Surabaya - Lorong pedagang buku di Pasar Blauran, Surabaya tak lagi seramai dulu. Lapak yang pernah menjadi tujuan pelajar dan mahasiswa kini sebagian sudah tertutup debu.
Foto Jatim
Pedagang Buku Pasar Blauran Bertahan di Tengah Sunyi
Pembeli datang sesekali, bahkan tak jarang satu hari berlalu tanpa transaksi.
Deretan pedagang buku itu berada di lantai satu pasar, tepat di bawah tangga. Letaknya tak langsung terlihat dari pintu utama, tersembunyi di balik lalu lalang pengunjung pasar yang berburu kuliner dan kebutuhan harian.
Namun di masa lalu, lokasi tersebut bukan penghalang. Pembeli tetap datang demi mencari buku pelajaran, bacaan, hingga koleksi langka dengan harga terjangkau
Pasar Blauran sempat menjadi surganya buku. Dulu lorong-lorongnya ramai oleh pencari bacaan hingga malam hari. Tetapi sekarang suasana itu hilang. Banyak kios tutup, yang bertahan pun jarang didatangi pembeli.
Pantauan detikJatim di lokasi, Kamis (5/2/2026), hanya dua pedagang buku yang tampak membuka lapak.
Keduanya berjualan di tengah deretan kios yang sebagian besar sudah tak beroperasi. Kondisi ini berbanding terbalik dengan masa lalu, ketika jumlah pedagang buku di kawasan tersebut mencapai sekitar 40 orang. Sekarang, yang tersisa hanya tujuh hingga delapan pedagang dan tidak semuanya buka setiap hari.
Kusdi (68), pedagang buku yang telah berjualan di kawasan Blauran selama lebih dari dua dekade. Ia menyebut aktivitas jual beli kini nyaris berhenti.
Ia menilai kebiasaan pembeli yang beralih ke toko online membuat lapak buku semakin sepi. Banyak orang memilih memesan dari rumah tanpa harus datang langsung ke pasar.











































