Bayi yang dilahirkan seorang diri oleh mahasiswi berinisial ALSU (24) di kamar kos kawasan Gubeng Kertajaya, Surabaya, disebut meninggal akibat gagal napas dan dehidrasi. Polisi menyebut, bayi tersebut sempat dibiarkan di lantai kamar setelah dilahirkan hingga akhirnya ditemukan pemilik kos dalam kondisi menggigil.
Kasubnit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya Iptu Landep Tri Wulansari mengatakan, bayi tersebut meninggal sekitar dua jam sebelum tiba di rumah sakit. Saat ditemukan, bayi dibungkus menggunakan seprai, sementara kondisi kamar disebut tidak dilengkapi karpet.
"Jam 08.00 WIB pagi mules baringan aja, siang itu keluar air ketuban itu. Akhirnya bayi itu keluar dibiarkan di lantai (meninggalnya) gagal nafas dan dehidrasi," beber Wulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (5/8/2026). ALSU yang merupakan mahasiswi jurusan vokasi paramedik veteriner disebut melahirkan seorang diri di kamar kosnya.
Pemilik kos berinisial IA (52) kemudian mendengar suara bayi dari kamar ALSU. Karena pintu kamar terkunci dari dalam, IA bersama saksi berinisial TSW berusaha membuka pintu secara paksa.
"Besok paginya itu ibu kosnya mendengar (suara) bayi, akhirnya diketok-ketok dia nggak mau bukain pintu. Ahirnya dijebol kamar itu, tidak ada karpet, dibungkus pakai sprei itu menggigil. Bayinya meninggal dua jam sebelum sampai ke rumah sakit," imbuhnya.
Setelah pintu berhasil dibuka, ALSU ditemukan bersama bayinya di dalam kamar. Keduanya kemudian dibawa ke RSUD Haji Surabaya untuk mendapatkan pertolongan medis.
Namun, bayi tersebut dinyatakan meninggal dunia sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut. Sementara ALSU juga sempat ditemukan dalam kondisi pingsan.
Sebelumnya, ALSU mengungkapkan kepada Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan bahwa dirinya melahirkan seorang diri di kamar kos. Dalam percakapan yang diunggah melalui akun Instagram Luthfie, ALSU menyebut bayi tersebut lahir sekitar pukul 02.00 WIB.
"Jam 2 itu keluar," jawab mahasiswi tersebut.
ALSU juga mengaku memotong ari-ari menggunakan gunting bedah yang dimilikinya. Alat tersebut disebut berkaitan dengan jurusan yang ditempuhnya sebagai mahasiswa vokasi paramedik veteriner.
"Iya, ari-arinya tak potong pakai gunting bedah. Ari-arinya tak masukin ke kresek," jawabnya.
"Jurusannya vokasi ndan, paramedic veteriner. Ari-arinya tak masukin ke kresek," jawab mahasiswa tersebut.
Polisi kemudian mengamankan sejumlah barang dari kamar kos ALSU. Di antaranya seprei, karpet bulu yang diduga digunakan sebagai alas melahirkan, serta satu kotak gunting bedah.
Setelah melakukan penyelidikan, polisi menetapkan ALSU sebagai tersangka dalam kasus meninggalnya bayi tersebut. Penyidik masih mendalami rangkaian peristiwa sebelum, saat, dan setelah proses persalinan.
ALSU terancam dijerat Pasal 460 ayat (1) KUHP dan/atau Pasal 80 ayat (3) dan (4) juncto Pasal 76C UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Di tengah proses hukum tersebut, ALSU sempat mendapat kesempatan bertemu dengan ibunya. Momen itu berlangsung ketika ALSU masih mengenakan baju tahanan oranye dengan tangan terborgol.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan memberikan kesempatan tersebut agar ALSU dapat meminta maaf kepada ibunya.
"Udah minta maaf belum? Yaudah sana suruh ketemu bapak ibunya untuk minta maaf," kata Luthfie.
"Sebelumnya nggak boleh besuk kalau udah Magrib, tapi nggak apa saya kasih kesempatan biar dia ketemu orang tuanya, biar minta maaf," imbuhnya.
Kasubnit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya Iptu Landep Tri Wulansari mengatakan kesempatan tersebut diberikan atas pertimbangan kemanusiaan.
"Sebenarnya ini sudah malam, tapi pertimbangan Pak Kapolres ibu masih diizinkan ketemu anaknya, anaknya ibu diberi kesempatan untuk minta maaf sepenuh hati sama ibuk," ujar Wulan.
ALSU kemudian mendatangi sang ibu. Sang ibu langsung memeluk anaknya dan tak kuasa menahan tangis. Di dekapan ibunya, ALSU juga membisikkan permintaan maaf.
Namun, sang ibu mengaku telah memaafkan anaknya bahkan sebelum ALSU meminta maaf.
"Tidak perlu minta maaf, ibu sudah maafkan," kata ibu ALSU.
Dalam percakapan dengan Kapolrestabes Surabaya, ALSU juga mengungkapkan mengenai pria yang disebut sebagai pacarnya. Dia mengatakan hubungan tersebut baru berjalan sekitar satu bulan.
"Baru sebulan," jawab mahasiswa tersebut.
Namun, komunikasi keduanya disebut telah terputus sejak Juni 2026. ALSU mengatakan dirinya sudah tidak ingin bertemu lagi dengan pria tersebut.
"Udah ga komunikasi sejak bulan Juni," ungkapnya.
"Udah gak pengen ketemu lagi," sambungnya.
ALSU juga mengaku tidak pernah membicarakan persoalan tanggung jawab dengan pria tersebut karena komunikasi di antara keduanya tidak berjalan dengan baik.
"Ngomongin tentang tanggung jawab gitu enggak, nggak komunikatif gitu," imbuh mahasiswa tersebut.
ALSU diketahui tinggal sendiri di Surabaya, sedangkan kedua orang tuanya berada di Jawa Tengah.
"Di sini saya ngekos, orang tua di jawa Tengah," pungkasnya.
Simak Video "Video: Lansia Disekap Pacar Anak Selama Setahun, Harta Rp 2 M Dikuras"
[Gambas:Video 20detik] (auh/hil)
