Pakar Transportasi Laut Dorong Penyelidikan Kecelakaan Kapal Pacific 88

Pakar Transportasi Laut Dorong Penyelidikan Kecelakaan Kapal Pacific 88

Praditya Fauzi Rahman - detikJatim
Rabu, 04 Feb 2026 20:20 WIB
Pakar Transportasi Laut Dorong Penyelidikan Kecelakaan Kapal Pacific 88
Laka kapal di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Pakar transportasi laut Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Setyo Nugroho buka suara terkait kecelakaan kapal muat kontainer Pacific 88. Ia menduga adanya manipulasi data pada dokumen dan dorong aparat penegak hukum menyelidikinya.

"Bisa jadi (ada manipulasi data muatan), tapi yang jelas manipulasi atau enggak dampaknya pada perhitungan stabilitas," kata Setyo kepada detikJatim, Rabu (4/2/2026).

Setyo menilai perhitungan tonase kapal saat diisi kontainer itu sesungguhnya amat gamblang. Yang jadi masalah, lanjut dia, adalah bila kontainer tersebut diletakkan di tempat di bawah atau di atas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Misalnya, beratnya 10, mencatatnya dalam perhitungan itu ditaruhnya benar enggak? Karena posisi itu menentukan stabilitasnya dan itu dihitung semua," ujarnya.

Lantas, Setyo menganalogikan perhitungan kontainer dengan truk over load over dimension (odol) yang ada di daratan. Menurutnya, stabilitas dalam hal tersebut patut dipersoal.

ADVERTISEMENT

"Jadi kalau odol bedanya adalah odol itu melanggarnya semua. Panjang, lebar, tinggi, dan beratnya dilanggar semua. Kalau kontainer ukurannya enggak, panjang lebar tingginya tetap, beratnya mungkin. Tapi, sekarang kan justru menjadi penting dicek dong, diambil dong kontainernya, ditimbang dong. Jadi kita pada tahap ini kan belum tahu akhirnya kan? Iya, justru itu yang harus dilakukan. Jadi tahapannya seperti itu," jelasnya.

"Kata kuncinya itu stabilitas kapalnya jelek karena pemuatan yang enggak betul. Penyebabnya apa? Yang saya bilang tadi, lihat dari jangan-jangan sejak perencanaannya salah, atau jangan-jangan eksekusinya yang salah gitu ya. Misalnya, yang tertulis itu yang diangkut di perencanaannya itu 10 ton, tapi riilnya diisi 20 ton. Berarti eksekusinya yang salah. Siapa yang kayak gini gitu ya," imbuhnya.

Setyo menerangkan dalam shipping modern terdapat hull and machinery. Menurutnya tanggung jawab kepada pihak ketiga atau Protection and Indemnity (P&I). Ia menegaskan hal itu perlu dan wajib.

"Kalau ada kecelakaan yang berakibat pada kerugian pada pihak ketiga seperti beberapa tahun yang lalu, miliknya Mentari yang di Teluk Lamong. Itu kan mengganggu pelabuhan sangat lama, dan dampaknya apa? Si transportasi laut terganggu, kemudian pelabuhannya juga terganggu. Itu kerugiannya sudah miliaran," jelasnya.

"Nah, belum lagi pencemarannya dan dampak samping lainnya. Makannya, asuransi itu yang P&I itu ada tujuannya untuk menghindari itu, karena intinya kalau ada kecelakaan, beresin dulu pihak ketiga. Terus jangan sampai ganggu. Jadi dari sisi ini, di mana pun di seluruh dunia yang pelabuhan yang proper dilakukan seperti itu, supaya enggak mengulangi kejadian di seperti yang Teluk Lamong tempo hari," imbuhnya.

Setyo lalu menyoroti dari sisi hukum yang ditangani Polres Pelabuhan Tanjung Perak hingga KSOP. Menurutnya, penjelasan dan kejadian dinilai sudah sangat gamblang dalam penyelidikan untuk mencari penyebab peristiwa itu.

"Itu sebenarnya kan sudah cukupkah bukti untuk mengatakan bahwa kecelakaannya statusnya sampai saat itu seperti ini. Seperti juga kalau kita menangani kecelakaan di jalan tol. Terus yang diprioritaskan adalah pelancaran. Jadi yang utama adalah status saat itu posisinya di mana dan seterusnya, dipotret semua, diukur semua. Itu penjelasan itu sangat gamblang bahwa pada saat kontainer yang terakhir dimuat, sebelum yang terakhir (dalam rekaman cctv), kapal kan sudah mulai miring ya," ungkapnya.

Oleh karena itu, Setyo mendorong tim penegak hukum gabungan untuk segera meminta dokumen kapal tentang perencanaan pemuatan, perhitungan stabilitas, hingga manifes. Kemudian kroscek kondisi di lapangan dengan data yang diperoleh.

Sebelumnya, kapal pengangkut kontainer di Dermaga Jamrud Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya mengalami kecelakaan. Akibatnya, sejumlah muatannya berjatuhan ke laut.

Informasi yang dihimpun detikJatim menyebutkan kecelakaan tersebut dialami KM Pacific 88 Senin (2/2) sekitar pukul 04.00 WIB. Saat itu kapal tengah bongkar muat.

Nahas, kapal ternyata miring dan mengakibatkan muatan kontainer berjatuhan ke laut. Tak hanya itu, sejumlah pekerja yang di bawahnya juga tertimpa kontainer masih dilakukan pencarian sebab satu orang dikabarkan masih belum ditemukan.

okumen kapal tentang perencanaan pemuatan, perhitungan stabilitas, hingga manifes) yang harus dipegang dulu. Kalau enggak, nanti ya enggak benar lah gitu ya. Terus yang kedua dari lapangan dicek dong sekarang kontainernya itu sesungguhnya yang mau diangkut itu berapa dan masing-masing beratnya berapa. Artinya apa? tanggung jawab masing-masing kan akan kelihatan, siapa yang bertanggung jawab, ini gamblang sekali persoalannya," tutupnya.




(auh/abq)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads