Rumah Pedagang Satwa di Sidoarjo Digerebek, Ribuan Burung Dilindungi Disita

Tim DetikJatim - detikJatim
Kamis, 18 Agu 2022 23:11 WIB
Rilis ungkap kasus perdagangan burung ilegal
Foto: Rilis ungkap kasus perdagangan burung ilegal di Sidoarjo (Dok. Gakkum KLHK Jabalnusra)
Sidoarjo -

Tim Operasi Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (Gakkum) KLHK Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabalnusra) berhasil mengamankan ribuan ekor burung ilegal berbagai jenis. Satu orang ditetapkan sebagai tersangka.

Tersangka berinisial AFI. Ia merupakan pemilik ribuan satwa burung yang diamankan Gakkum KLHK Jabalnusra. Satwa-satwa tersebut berhasil diamankan pada tanggal 15 Agustus 2022 di Sidoarjo.

"Dalam perkara ini Penyidik Balai Gakkum KLHK wilayah Jabalnusra telah menetapkan saudara AFI sebagai tersangka dan saat ini masih dilakukan pemeriksaan dan pengembangan," kata Kepala Balai Gakkum Wilayah Jabalnusra, Taqiuddin dalam keterangannya, Kamis (18/8/2022).

"Ini untuk mengungkap keterlibatan pihak lain yang merupakan jaringan perdagangan tumbuhan satwa liar. Terhadap tersangka saudara AFI telah dilakukan penahanan di Rutan Polda Jawa Timur," sambung Taqiuddin.

Pengungkapan satwa ilegal ini berawal dari laporan masyarakat. terkait perdagangan satwa liar secara illegal di Sidoarjo. Berdasarkan informasi tesebut, Balai Gakkum KLHK Wilayah Jabalnusra melakukan pendalaman dan menindaklanjuti dengan melakukan operasi.

Operasi dilakukan pada Senin (15/8) sekitar jam 09.15 WIB, tim operasi berhasil mengamankan 4.228 ekor satwa burung berbagai jenis dilindungi dan tidak dilindungi dalam kondisi hidup dan mati. Satwa itu ditemukan di rumah tersangka AFI di Desa Ganting, Gedangan, Sidoarjo.

Dari pengakuan tersangka, ribuan burung tersebut rencananya akan didistribusikan ke penjual di beberapa daerah. Antaranya yaitu Kediri dan Karanganyar Jawa Tengah. Kegiatan ini dilakukan oleh tersangka seorang diri sejak awal 2022 lalu.

Rilis ungkap kasus perdagangan burung ilegalRibuann burung ilegal yang disita dari rumah tersangka di Sidoarjo (Foto: Dok. Gakkum KLHK Jabalnusra)

Plt Direktur Pencegahan dan Pengamanan LHK Polhut Ahli Utama, Sustyo Iriyono menegaskan keberhasil operasi ini tak lepas dari koordinasi dan sinergitas serta komitmen bersama. Koordinasi ini melibatkan antara lain Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya, Balai Besar KSDA Jawa Timur, Polda Jawa Timur.

"Penindakan ini diharapkan dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku. Kami tidak akan berhenti menindak pelaku kejahatan terhadap lingkungan hidup dan kehutanan," kata Sustyo.

Sementara itu, Rasio Ridho Sani, Dirjen Penegakan Hukum KLHK menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada instansi yang telah berhasil mengungkap kasus. Ia berharap pelaku dihukum seberat-beratnya karena merupakan kategori kejahatan terhadap tumbuhan dan satwa.

"Kami akan terus mendalami kasus ini termasuk untuk menindak tegas pelaku lain yang terlibat. Kejahatan terhadap tumbuhan dan satwa liar (TSL) dilindungi harus ditindak tegas. Kejahatan ini merupakan kejahatan serius dan luar biasa, pelaku harus dihukum maksimal seberat-beratnya", tegas Rasio.

Atas perbuatannya, tersangka kini dijerat dengan Pasal 40 ayat 2 jo. Pasal 21 ayat 2 huruf a Undang - Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman kurungan penjara paling lama 5 tahun dan denda maksimum Rp 100 juta.

Berikut hasil identifikasi petugas, jenis burung yang disita dari tersangka: Burung yang dilindungi yaitu Cica Daun Besar 596 ekor, Tiong Emas 125 ekor, Gelatik Jawa 110 ekor, Serindit Melayu 45 ekor, Tangkar Ongklet 31 ekor, Cica Daun Keci 6 ekor.

Sedangkan burung tidak dilindungi yaitu Merbah Belukar 72 ekor, Sikatan Bakau 32 ekor, Kucica Hutan 31 ekor, Kucica Kampung 17 ekor, Yuhina Kalimantan Staphida everetti) 11 ekor, Burung-Madu Pengantin 2.363 ekor, Manyar Jambul 785 ekor, dan Kacembang Gadung 4 ekor.



Simak Video "KLHK Targetkan Tahun 2030 Indonesia Capai Net Sink Sektor Kehutanan"
[Gambas:Video 20detik]
(abq/iwd)