Asal-usul Nama Kabupaten Jombang yang Rayakan Hari Jadi 21 Oktober

Asal-usul Nama Kabupaten Jombang yang Rayakan Hari Jadi 21 Oktober

Myesha Fatina Rachman - detikJatim
Rabu, 21 Okt 2026 14:00 WIB
Sejarah Ringin Contong, Landmark Kabupaten Jombang
Sejarah Ringin Contong, Landmark Kabupaten Jombang. Foto: Enggran Eko Budianto
Surabaya -

Kabupaten Jombang memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan kerajaan, tradisi masyarakat, hingga penyebaran agama. Selain dikenal sebagai Kota Santri, daerah ini juga memiliki sejumlah cerita mengenai asal-usul namanya yang diwariskan secara turun-temurun.

Hari Jadi Kabupaten Jombang diperingati setiap 21 Oktober. Penetapan tanggal tersebut berkaitan dengan sejarah pembentukan Jombang sebagai wilayah administratif setelah sebelumnya menjadi bagian dari Afdeeling Mojokerto pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Di balik sejarah tersebut, berkembang beragam cerita mengenai asal-usul nama Jombang. Salah satu versi yang dikenal masyarakat mengaitkannya dengan perpaduan warna ijo atau hijau dan abang atau merah dalam bahasa Jawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, menurut jurnal "Berawal dari Legenda ke Nama: Sisik Melik Kabupaten Jombang", terdapat enam versi cerita mengenai penamaan Jombang, yakni Kebokicak, Babat Desa Jombang, Demak, Lemah Ijo, Mojokambang, dan Mongol.

Asal-usul Nama Jombang dari Kata Ijo dan Abang

Salah satu cerita yang paling masyhur mengenai asal-usul nama Jombang berasal dari legenda Kebokicak. Dalam versi ini, nama Jombang dikaitkan dengan warna hijau dan merah yang muncul ketika dua tokoh terlibat pertarungan.

ADVERTISEMENT

Kisah tersebut berlatar masa pemerintahan Bre Kertabumi atau Brawijaya V ketika Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran. Pada saat bersamaan, wilayah barat Majapahit diceritakan mengalami wabah penyakit atau pageblug.

Dalam legenda tersebut, wabah diyakini berkaitan dengan dua siluman buaya yang bersemayam di tubuh banteng milik pendekar Surontanu. Gurunya, Ki Ageng Sumayana atau Ki Ageng Supayana memerintahkan Surontanu menyerahkan banteng tersebut untuk disembelih.

Namun, Surontanu telah berjanji untuk melindungi bantengnya. Kebokicak kemudian diperintahkan merebut banteng milik Surontanu. Keduanya terlibat pengejaran hingga akhirnya bertarung di sebuah kolam atau blumbang.

Pertarungan tersebut dikisahkan membuat air kolam berubah warna menjadi hijau dan merah. Warna hijau berasal dari tubuh Surontanu, sedangkan warna merah berasal dari tubuh Kebokicak.

Enam Versi Asal-usul Nama Kabupaten Jombang

Selain legenda Kebokicak, terdapat sejumlah cerita lain yang menjelaskan penamaan Jombang. Masih mengutip dari jurnal yang sama, berikut enam versi yang berkembang dalam tradisi cerita masyarakat.

1. Versi Babat Desa Jombang

Versi ini berkisah tentang Buyut Sarmi, seorang tokoh yang berasal dari Pare, Kediri. Ia diceritakan berpindah ke wilayah Regent Japan atau Mojokerto bersama istri dan kedua anaknya untuk mencari penghidupan.

Keluarga tersebut pertama kali datang ke Dapurkejambon. Buyut Sarmi kemudian melihat wilayah di bagian selatan yang dinilai dapat dibuka permukiman.

Setelah mendapat persetujuan pejabat, pembukaan lahan dilakukan dari utara ke selatan. Dalam proses tersebut, Buyut Sarmi menemukan sebuah jublangan atau lubang menyerupai kolam yang airnya berwarna merah seperti darah.

Warna merah dalam bahasa Jawa disebut abang. Berdasarkan cerita tersebut, daerah itu kemudian dinamai Jomblang, yang berasal dari istilah jublangan abang. Seiring waktu, penyebutannya berubah menjadi Jombang agar lebih mudah diucapkan.

2. Versi Demak

Versi Demak menghubungkan asal-usul nama Jombang dengan dinamika politik menjelang kemunduran Kerajaan Majapahit. Dalam cerita tersebut, Pangeran Jimbun atau Raden Patah mengirimkan pasukan Demak Bintara yang dibantu pasukan Campa untuk menuju ibu kota Majapahit.

Dalam perjalanan, kedua pasukan singgah dan beristirahat di wilayah Tunggorono. Dari kejauhan, pakaian mereka tampak memiliki dua warna berbeda. Pasukan Demak Bintara mengenakan pakaian hijau, sedangkan pasukan Campa mengenakan pakaian merah.

3. Versi Lemah Ijo

Versi Lemah Ijo berkaitan dengan legenda Gunung Tunggorono dan bentang alam di wilayah Jombang. Dalam cerita tersebut, Gunung Tunggorono digambarkan sebagai gunung berapi aktif yang pernah mengalami letusan dahsyat.

Letusan itu konon menyebabkan material vulkanik mengendap di aliran Sungai Brantas hingga memicu banjir bandang. Peristiwa tersebut dikisahkan terjadi pada masa pemerintahan Prabu Airlangga. Meski banjir melanda wilayah sekitarnya, Jombang disebut tidak mengalami kerusakan parah.

Setelah banjir surut, kawasan sekitar Gunung Tunggorono diceritakan dipenuhi tumbuhan liar yang tampak hijau dari kejauhan. Wilayah itu kemudian dikaitkan dengan istilah lemah ijo sing kambang, yang dalam versi cerita ini dimaknai sebagai tanah hijau yang mengapung.

4. Versi Mojokambang

Versi ini berkaitan dengan kisah pembukaan hutan pada masa Raden Wijaya bersama pengikutnya dan prajurit Aria Wiraraja. Dalam cerita itu, kawasan hutan yang semula dianggap angker perlahan berkembang menjadi permukiman. Di wilayah itu tumbuh banyak pohon maja yang menghasilkan buah bercita rasa pahit.

Ketika pembukaan hutan mencapai kawasan Sungai Brantas, buah-buah maja yang jatuh ke sungai terbawa arus. Dari kejauhan, buah-buah tersebut tampak seperti bola-bola hijau yang mengapung di permukaan air.

Pemandangan itu kemudian dikaitkan dengan istilah maja kambang atau mojo kambang. Menurut versi cerita ini, sebutan tersebut mengalami perubahan hingga menjadi Jombang.

5. Versi Mongol

Versi Mongol menghubungkan asal-usul nama Jombang dengan kisah kedatangan pasukan Mongol ke Jawa pada masa pemerintahan Kubilai Khan. Dalam cerita tersebut, Kubilai Khan mengirimkan utusan bernama Meng Ki kepada Raja Kertanegara dari Singasari.

Utusan itu dikisahkan mendapat perlakuan yang dianggap sebagai bentuk penolakan terhadap tuntutan Mongol. Kubilai Khan kemudian mengirimkan armada besar ke Jawa. Kapal-kapal itu berlabuh di sepanjang aliran Sungai Brantas, dari Megaluh hingga Kediri.

Sebagian besar kapal dalam cerita tersebut digambarkan berwarna merah. Pemandangan itu kemudian dikaitkan dengan istilah Jung Bang, yang dalam versi ini dimaknai sebagai kapal besar berwarna merah.

6. Versi Kebokicak

Asal-usul nama Jombang juga dikenal melalui legenda Kebokicak dan Pendekar Surontanu. Kisah ini berawal dari perebutan banteng milik Surontanu. Kebokicak mendapat perintah untuk merebut banteng tersebut, sedangkan Surontanu berusaha mempertahankannya.

Pengejaran keduanya berakhir dengan pertarungan di sebuah kolam. Dalam legenda tersebut, air kolam berubah menjadi hijau dan merah, yang masing-masing dikaitkan dengan Surontanu dan Kebokicak. Perpaduan warna ijo dan abang kemudian dihubungkan dengan nama Jombang.

Namun, di antara lima versi legenda asal-usul nama Jombang tersebut, legenda Kebokicak terus dikenal melalui penuturan lisan dan berbagai pertunjukan budaya di tengah masyarakat.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads