Seorang kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Glagah, diduga menjadi korban penganiayaan oleh wali murid yang disebut-sebut merupakan anggota TNI. Peristiwa itu dipicu persoalan siswa yang tidak mengenakan kaos kaki.
Informasi kejadian tersebut viral di media sosial setelah diunggah seorang guru melalui akun Instagram Lamongan Update. Dalam unggahannya, guru tersebut menceritakan kepala sekolah berinisial MM didatangi wali murid berinisial MS di lingkungan sekolah.
Menurut keterangan guru tersebut, kejadian bermula ketika MM meminta siswa yang tidak memakai kaos kaki untuk mengambilnya terlebih dahulu. Namun, wali murid yang diduga merupakan anggota TNI itu disebut tidak terima setelah mendapat laporan dari anaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wali murid tersebut kemudian mendatangi korban di sekolah. Tanpa didahului pembicaraan, MS diduga langsung memukul wajah MM hingga mengalami pembengkakan dan mengeluarkan darah.
Dalam unggahan yang beredar, guru tersebut juga menyebut aksi kekerasan itu berlangsung hingga sejumlah gelas di kantor sekolah pecah. Warga sekitar disebut ikut melerai, sementara pemerintah desa turut membantu mendamaikan situasi.
Guru tersebut juga mengungkapkan, terduga pelaku disebut beberapa kali membuat surat pernyataan terkait perilakunya. Namun, dugaan tindakan kekerasan disebut kembali terjadi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa ini terjadi pada Sabtu (17/10/2026), di Desa Meluntur, Kecamatan Glagah. Peristiwa bermula ketika MM menegur salah seorang siswa yang kedapatan tidak mengenakan sepatu dan kaos kaki di lingkungan sekolah.
"Setiap pagi pihak sekolah mengecek kedisiplinan siswa. Salah satu siswa, yang kebetulan anak pelaku, diminta pulang untuk mengambil kaos kaki. Namun, ada kesalahpahaman saat anak tersebut menyampaikan ke orang tuanya hingga pelaku mendatangi sekolah dan terjadi pemukulan," kata anggota LPBH NU PCNU Lamongan, Nur Afid Santoso, yang mendampingi korban saat pelaporan di Denpom TNI Lamongan.
Aksi serangan tersebut menyebabkan suasana kantor memanas hingga barang-barang dan gelas di kantor pecah, sebelum akhirnya warga sekitar dan para guru turun tangan melerai hingga terduga pelaku meninggalkan lokasi.
Akibat pemukulan tersebut, MM mengalami luka berat berupa pendarahan dan keretakan pada bagian hidung. Korban langsung mendapatkan pertolongan pertama dari rekan-rekan sesama guru yang menyaksikan kejadian.
"Pagi tadi di sekolahku, kepala sekolahku tiba-tiba didatangi wali murid yang marah-marah. Dia datang langsung mukul kepsekku sampai mukanya bengkak dan berdarah-darah... Plot twist-nya, wali murid itu seorang anggota tentara yang harusnya melindungi warga, justru malah jadi ancaman," tulis salah seorang guru sekolah tersebut dalam unggahan yang dikutip oleh @lamongan.update.
Merasakan ketidakadilan atas peristiwa tersebut, pada malam harinya sekitar pukul 20.30 WIB, MM dengan didampingi oleh tim LBH PCNU Lamongan resmi membawa kasus ini ke Denpom TNI Lamongan agar diproses sesuai hukum militer yang berlaku.
"Sebelumnya sudah ada upaya penyelesaian di balai desa, tapi masih belum ada titik temu. Akhirnya terpaksa kami bersama klien datang ke Subdenpom Lamongan ini," jelasnya.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Lamongan, Ipda M. Hamzaid, membenarkan adanya penanganan terhadap peristiwa tersebut. Ia mengatakan pihak kepolisian membantu korban untuk membuat laporan ke kantor Subdenpom TNI Lamongan.
"Nggeh (iya) mas benar, sebagai bentuk pelayanan kami ketika masyarakat meminta bantuan jadi kami ikut membantu mengantar korban membuat laporan ke Kantor Subdenpom TNI Lamongan," ujar Hamzaid saat dikonfirmasi.
