Masyarakat Suku Using Banyuwangi kembali menggelar ritual sakral Meras Gandrung. Tradisi tahunan yang menyedot perhatian ribuan warga dan wisatawan ini dilaksanakan tepat sehari menjelang puncak perhelatan akbar Festival Gandrung Sewu 2026 di Pantai Boom, Jumat (23/10).
Meras Gandrung merupakan ritual adat turun-temurun yang menandai kelulusan seorang penari hingga secara resmi diakui sebagai penari Gandrung profesional. Puncak kesakralan prosesi ditandai dengan pemasangan mahkota Omprog oleh sesepuh adat atau penari senior sebagai simbol restu kultural, kesiapan mental, dan legalitas spiritual.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyatakan bahwa tradisi Meras Gandrung menjadi fondasi utama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam merawat identitas budaya Suku Using sekaligus menjaga regenerasi seniman lokal. Untuk itu, pihaknya berkomitmen untuk menjaga kemurnian tradisi di tengah arus modernisasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meras Gandrung bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bentuk pelestarian warisan leluhur yang sarat nilai spiritual dan kedisiplinan. Melalui prosesi sakral ini, regenerasi penari Gandrung terus terjaga kualitasnya, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkuat posisi Banyuwangi di kancah nasional maupun internasional," ujar Ipuk.
Daya tarik Meras Gandrung tidak hanya dirasakan oleh warga lokal, tetapi juga para pelancong dari berbagai daerah. Mereka bahkan sengaja datang lebih awal untuk merasakan atmosfer magis tanah Blambangan.
Wulandari, salah seorang pengunjung yang hadir di lokasi mengaku terpesona bisa menyaksikan langsung prosesi adat tersebut, tak hanya saat acara utama tapi juga gladi resik kolosal.
"Sangat takjub bisa melihat langsung tradisi Meras Gandrung yang sarat makna. Selain sakral, momen ini juga menjadi bonus tersendiri bagi kami karena bisa menyaksikan gladi resik ribuan penari secara langsung sebelum panggung utama digelar. Nuansa magis dan kemegahannya sudah terasa sejak hari ini," tutur Wulandari.
Hal senada juga disampaikan oleh Dito Hanggoro, wisatawan asal Surabaya. Ia mengaku terkesan dan sudah tak sabar menantikan kemegahan puncak Gandrung Sewu 2026.
"Saya sengaja datang jauh-jauh dari Surabaya demi merasakan atmosfer kebudayaan yang khas dan berbeda di Banyuwangi. Perpaduan nilai tradisi yang sakral dan kemasan yang luar biasa membuat saya pastikan akan kembali hadir di Pantai Boom pada perhelatan utama Gandrung Sewu besok, Sabtu (24/10/2026)," tutur Dito.
