Tanean Lanjhang, Pola Permukiman Tradisional Khas Madura

Tanean Lanjhang, Pola Permukiman Tradisional Khas Madura

Maratus Sholikah - detikJatim
Senin, 26 Okt 2026 12:00 WIB
Rumah Adat Tanean Lanjhang (Madura)
Rumah Adat Tanean Lanjhang Madura. Foto: Rivorma.com
Madura -

Madura memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya, termasuk pola permukiman tradisional. Salah satunya adalah Tanean Lanjhang, yaitu pola permukiman khas Madura yang terdiri atas beberapa rumah dalam satu kawasan dengan halaman memanjang di bagian tengah.

Umumnya, kawasan ini dihuni oleh keluarga besar yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Lebih dari sekadar tempat tinggal, Tanean Lanjhang mencerminkan nilai kekeluargaan, kebersamaan, dan gotong royong yang diwariskan secara turun-temurun.

Apa Itu Tanean Lanjhang?

Secara bahasa, Tanean Lanjhang memiliki arti "halaman panjang". Istilah ini menggambarkan pola permukiman tradisional Madura yang terdiri dari sejumlah rumah yang tersusun berjajar di sekitar halaman panjang sebagai ruang bersama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kompleks permukiman ini umumnya ditempati oleh keluarga besar yang memiliki ikatan kekerabatan. Beberapa generasi dalam satu garis keturunan tinggal berdekatan, sehingga memudahkan mereka untuk berinteraksi, saling membantu, serta menjalankan berbagai kegiatan keluarga dan tradisi adat.

Ciri Khas Pola Permukiman Tanean Lanjhang

Rumah adat Madura memiliki karakteristik yang membedakannya dari rumah tradisional di daerah lain di Indonesia. Keunikannya terlihat dari tata letak bangunan, penggunaan material, hingga fungsi setiap bagian dalam kompleks permukiman. Berikut ciri khas permukiman Tanean Lanjhang Madura.

ADVERTISEMENT

1. Memiliki Halaman Memanjang Sebagai Ruang Bersama

Salah satu ciri utama rumah adat Madura adalah halaman memanjang yang berada di tengah kompleks permukiman.

Area ini digunakan untuk berkumpul bersama keluarga, menerima tamu, mengadakan acara keluarga, hingga melaksanakan kegiatan sosial.

Keberadaan halaman bersama tersebut juga membantu mempererat hubungan antaranggota keluarga yang tinggal di kompleks Tanean Lanjhang.

2. Menggunakan Material Lokal

Rumah tradisional Madura umumnya memanfaatkan bahan bangunan yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti kayu, bambu, dan genteng tanah liat.

Penggunaan material tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat setempat dalam memanfaatkan sumber daya alam sekaligus menyesuaikan bentuk hunian dengan kondisi lingkungan.

3. Tata Letak Mencerminkan Hubungan Kekerabatan

Susunan rumah dalam kompleks Tanean Lanjhang tidak dibuat secara sembarangan, melainkan berkaitan dengan hubungan kekerabatan antaranggota keluarga.

Rumah orang tua umumnya menjadi acuan penempatan bangunan lainnya, sedangkan rumah anggota keluarga dari generasi berikutnya dibangun di sekitar kompleks yang sama.

Pola ini memungkinkan keluarga besar tetap tinggal berdekatan sekaligus mempertahankan hubungan kekeluargaan.

4. Memiliki Langgar atau Musala Keluarga

Langgar atau musala merupakan salah satu bagian penting dalam kompleks Tanean Lanjhang yang digunakan sebagai tempat beribadah dan menjalankan kegiatan keagamaan.

Selain untuk melaksanakan salat, bangunan ini juga dapat dimanfaatkan untuk belajar mengaji dan mengadakan kegiatan keagamaan bersama.

Keberadaannya mencerminkan eratnya hubungan antara nilai-nilai Islam dan kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.

5. Memiliki Warna dan Ornamen Tradisional

Sejumlah rumah tradisional Madura menampilkan warna-warna cerah, seperti merah, hijau, kuning, dan biru, yang dipadukan dengan ukiran atau ornamen khas.

Hiasan tersebut memberikan nilai estetika sekaligus memperkuat identitas arsitektur setempat.

Perpaduan warna dan dekorasi ini juga menunjukkan kekayaan seni serta tradisi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Madura.

Nilai Kekeluargaan dalam Tanean Lanjhang

Menurut Yetti Hidayatillah (2017) dalam jurnal berjudul "Komparasi Nilai Kekerabatan Tanèyan Lanjháng Masyarakat Madura", Tanean Lanjhang merupakan pola permukiman yang mencerminkan eratnya hubungan kekeluargaan masyarakat Madura.

Rumah-rumah yang berderet dalam satu halaman umumnya dihuni oleh keluarga yang memiliki hubungan darah maupun ikatan perkawinan.

Pola permukiman ini menjadi salah satu cara untuk mempertahankan tali persaudaraan antargenerasi.

Nilai kekeluargaan dalam Tanean Lanjhang tercermin melalui kebiasaan menjaga kerukunan, mempererat silaturahmi, dan bergotong royong.

Anggota keluarga dapat berkumpul dan berinteraksi untuk menjaga keharmonisan hubungan serta menyelesaikan permasalahan melalui musyawarah.

Dengan demikian, Tanean Lanjhang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang untuk memelihara kebersamaan dan solidaritas keluarga.

Meskipun demikian, kehidupan bersama dalam Tanean Lanjhang tetap berpotensi menimbulkan konflik, misalnya perselisihan mengenai lahan atau kebersihan lingkungan.

Oleh karena itu, sikap saling menghormati dan kesadaran menjaga kepentingan bersama diperlukan agar hubungan persaudaraan tetap terpelihara.

Nilai-nilai tersebut memperlihatkan bahwa Tanean Lanjhang memiliki makna sosial sebagai simbol kekeluargaan masyarakat Madura.

Apakah Tanean Lanjhang Masih Bertahan hingga Sekarang?

Tanean Lanjhang masih dapat ditemukan hingga sekarang, tetapi keberadaannya semakin berkurang akibat perubahan pola hidup dan faktor ekonomi.

Masyarakat setempat kini cenderung memilih rumah pribadi karena lebih mengutamakan privasi dan kemandirian dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, Tanean Lanjhang perlu dilestarikan sebagai warisan budaya Madura yang mengandung nilai kekeluargaan dan kebersamaan. Pengenalan kepada generasi muda menjadi salah satu upaya agar tradisi ini tetap dikenal di tengah modernisasi.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads