Polisi mengungkap asal-usul blanko KTP yang digunakan komplotan joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Surabaya. Blanko itu diduga berasal dari oknum aparatur sipil negara (ASN).
Kapolrestabes Surabaya Luthfie Sulistiawan mengatakan blanko tersebut bukan diperoleh secara resmi, melainkan diambil dari tempat dua ASN yang telah ditetapkan sebagai tersangka.
"Itu kan (blanko KTP) dari tersangka. Kerja sama dengan ASN pegawai kecamatan," kata Luthfie kepada detikJatim, Sabtu (9/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Luthfie, oknum ASN berinisial ITR (38) dan CDR (35). Keduanya diketahui berasal dari Gresik. Meski demikian, ia hanya menyebut ASN kecamatan namun tak ungkap secara spesifik dinas di mana.
"Iya yang ASN, yang pejabat kecamatan itu kan sudah tersangka. Jadi dia ambil (blanko KTP) dari yang ada di tempat dia kerja, kemudian dia jual," tuturnya.
Dalam kasus ini, polisi menyita puluhan lembar blanko KTP yang disebut identik dengan KTP asli. Blanko itu diduga dibeli dari ASN dengan harga Rp 50 ribu per lembar.
"Jadi ada 25 lembar yang kemarin kita sita. Itu dijual satunya itu Rp 50 ribuan," jelasnya.
Luthfie juga membenarkan blanko tersebut memiliki kemiripan dengan KTP asli. Namun pihaknya kini masih menyelidiki keaslian KTP yang dibuat komplotan joki UTBK.
"Sedang kita proses. Iya (identik dengan KTP asli)," pungkasnya.
Sebelumnya, komplotan joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Surabaya dibongkar Polrestabes Surabaya. Sebanyak 14 orang ditangkap dan ditetapkan jadi tersangka dari berbagai macam profesi termasuk dokter dan aparatur sipil negara (ASN).
Ke-14 tersangka tersebut antara lain NRS (21) mahasiswa, PIF (21) mahasiswa, IKP (41) karyawan swasta dan pelaku utama, FP (35) karyawan swasta, BPH (29) dokter, DP (46) dokter, MI (31) dokter, RZ (46) pedagang, HRE (18) pelajar, BH (55) wiraswasta, SP (43) karyawan swasta, SA (40) karyawan swasta, ITR (38) karyawan ASN P3K, serta CDR (35) karyawan ASN P3K.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan mengatakan kasus itu terungkap berawal dari pelaksanaan UTBK SNBT di Gedung Rektorat Lantai 4 Unesa, Jalan Lidah Wetan, pada 21 April 2026 lalu.
"Jadi hasil pemeriksaan sampai dengan saat ini bahwa tidak ada keterlibatan dari pihak kampus berkaitan dengan terjadinya perjokian dalam ujian masuk seleksi mahasiswa ini," kata Luthfie, Kamis (7/5/2026).
(dpe/abq)
