Tradisi Ngaji Kilat Ramadan Kembali Hidup di Lirboyo

Tradisi Ngaji Kilat Ramadan Kembali Hidup di Lirboyo

Andhika Dwi - detikJatim
Rabu, 25 Feb 2026 18:40 WIB
Ngaji kilat Ramadan di Ponpes Lirboyo Kediri
Ngaji kilat Ramadan di Ponpes Lirboyo Kediri/Foto: Andhika Dwi/detikJatim
Kediri -

Program Ngaji Kilat Ramadan kembali digelar Pondok Pesantren Lirboyo untuk mengisi libur santri dengan pendalaman ilmu dan ibadah. Kegiatan ini diikuti santri internal maupun eksternal dengan jumlah peserta yang terus meningkat.

Pengasuh Ponpes Lirboyo Abdul Muid Shohib mengatakan, ngaji kilat merupakan dawuh para masyayikh agar santri tetap produktif selama bulan suci. Program ini tidak hanya memperdalam kajian kitab kuning, tetapi juga menjaga kesinambungan tradisi keilmuan pesantren.

"Ngaji kilat ini menjadi ruang intensif bagi santri untuk memperdalam pemahaman kitab, sekaligus membiasakan diri mengisi waktu dengan aktivitas ibadah dan intelektual," ujarnya, Rabu (25/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ngaji kilat Ramadan di Ponpes Lirboyo KediriNgaji kilat Ramadan di Ponpes Lirboyo Kediri Foto: Andhika Dwi/detikJatim

Ia menjelaskan, sejak rutin digelar, jumlah peserta terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal itu menunjukkan tingginya minat santri dalam memperkuat kapasitas keilmuan selama Ramadan.

ADVERTISEMENT

Sejumlah kitab klasik dikaji dalam program tersebut, di antaranya Sahih Muslim, Ta'lim al-Muta'allim, dan Dalail al-Khayrat, serta kitab lain sesuai arahan pengampu. Pengajian diasuh langsung para masyayikh, dzuriyah, dan ustaz sehingga santri tak hanya mendapat materi, tetapi juga keteladanan.

Jadwal kegiatan disusun terstruktur, nyaris sama dengan hari aktif pesantren. Dengan ritme yang sudah terbiasa, ngaji kilat tetap berjalan efektif meski berlangsung intensif selama Ramadan.

Menurut Gus Abdul Muid, dampak program ini terasa dari sisi keilmuan maupun spiritual santri. Intensitas pengajian dinilai mampu meningkatkan fokus, kedisiplinan, serta kedekatan dengan nilai ibadah.

"Ramadan menjadi momentum pembelajaran karakter, seperti keikhlasan, istikamah, dan kesabaran, bukan sekadar peningkatan akademik," tegasnya.

Sementara itu karena animo santri cukup banyak dan para Kiai yang memimpin pengajian berada di dalam rumah (ndalem) atau masjid. Dengan kondisi di dalam sudah penuh santri, maka para santri mengaji dengan duduk di luar rumah, halaman atau bahkan pinggir jalan.

Usai program berakhir, para masyayikh berharap semangat mengaji tetap terjaga sepanjang tahun. Harapan itu sejalan dengan dawuh pendiri Lirboyo, Abdul Karim, agar santri terus mengaji dimanapun dan kapanpun berada.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads