20 Orang Ngaku Tertipu Sembako Murah di Surabaya hingga Rugi Rp 1 M

20 Orang Ngaku Tertipu Sembako Murah di Surabaya hingga Rugi Rp 1 M

Aprilia Devi - detikJatim
Jumat, 03 Jul 2026 14:00 WIB
Korban dugaan penipuan sembako murah dari media sosial WhatsApp.
Korban dugaan penipuan sembako murah dari media sosial WhatsApp/Foto: Istimewa
Surabaya -

Sekitar 20 orang mengaku menjadi korban dugaan penipuan penjualan sembako murah melalui status WhatsApp di Surabaya. Total kerugian para korban ditaksir mencapai lebih dari Rp 1 miliar.

Salah satu korban, Elzatul Fadilah, mengaku mengalami kerugian Rp 45 juta. Ia mengaku mulai tertarik membeli sembako murah setelah melihat penawaran yang diunggah perempuan berinisial IC, warga Bulak Banteng Kidul, melalui status WhatsApp pada 19 Februari 2026.

"Lumayan iming-iming memang harganya lebih murah, kan nanti bisa dijual lagi bisa untung sekitar Rp 5.000. Saya akhirnya juga nawarin ke teman-teman," ungkap Elzatul, Jumat (3/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Elzatul kemudian memesan 750 dus MinyaKita dan 1.050 dus Indomie. Untuk pemesanan itu, ia diminta membayar uang muka sebesar 50 persen. Namun karena tidak sanggup, ia meminta deposit 10%.

ADVERTISEMENT

"Awalnya dia minta deposit 50%, sekitar Rp 250 juta. Tapi, karena saya gak mampu, saya mintanya deposit 10 persen saja, cuma Rp 25 juta. Tapi, saya transfer bertahap Rp 13 juta, Rp 8 juta. Rp 3 juta, Rp 2 juta," jelasnya.

Setelah pembayaran dilunasi, barang yang dipesan tak kunjung diterima. Elzatul justru mendapat beras dan santan yang tidak sesuai dengan pesanannya.

"Tapi, waktu itu saya masih nerima. Terus sewaktu saya mau beli lagi, disuruhnya beli secara cash. Saya beli gula 600 kilogram secara cash, tanpa mengurangi deposit awal Rp 25 juta," tuturnya.

Menurut Elzatul, setelah transaksi kedua ia masih sempat menerima sembako sekitar empat hingga enam kali pembayaran. Namun sejak Maret 2026, pesanan yang dibayarnya tidak lagi dikirim.

"Setiap kali saya tanya dia ambil dari pabrik mana, gak pernah mau dijawab. Invoice pembeliannya mana, gak pernah mau dikasih," bebernya.

Pada 25 Maret 2026, terduga pelaku mengaku dirinya juga menjadi korban penipuan dan uang hasil pemesanan sembako telah dibawa kabur pihak lain.

Untuk menebus uang ganti rugi, terduga pelaku sempat memberikan surat tanah. Namun, menurut Elzatul, surat tersebut bukan atas nama yang bersangkutan.

"Saya yang disuruh cari bank yang mau untuk mencairkan surat tanahnya dia dan surat tanah itu ternyata bukan atas nama milik dia. Gak cuma itu, dia juga bilang uang yang cair (dari surat tanah) ada sekitar Rp 70 juta, minta dibagi dua, saya Rp 45 juta, dia yang Rp 25 juta," kata dia.

Merasa dirugikan, Elzatul mendatangi rumah terduga pelaku dan mengunggah persoalan itu ke media sosial. Dari situ, ia menambahkan bahwa korban lain mulai berdatangan dan mengaku mengalami kejadian serupa.

"Sewaktu saya ke sana, saya viralkan di sosmed, akhirnya ada korban-korban lain yang muncul sampai yang korban dari tahun 2021 juga ada," imbuhnya.

Menurut Elzatul, hingga kini terdapat sekitar 20 korban dengan total kerugian diperkirakan lebih dari Rp 1 miliar.

Kasus dugaan penipuan itu telah dilaporkan Elzatul ke Polrestabes Surabaya pada Juni 2026. Selain itu, ia juga mengadukannya ke Rumah Aspirasi Wakil Wali Kota Surabaya Armuji.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads