Kematian Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Bangkalan, Ruly Yunis Setiawati mengarah pada skandal penipuan asmara yang lebih luas. Erlan, pria yang diduga terekam CCTV menyopiri mobil dinas korban sebelum jasadnya ditemukan membusuk di Bandara Juanda diduga pelaku love scamming berantai.
Ruly ditengarai bukan satu-satunya perempuan yang masuk dalam jebakan romansa maut pria itu, melainkan ada perempuan lain yang menjadi korban dari Erlan. Kedok penipuan berkedok cinta ini dibongkar ARN, pengusaha asal Bandung yang juga menjadi korban penipuan finansial oleh Erlan.
Setelah rekaman video yang memuat sosok Erlan viral dii media sosial, ARN mengaku langsung dihujani pesan dan aduan dari berbagai pihak. Termasuk para korban baru yang pernah dijerat Erlan dengan modus serupa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah video viral banyak yang kontak ke saya, baik dari Polda Jatim, Polresta Sidoarjo," ujar ARN saat dihubungi detikJatim, Kamis (9/7/2026).
Selain dari pihak penyidik kepolisian yang tengah memburu Erlan, ARN mengungkapkan ada seorang perempuan yang memiliki pengikut (follower) cukup banyak di media sosial menghubunginya secara pribadi untuk mengirimkan bukti-bukti tindakan bejat Erlan.
"Ada perempuan yang follower-nya banyak kontak saya, dia kirim bukti-bukti bahwa dia sudah menjadi korban penipuan love scamming oleh Pak Erlan," kata ARN.
Berdasarkan pelacakan mandiri yang diketahuinya, sebelum Erlan mendekati dan memperdaya Sekdin Bangkalan, pria itu sempat melarikan diri ke Malang setelah membawa kabur aset milik ARN. Di Malang, Erlan disinyalir kembali menggunakan pesonanya untuk memikat perempuan lain demi meraup keuntungan finansial.
"Setelah dari Bali itu ke Malang, kenal dulu sama orang lain. Baru kemudian dengan yang di Bangkalan itu," jelas ARN.
ARN yang mengenal baik dan tahu sepak terjang Erlan hingga pernah menjadi korban penipuan oleh pria tersebut meyakini ada motif gelap mata di balik tewasnya Sekdin PRKP Bangkalan dalam mobil dinasnya sendiri.
"Menurut saya kenapa sampai membunuh mungkin gelap mata aja, kelepasan mungkin. Mungkin karena korban sadar ditipu atau gimana makanya gelap mata. Dan saya menduga love scamming sih, karena sebelum ada kejadian viral ini ada korban lain," tutur ARN.
Ketangkasan Erlan dalam menjerat korban-korbannya memang tidak main-main. Saat masih tinggal di kos-kosan Jakarta Pusat bersama ARN, Erlan berhasil membangun citra diri yang sangat memikat. Ia dikenal sangat royal karena kerap membagi-bagikan makanan, minuman, hingga rokok kepada para petugas keamanan dan kebersihan.
Bahkan, Erlan dengan lihai memanipulasi status sosialnya dengan membawa ARN menemui pengacara serta notaris kondang di Jakarta agar terlihat sebagai orang berpengaruh, hingga berwisata ke sebuah pondok pesantren di Tasikmalaya di mana ia dihormati dengan sapaan "Pak Haji".
"Karena itulah saya percaya, dan saya berpikir saya harus membantu Pak Erlan ini," cetus ARN.
Rasa percaya itulah yang kemudian dimanfaatkan Erlan untuk menipu ARN sebesar Rp 144 juta dengan dalih meminjam uang untuk menebus tanah fiktif di Bali pada Mei 2026.
Di Bali, Erlan sempat mengadali pengacara terkenal Togar Situmorang dengan memberikan informasi palsu yang berbeda sebelum akhirnya kabur dari hotel pada malam hari. Erlan membawa lari uang tunai, uang transferan, hingga sebuah ponsel iPhone 13 milik ARN.
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur menegaskan bahwa seluruh personel Jatanras bersama Polresta Sidoarjo telah diterjunkan ke lapangan untuk memburu Erlan. Jumhur menyebut pria itu memang tukang tipu kelas kakap yang sangat licin karena kerap berpindah lokasi persembunyian.
