Slamet Moelyadi (55) menjadi korban pembacokan saat pulang kerja di Surabaya. Pelakunya diduga tiga orang yang berboncengan satu motor.
Anak korban, Fitralandi, mengatakan peristiwa itu terjadi pada 16 September 2026 sekitar pukul 00.30 WIB. Saat itu, Slamet hendak menuju kawasan Pandegiling dari arah Jalan Teuku Umar usai pulang kerja dari bermusik di salah satu kafe.
"Jadi itu kejadiannya tanggal 16. Sekitar jam 00.30-an itu mau arah ke Pandegiling. Itu dari arah Teuku Umar mau arah ke Pandegiling," kata Fitralandi saat dihubungi detikJatim, Kamis (24/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, ayahnya sempat berhenti di perjalanan. Saat itu, datang tiga orang yang berboncengan menggunakan satu motor.
"Mereka mau rampas motor sama bass ayah saya. Ayah saya melawan, terus mereka juga kasih perlawanan, bacoklah tangan kanan ayah saya," ujarnya.
Slamet sempat berusaha melawan meski tangannya telah terkena sabetan senjata tajam. Karena mendapat perlawanan dan diduga khawatir diketahui warga, ketiga pelaku kemudian melarikan diri.
"Karena ayah saya ngelawan posisinya. Mereka keburu takut ketahuan karena itu jalan raya, jadi mereka langsung kabur," jelas Fitralandi.
Barang-barang milik Slamet tidak sempat dibawa pelaku. Namun, kunci motor korban hilang karena dibuang saat kejadian.
Fitralandi mengatakan ayahnya kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya untuk mendapat perawatan. Slamet sempat menjalani perawatan selama sekitar sepekan dan baru diperbolehkan pulang pada Rabu (23/9).
"Pertama itu transfusi darah tiga kali. Habis itu operasi. Selesai operasi transfusi itu selama seminggu pemulihan," tuturnya.
Kasus tersebut juga telah dilaporkan ke polisi pada 17 September 2026. Kini, keluarga berharap polisi segera mengungkap dan menangkap para pelaku. Sebab, lebih dari sepekan setelah kejadian, pelaku belum diketahui keberadaannya.
Fitralandi turut membagikan kisahnya di media sosial hingga viral dengan harapan agar aparat penegak hukum mengusut peristiwa tersebut.
"Sampai sekarang belum ketemu (pelakunya)," ujarnya.
Fitralandi mengatakan dirinya juga belum menerima update proses penyelidikan saat ini. Dia sempat mendapat informasi bahwa CCTV di sebuah restoran di sekitar lokasi kejadian buram.
"Saya minta, ya sudah cek CCTV lampu merah saja, Pak. Kan pasti ketemu. Tiga orang, dua helm, satu enggak pakai helm, pasti kelihatan jam segitu," pungkasnya.
