Polisi belum menyimpulkan arah kasus apalagi menetapkan tersangka kasus penemuan jasad Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Bangkalan, Ruly Yunis Setiawati (50). Meski demikian, keluarga Ruly yakin bahwa Sang Sekdin PRKP Bangkalan itu tewas karena dibunuh.
Melalui kuasa hukumnya, Risang Bima Wijaya, pihak keluarga mendesak agar aparat kepolisian bergerak maksimal mengusut tuntas perkara ini. Mereka tidak ingin penemuan jasad di dalam mobil dinas berpelat merah di area parkir Terminal 1 Bandara Juanda tersebut mandek di tengah jalan.
"Harapan keluarga sederhana, kasus ini jangan sampai menjadi kasus dingin. Penyidikan harus terus berjalan sampai pelaku ditemukan dan penyebab kematian korban terungkap secara jelas," kata Risang kepada detikJatim melalui telepon selulernya, Jumat (3/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Risang menegaskan rentetan kejanggalan dan bukti petunjuk yang telah dikumpulkan secara mandiri oleh pihak keluarga tidak lagi merujuk pada insiden kematian biasa. Terdapat pola-pola janggal yang mengarah pada keterlibatan pihak luar dalam hilangnya nyawa sang Sekdin.
"Kami melihat ada indikasi kuat mengarah ke pembunuhan. Namun, penyidik tentu tetap bekerja berdasarkan alat bukti dan hasil pemeriksaan yang lengkap," ucapnya.
Desakan Keluarga ke Polisi
Hingga saat ini, proses penanganan perkara pidana tersebut masih berada di bawah kendali penuh Polres setempat (Polresta Sidoarjo), dengan dukungan taktis kelaboratorian dari Polda Jawa Timur.
"Belum ada pelimpahan penanganan perkara ke Polda. Yang berjalan saat ini adalah koordinasi antara Polres dengan Polda serta jajaran kepolisian di wilayah lain untuk memperluas penelusuran," ujarnya.
Lebih lanjut, Risang memaparkan analisis hukumnya bahwa area parkir Bandara Juanda kemungkinan besar bukanlah Tempat Kejadian Perkara (TKP) utama di mana korban dihabisi. Ada indikasi kuat korban telah meninggal dunia di lokasi berbeda, lalu jasadnya dipindahkan oleh pelaku ke dalam mobil dinas untuk mengelabui penyelidikan.
"Bisa saja kejadiannya bukan di dalam mobil. Semua kemungkinan masih terbuka, apakah di penginapan, rumah, vila, atau lokasi lain sebelum jenazah dipindahkan," jelasnya.
Sebab itu, pihak keluarga meminta polisi mendalami banyak data krusial secara paralel. Mulai dari data manifes tamu penginapan yang sempat disinggahi korban di Malang, asal-usul barang bukti, hingga pergerakan profil terduga pelaku yang diidentifikasi berasal dari Parepare, Sulawesi Selatan dan sempat tinggal di salah satu kecamatan di Kabupaten Malang.
Keluarga Berencana Datangi Penyidik
Meskipun pelaku terkesan lihai dengan memutus sinyal seluler dan melarikan diri sesaat setelah memarkirkan mobil korban di bandara, keluarga optimistis jejak digital kriminilnya tidak akan hilang.
"Kami percaya penyidik memiliki kemampuan dan sarana untuk menelusuri setiap petunjuk yang ada. Cepat atau lambat, kami berharap seluruh rangkaian peristiwa dapat terungkap dan pelakunya dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum yang berlaku," pungkasnya.
Demi mendapatkan transparansi informasi hukum, pihak keluarga yang saat ini masih dalam kondisi berduka dijadwalkan akan mendatangi markas kepolisian secara langsung dalam waktu dekat.
"Keluarga masih dalam suasana berkabung. Minggu depan rencananya akan berkoordinasi langsung dengan penyidik untuk mengetahui sejauh mana perkembangan penanganan perkara," katanya.
(auh/dpe)
