Mengenal Sorogan dan Bandongan, Tradisi Belajar Kitab Kuning di Pesantren

- detikJatim
Kamis, 22 Okt 2026 10:00 WIB
Ilustrasi kitab kuning. Foto: ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN
Surabaya -

Pesantren tidak hanya menjadi tempat santri mempelajari ilmu agama, tetapi juga ruang untuk menjaga tradisi keilmuan Islam yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu tradisi yang masih dikenal hingga sekarang adalah pembelajaran kitab kuning melalui metode sorogan dan bandongan. Keduanya sama-sama digunakan untuk memahami kitab klasik berbahasa Arab, tetapi memiliki cara belajar yang berbeda.

Dalam sorogan, santri membaca kitab secara langsung di hadapan kiai atau ustaz untuk mendapatkan bimbingan dan koreksi. Sementara itu, bandongan dilakukan secara berkelompok dengan pengajar membacakan sekaligus menjelaskan isi kitab.

Lantas, apa yang membedakan kedua metode tersebut, bagaimana penerapannya, dan mengapa keduanya masih penting dalam pendidikan pesantren? Simak informasi selengkapnya di sini.

Mengenal Tradisi Pembelajaran Kitab Kuning di Pesantren

Kitab kuning merupakan sebutan yang umum digunakan untuk kitab-kitab klasik berbahasa Arab yang dipelajari di lingkungan pesantren. Kitab-kitab tersebut menjadi rujukan dalam berbagai bidang ilmu keislaman, mulai dari fikih, tauhid, tafsir, hadis, hingga tasawuf.

Untuk mempelajarinya, santri tidak cukup hanya membaca teks berbahasa Arab. Mereka juga perlu memahami struktur bahasa, arti kata, konteks pembahasan, serta penjelasan ulama yang menjadi dasar pemahaman terhadap isi kitab.

Di sinilah metode pembelajaran tradisional pesantren memiliki peran penting. Sorogan dan bandongan menjadi dua cara yang memungkinkan santri mempelajari kitab kuning melalui bimbingan langsung dari kiai atau ustaz.

Meskipun sama-sama berfokus pada pemahaman kitab, kedua metode tersebut menempatkan santri dalam pola pembelajaran yang berbeda.

Sorogan menekankan kemampuan individual santri dalam membaca dan memahami teks, sedangkan bandongan memberikan kesempatan kepada banyak santri untuk mengikuti penjelasan materi secara bersama-sama.

Apa Itu Metode Sorogan?

Sorogan merupakan metode pembelajaran pesantren yang dilakukan secara individual. Dalam praktiknya, santri membaca kitab di hadapan kiai atau ustaz, kemudian pengajar menyimak, memberikan koreksi, dan menjelaskan bagian yang belum dipahami.

Melalui proses ini, pengajar dapat mengetahui secara langsung sejauh mana kemampuan santri dalam membaca teks Arab dan memahami isi kitab. Kesalahan dalam membaca atau menjelaskan makna dapat segera diperbaiki sebelum santri melanjutkan materi berikutnya.

Sorogan juga menuntut kesiapan santri sebelum mengikuti pembelajaran. Santri perlu mempelajari materi terlebih dahulu agar dapat membaca kitab dan mengikuti arahan pengajar dengan baik. Karena berlangsung secara individual, proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing santri.

Metode ini bukan sekadar latihan membaca kitab. Sorogan juga menjadi sarana untuk membiasakan santri belajar dengan tekun, teliti, dan bertanggung jawab terhadap materi yang dipelajari.

Dalam prosesnya, hubungan antara santri dan pengajar berlangsung secara langsung. Santri mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan pemahamannya, sedangkan kiai atau ustaz dapat memberikan bimbingan yang lebih terarah berdasarkan kemampuan santri tersebut.

Apa Itu Metode Bandongan?

Berbeda dengan sorogan, bandongan merupakan metode pembelajaran kitab kuning yang dilaksanakan secara berkelompok. Kiai atau ustaz membacakan teks kitab, menerjemahkan kata atau kalimat, kemudian menjelaskan maknanya kepada sejumlah santri yang mengikuti pengajian.

Selama pengajian berlangsung, santri menyimak penjelasan pengajar sambil mencatat arti kata, keterangan, atau informasi penting pada kitab masing-masing. Catatan tersebut membantu santri mengikuti pembahasan sekaligus menjadi bahan untuk mempelajari kembali materi setelah pengajian selesai.

Bandongan memungkinkan satu pengajar menyampaikan materi kepada banyak santri dalam waktu yang sama. Dengan begitu, para santri dapat mengikuti penjelasan yang sama dan memperoleh gambaran mengenai isi kitab secara bertahap.

Di sejumlah pesantren, metode ini juga dikenal dengan istilah wetonan. Istilah tersebut berkaitan dengan pelaksanaan pengajian yang dijadwalkan pada waktu tertentu. Pengajian dapat berlangsung sebelum atau sesudah salat fardu, bergantung pada kebiasaan dan pengaturan kegiatan di masing-masing pesantren.

Melalui bandongan, santri tidak hanya mengikuti bacaan kitab, tetapi juga menyimak penjelasan dan pemaknaan yang diberikan pengajar. Proses tersebut membantu mereka memahami pembahasan yang mungkin sulit dipelajari hanya dengan membaca teks secara mandiri.

Apakah Metode Sorogan dan Bandongan Masih Digunakan Saat ini?

Metode sorogan dan bandongan masih digunakan dalam pembelajaran kitab kuning di sejumlah pesantren hingga saat ini. Kementerian Agama Kota Pekalongan, misalnya, menyebutkan kedua metode tersebut tetap dipertahankan di Pondok Pesantren Ribatul Muta'allimin, berdampingan dengan pendidikan formal.

Selain itu, penelitian yang diterbitkan pada 2025 menyebutkan bahwa sorogan dan bandongan masih relevan untuk mendukung pemahaman kitab kuning, kedisiplinan belajar, serta pembentukan adab santri. Penerapannya dapat berjalan bersama sistem pendidikan yang menyesuaikan perkembangan zaman.



Simak Video "Video: Terungkap Pimpinan Ponpes di Lombok Lecehkan Santriwati Modus Mandi Tobat"

(Myesha Fatina Rachman/irb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork