Makanan Khas Jawa Timur Selalu Hadir di Setiap Natal

Makanan Khas Jawa Timur Selalu Hadir di Setiap Natal

Jihan Navira - detikJatim
Rabu, 24 Des 2025 16:10 WIB
Makanan Khas Jawa Timur Selalu Hadir di Setiap Natal
Ilustrasi kuliner Natal. Foto: Getty Images/iStockphoto/bhofack2
Surabaya -

Perayaan Natal terasa kurang lengkap tanpa kehadiran hidangan di meja makan. Di banyak daerah Indonesia, makanan bukan sekadar pelengkap perayaan, melainkan wujud rasa syukur dan kebersamaan saat merayakan hari kelahiran Yesus Kristus.

Menariknya, menu Natal di tiap daerah tak pernah seragam karena selalu menyesuaikan dengan tradisi dan cita rasa lokal. Di Jawa Timur, misalnya, hidangan Natal identik dengan rasa gurih dan pedas. Menu seperti rawon, opor, hingga aneka masakan berempah kerap mendominasi meja makan hingga malam Natal tiba.

Meski tidak memiliki makna simbolik khusus yang berkaitan langsung dengan Natal atau Kristus, hidangan-hidangan tersebut diwariskan secara turun-temurun. Dari situlah rasa akrab tercipta, menjadikannya seolah menu wajib yang selalu hadir setiap Natal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kuliner Jawa Timur Saat Natal

Perayaan Natal di Jatim tidak hanya diwarnai ibadah dan kebersamaan keluarga, tetapi aroma masakan yang mengepul dari dapur rumah. Tanpa hidangan khusus yang sakral, umat Kristiani menghadirkan kuliner khas Jawa Timur, yang sederhana, mudah disiapkan dalam jumlah besar, dan akrab di lidah siapa un yang bertamu.

Proses memasak yang membutuhkan ketelatenan kerap berubah menjadi momen kebersamaan, mengikat anggota keluarga sejak persiapan hingga malam Natal tiba. Di situlah makanan tak sekadar pengisi meja, melainkan simbol kehangatan dan persatuan.

ADVERTISEMENT

1. Soto Lamongan

Soto LamonganSoto Lamongan Foto: Riska Fitria/detikfood

Makanan ini mulai dikenal luas dan populer pada kisaran 1980-an hingga 1990-an. Keunikannya terletak pada perpaduan pengaruh lintas budaya, mulai dari Jawa, Cina, hingga Belanda. Jejak kuliner Cina tampak pada penggunaan soun, kecap, dan tauge yang kemudian beradaptasi dengan cita rasa lokal.

Soto Lamongan hingga kini masih menyimpan cerita sejarah yang melekat kuat. Berdasarkan kepercayaan setempat, hidangan ini berasal dari Dusun Kebontengah, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, yang diyakini sebagai tempat makam Buyut Bakal-juru masak Sunan Giri pada masanya.

Peran Buyut Bakal disebut penting dalam perkembangan soto Lamongan hingga akhirnya dikenal luas di berbagai daerah. Meski telah mengalami modifikasi, soto Lamongan tetap mempertahankan ciri khasnya, kuah kaya rempah yang disajikan dengan koya, campuran kerupuk udang dan bawang putih goreng.

2. Rawon

Ilustrasi rawonIlustrasi rawon Foto: Getty Images/dreamsfolklore

Makanan khas Jawa Timur ini sekilas tampak seperti sup daging sapi pada umumnya. Namun, rawon mudah dikenali dari kuahnya yang hitam pekat. Warna khas tersebut berasal dari kluwek-biji berwarna hitam dengan tekstur lengket-yang diolah menjadi bumbu utama sekaligus pemberi warna gelap pada hidangan ini.

Kluwek menjadi kunci cita rasa rawon, menghadirkan sensasi gurih dengan aroma rempah yang kuat. Dipadukan dengan potongan daging sapi empuk, nasi hangat, serta taburan tauge segar, rawon kerap menjadi sajian yang menghangatkan, termasuk saat momen perayaan seperti Natal.

Melansir Grid ID, rawon memiliki jejak sejarah sejak era Kerajaan Majapahit. Keberadaan hidangan ini tercatat dalam Prasasti Taji tahun 901 M di Ponorogo, Jawa Timur, dengan sebutan rarawwan. Istilah rawon sendiri diyakini berasal dari kata Jawa rawa, yang bermakna gelap.

Rawon yang dikenal masyarakat saat ini merupakan hasil perkembangan selama berabad-abad. Variasi bahan, teknik memasak, hingga tambahan bumbu tertentu turut memperkaya rasa, menjadikan rawon hadir dalam beragam versi di berbagai daerah Jawa Timur.

3. Sate Madura

10 Resep Sate Tradisional, Ada Sate Madura hingga Sate Lilit BaliSate Madura. Foto: iStock/detikfood

Sate Madura memiliki kisah panjang yang menarik. Kuliner ini diyakini berawal dari Sumenep, Jawa Timur, dan kerap dikaitkan dengan sosok Arya Panoleh, penguasa Madura pada masanya. Inspirasi sate Madura konon muncul setelah Arya Panoleh berkunjung ke rumah kakaknya di Ponorogo.

Dalam kunjungan tersebut, ia disuguhi hidangan daging yang ditusuk dengan lidi-makanan yang dikenal sebagai santapan para pendekar Ponorogo. Dari pengalaman itu, Arya Panoleh kemudian memodifikasi sajian tersebut agar sesuai dengan selera masyarakat Madura.

Keunikan sate Madura tak hanya terletak pada bumbunya, tetapi juga pada pilihan daging. Selain daging ayam, sate Madura kerap menggunakan daging sapi, terutama bagian has dalam atau punggung. Varian ini dikenal sebagai sate komoh, dengan cita rasa lebih gurih dan tekstur daging yang empuk.

Lebih dari sekadar makanan, sate Madura menyimpan filosofi kebersamaan. Potongan daging, tusukan sate, dan bumbu kacang yang kental berpadu menjadi satu kesatuan. Barangkali itulah alasan sate Madura mudah diterima di berbagai daerah, hingga kerap hadir sebagai hidangan saat perayaan Natal.

4. Lontong Balap

Lontong Balap Pak GendutLontong Balap Pak Gendut. Foto: Jihan Navira/detikJatim

Bagi masyarakat Surabaya, hidangan ini telah lama mengakar di lidah dengan cita rasa khas. Perpaduan tauge segar, tahu, serta lentho, olahan kacang hijau atau kacang merah, bercampur petis dengan sensasi pedas, gurih, dan segar. Sajian ini semakin lengkap dengan kerang laut yang memberi sentuhan rasa manis alami.

Lontong balap sendiri dikenal sejak tahun 1950-an, dan diyakini berasal dari kawasan Wonokromo Surabaya. Nama lontong balap muncul dari kebiasaan pedagang pada masa itu yang berjalan cepat, seolah "berbalapan", sambil memikul dagangan yang berat. Dari situlah nama unik lontong balap melekat hingga kini.

5. Tahu Campur

Ngiler! Tahu Campur hingga Tahu Tek Sedap Racikan Pak SubariTahu Campur. Foto: detikFood

Lamongan menjadi salah satu daerah di Jawa Timur yang kaya kuliner khas, salah satunya tahu campur. Sesuai namanya, hidangan ini berbahan dasar tahu yang dipadukan dengan beragam isian.

Seperti sop daging sapi kenyal, tahu goreng, perkedel singkong atau lento, tauge segar, selada air, mi kuning, hingga kerupuk udang. Aneka bahan tersebut kemudian disiram bumbu petis, sambal, dan taburan bawang goreng, serta kerap dilengkapi kerupuk kanji sebagai pelengkap.

Di balik kelezatannya, tahu campur juga menyimpan cerita sejarah. Konon, kuliner ini berasal dari Desa Padenganploso, Kecamatan Pucuk, Lamongan, sebuah asal-usul yang bahkan ditegaskan melalui gapura bertuliskan "Bumi Tahu Campur".

Sejarah mencatat, tahu campur pertama kali diperkenalkan seorang warga setempat yang pernah bekerja sebagai koki Belanda pada masa kolonial. Sepulang ke desa, ia kemudian mengenalkan racikan tahu campur kepada masyarakat, hingga akhirnya menjadi kuliner khas Lamongan yang dikenal luas hingga kini.




(auh/irb)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads