Hari Jadi Bangkalan 24 Oktober, Begini Sejarah dan Asal-usulnya

Hari Jadi Bangkalan 24 Oktober, Begini Sejarah dan Asal-usulnya

Myesha Fatina Rachman - detikJatim
Kamis, 22 Okt 2026 16:00 WIB
Hari Jadi Kabupaten Bangkalan.
Hari Jadi Kabupaten Bangkalan. Foto: Bangkalan
Bangkalan -

Kabupaten Bangkalan memperingati hari jadinya setiap 24 Oktober. Penetapan tanggal tersebut berkaitan dengan sejarah berdirinya pemerintahan Bangkalan, khususnya saat Raden Pratanu dinobatkan sebagai Panembahan Lemah Duwur pada 1531.

Sejarah Bangkalan memiliki kaitan erat dengan perkembangan kerajaan di Madura Barat. Salah satu wilayah yang menjadi cikal bakal pemerintahan Bangkalan adalah Plakaran di Arosbaya, yang berkembang menjadi pusat kekuasaan sebelum wilayah Madura Barat meluas. Lantas, bagaimana sejarah hari jadi Bangkalan?

Sejarah Penetapan Hari Jadi Bangkalan

Dilansir dari laman Pusaka Jawatimuran, penetapan hari jadi Bangkalan melalui proses kajian yang cukup panjang. Sejumlah penelitian, seminar, dan diskusi dilakukan untuk menentukan tanggal yang dianggap sesuai dengan awal sejarah pemerintahan di wilayah tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan hasil pembahasan Tim 19, DPRD Bangkalan menetapkan 24 Oktober 1531 sebagai hari jadi Bangkalan melalui sidang pada Mei 1992. Keputusan tersebut diambil secara aklamasi.

Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan penobatan Raden Pratanu sebagai Panembahan Lemah Duwur. Peristiwa itu menjadi penanda dimulainya pemerintahan baru yang memiliki peran penting dalam perkembangan wilayah Bangkalan.

ADVERTISEMENT

Raden Pratanu merupakan putra Raden Pragalba, penguasa Kerajaan Plakaran yang berpusat di Arosbaya. Ia kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh dalam sejarah di Madura Barat.

Awal Berdirinya Kerajaan Plakaran

Sejarah Bangkalan tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Kerajaan Plakaran di Arosbaya. Berdasarkan kajian sejarah Kerajaan Madura Barat, kerajaan tersebut didirikan oleh Ki Demung Plakaran pada awal abad ke-16.

Ki Demung Plakaran merupakan keturunan Aryo Pojok dan Nyai Ageng Budo. Ia kemudian menetap di Plakaran, Arosbaya, dan membangun pusat kekuasaan di wilayah tersebut.

Ki Demung Plakaran menikah dengan Nyi Sumekar dan dikaruniai lima orang anak. Salah satunya adalah Raden Pragalba, yang kemudian meneruskan kekuasaan ayahnya.

Pada masa pemerintahan Raden Pragalba, wilayah kekuasaan kerajaan berkembang hingga mencakup sebagian besar Madura Barat. Perkembangan ini menjadi salah satu tahap sebelum Bangkalan tumbuh sebagai pusat pemerintahan di kawasan tersebut.

Sosok Panembahan Lemah Duwur dalam Sejarah Bangkalan

Raden Pratanu atau Panembahan Lemah Duwur merupakan tokoh yang menjadi dasar penetapan hari jadi Bangkalan. Ia menggantikan ayahnya, Raden Pragalba, sebagai penguasa pada 1531.

Pada masa pemerintahannya, pusat kekuasaan berada di Arosbaya. Wilayah ini dinilai strategis karena mendukung jalur pelayaran dan hubungan perdagangan dengan sejumlah daerah di pantai utara Jawa Timur, seperti Gresik, Tuban, Sedayu, dan Lamongan.

Panembahan Lemah Duwur juga dikenal dalam penyebaran agama Islam di Madura Barat. Dalam catatan sejarah kerajaan setempat, ia disebut sebagai penguasa yang memeluk Islam dan mendorong perkembangan tersebut di wilayah kekuasaannya.

Selain itu, pada masa pemerintahannya dibangun keraton dan masjid di pusat kerajaan. Hubungan dengan kerajaan di Pulau Jawa juga berkembang, salah satunya melalui pernikahannya dengan putri dari Kerajaan Pajang.

Panembahan Lemah Duwur memerintah hingga tahun 1592. Setelah wafat, kekuasaan diteruskan oleh putranya yang dikenal sebagai Pangeran Tengah atau Raden Koro.

Setelah masa pemerintahan Panembahan Lemah Duwur, kerajaan di Madura Barat terus mengalami perkembangan. Sejumlah penguasa melanjutkan pemerintahan di wilayah tersebut hingga muncul Dinasti Cakraningrat.

Dalam perjalanan sejarahnya, kerajaan-kerajaan di Madura juga menjalin hubungan politik dengan kekuatan di Pulau Jawa, termasuk Mataram. Hubungan tersebut turut memengaruhi dinamika pemerintahan di Madura Barat.

Asal-usul Nama Bangkalan

Selain memiliki sejarah panjang sebagai pusat pemerintahan di Madura Barat, Bangkalan juga memiliki cerita mengenai asal-usul namanya. Salah satu kisah yang berkembang di masyarakat mengaitkan nama Bangkalan dengan kata bangka yang berarti mati atau tewas dan la'an yang berarti sudah.

Menurut cerita tersebut, penamaan Bangkalan berkaitan dengan legenda tewasnya Ki Lesap, sosok pemberontak sakti di wilayah Madura Barat. Namun, kisah ini merupakan bagian dari tradisi tutur sehingga perlu dibedakan dari catatan sejarah mengenai penetapan hari jadi Bangkalan.

Sementara itu, tanggal 24 Oktober 1531 ditetapkan sebagai hari jadi Bangkalan karena bertepatan dengan penobatan Raden Pratanu sebagai Panembahan Lemah Duwur. Peristiwa tersebut menjadi penanda awal pemerintahan yang dijadikan dasar penetapan hari jadi Kabupaten Bangkalan.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads