubuh dan kesehatan kulit.
- Senyawa fenolik sebesar 996,03 mg/L yang memiliki aktivitas antioksidan untuk melindungi tubuh dari kerusakan oksidatif.
- Flavonoid, yang bersifat antiinflamasi, antibakteri, serta membantu tubuh melawan radikal bebas berkat kandungan tanin dan saponin di dalamnya.
Bagi detikers yang menyukai buah dengan rasa asam manis yang menyegarkan, namnam layak untuk dicoba. Namun, bagi yang memiliki sensitivitas terhadap rasa asam, seperti penderita maag atau gangguan lambung, konsumsi buah ini sebaiknya dibatasi dan tidak dilakukan setiap hari karena cita rasanya yang cukup kuat.
Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(ihc/irb)











































