Mengunjungi pabrik gula, melihat mesin-mesin tua, dan mendengar kisah di baliknya menjadi cara anak-anak muda Sidoarjo mengenalkan sejarah kotanya lewat "Tilik Mburi". Program ini mengajak masyarakat melihat langsung sejarah kolonial Sidoarjo lewat bangunan-bangunan bekas pabrik gula yang ada.
Tilik Mburi digagas oleh komunitas Sidoalce yang berdiri sejak 2022. Komunitas ini didirikan oleh Radithya Probo Ratu Nagoro atau yang akrab disapa Ditto bersama sejumlah anak muda Sidoarjo yang tertarik pada sejarah. Meski berlatar belakang pendidikan ekonomi, Ditto mengaku gemar mempelajari sejarah dari berbagai sudut pandang sejak SMP.
Berangkat dari tantangan sederhana seorang teman, Ditto terdorong untuk membuka akses ke pabrik gula yang selama ini hanya bisa masyarakat saksikan dari luar. Pasalnya pabrik gula merupakan jejak kolonial paling kuat di Sidoarjo. Kota Udang dan Bandeng ini pernah memiliki sekitar 15 pabrik gula, terbanyak di Jawa Timur. Namun, kini hanya tersisa empat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sidoalce itu istilahnya cerita awal untuk membangun Tilik Mburi, karena masyarakat lebih mengenal program itu," kata Ditto kepada detikJatim, Jumat (2/1/2026).
Nama Tilik Mburi diambil dari bahasa Jawa. Tilik berarti melihat, sementara mburi artinya belakang, Tilik Mburi dimaknai sebagai melihat sejarah yang identik dengan masa lalu (belakang). Melalui program ini, masyarakat diajak mengenal sejarah Sidoarjo dengan cara masuk langsung ke lokasi-lokasi bersejarah, khususnya pabrik gula.
"Lewat Tilik Mburi itu, masyarakat yang biasanya cuma ngerti pabrik gula dari depan, jadi bisa ngerti dalamnya pabrik gula, suasananya, arsitek bangunannya, mesin-mesinnya dan cerita di baliknya," ujar Ditto.
Saat awal dijalankan, Tilik Mburi belum dilakukan secara rutin. Kegiatan sempat digelar tiga bulan sekali, bergantung kesiapan dan perizinan lokasi. Barulah pada 2024, program ini ditetapkan berlangsung minimal sebulan sekali.
Lokasi yang dikunjungi meliputi pabrik gula Candi, Tulangan, Watutulis, Krembung, hingga pabrik gula di kawasan Buduran yang kini menjadi markas Zeni Tempur TNI AD. Masuk ke area-area tersebut membutuhkan lobi dan pendekatan yang tidak mudah.
"Nggak gampang, mbak. Kita bolak-balik minta izin supaya bisa bawa orang masuk dan melihat langsung," kata Ditto.
Dalam setiap kegiatan, tim Tilik Mburi yang hanya beranggotakan lima orang tersebut menyiapkan foto-foto arsip lama yang dicetak dalam ukuran besar. Foto itu digunakan untuk membantu peserta membayangkan kondisi pabrik gula di masa lalu dan membandingkannya dengan keadaan sekarang.
Pemandu kegiatan berasal dari mahasiswa sejarah yang termasuk dalam tim. Penyampaian dibuat ringan agar mudah dipahami masyarakat umum. "Tour guide nya itu mahasiswa jurusan Sejarah, tapi saya selalu peseni kalau menjelaskan harus menarik, ojo (jangan) bercerita atau asik sendiri, harus menyesuaikan audiens," ujarnya.
Seiring berkembang, Tilik Mburi tak hanya menyasar pabrik gula, tetapi juga sejarah kawasan di sekitarnya. Kegiatan ini turut melibatkan pelaku UMKM lokal di sekitar lokasi.
Peserta Tilik Mburi datang dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak hingga wisatawan mancanegara. Ditto menyebut, peserta dari Jerman dan Belanda pernah mengikuti program ini.
Antusiasme peserta membuat Tilik Mburi terus dijalankan secara rutin. Bagi masyarakat yang ingin ikut, pendaftaran dan informasi jadwal biasanya diumumkan melalui akun Instagram @tilikmburi.
Namun di balik antusiasme itu, Ditto mengakui masih ada tantangan yang dihadapi. "Masih banyak yang nganggep sejarah itu ga penting," ujarnya. Padahal, sejarah memiliki nilai penting sebagai identitas kota.
"Sejarah itu penting. Sejarah hilang, kita juga hilang," pungkasnya.
(auh/dpe)











































