Madura Bukan Satu-satunya, Ini Daerah Penghasil Batik di Jatim

Madura Bukan Satu-satunya, Ini Daerah Penghasil Batik di Jatim

Maratus Sholikah - detikJatim
Kamis, 01 Okt 2026 20:00 WIB
Peserta belajar membuat batik tulis motif bambu di Papring, Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (21/6/2026). Pelatihan yang diikuti 25 peserta tersebut untuk meningkatkan keterampilan dan membuka peluang usaha sehingga dapat membantu peningkatan perekonomian sekaligus melestarikan budaya batik. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Batik di Banyuwangi. Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Surabaya -

Madura selama ini menjadi salah satu nama yang paling mudah muncul ketika membicarakan batik khas Jawa Timur. Padahal, kekayaan batik di provinsi ini tidak berhenti di Pulau Madura.

Sejumlah daerah lain seperti Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, dan Tuban juga memiliki sentra, motif, serta karakter batik yang tumbuh dari sejarah dan lingkungan masing-masing.

Perbedaan itu membuat batik Jawa Timur tidak memiliki satu tampilan yang seragam. Ada batik yang kuat dengan nuansa pesisir dan kehidupan nelayan, ada yang mengambil ikon kota.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada pula yang merekam jejak akulturasi budaya Jawa, Islam, dan Tionghoa. Lantas, daerah mana saja yang dikenal sebagai penghasil batik khas Jawa Timur?

Batik Jawa Timur Tumbuh dari Banyak Daerah

Tradisi membatik di Jawa Timur berkembang dalam latar budaya yang beragam. Wilayah pesisir utara, misalnya, memiliki sejarah interaksi perdagangan dan budaya yang panjang. Kondisi tersebut ikut mempengaruhi motif, warna, teknik, hingga penggunaan kain batik di sejumlah daerah.

ADVERTISEMENT

Madura dan Tuban termasuk wilayah yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi batik. Batik Madura, khususnya dari kawasan Tanjung Bumi, dikenal dengan karakter warna dan teknik pewarnaannya.

Sementara itu, Tuban memiliki batik gedog yang tidak hanya menampilkan motif khas, tetapi juga mempertahankan rangkaian proses tradisional, mulai dari pengolahan kapas, pemintalan benang, penenunan, hingga pembatikan.

Di sisi lain, perkembangan batik di daerah seperti Sidoarjo dan Surabaya menunjukkan bahwa tradisi batik juga dapat berkembang mengikuti identitas masyarakat perkotaan dan kawasan industri.

Karena itu, ketika menyebut batik khas Jawa Timur, Madura sebenarnya hanya salah satu bagian dari peta batik di provinsi ini. Berikut sederet daerah di Jatim penghasil batik.

1. Madura, Punya Batik Pesisir dengan Warna yang Berani

Batik Madura menjadi salah satu batik Jawa Timur yang paling dikenal. Salah satu sentra yang memiliki reputasi panjang adalah Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan.

Kawasan ini dikenal dengan batik tulis, termasuk batik gentongan yang memiliki teknik pewarnaan khas. Dalam sejumlah rujukan mengenai batik Madura, tradisi membatik di wilayah tersebut disebut telah berlangsung sejak berabad-abad lalu.

Menurut Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, perkembangan batik Madura diperkirakan telah berlangsung sejak 1293 dan berlanjut hingga abad ke-17.

Riwayat perkembangannya juga dikaitkan dengan Kerajaan Sumenep. Dalam sumber tersebut disebutkan bahwa Ario Prabuwinoto turut memperkenalkan batik sebagai bagian dari warisan budaya setempat.

Namun, karakter batik Madura tidak hanya menarik dari sisi sejarah. Motif dan warnanya juga menjadi pembeda yang mudah dikenali.

Salah satu cirinya adalah penggunaan warna-warna berani seperti merah, hijau, biru, dan kuning. Motif flora dan fauna juga banyak digunakan. Pada beberapa corak, terdapat pola titik-titik putih yang kerap diasosiasikan dengan Madura sebagai wilayah penghasil garam.

Khusus batik gentongan Tanjung Bumi, proses pewarnaannya menjadi salah satu bagian penting dari karakter kain.

Penelitian mengenai batik Madura yang diterbitkan Institut Seni Indonesia Yogyakarta mencatat teknik gentongan menggunakan proses perendaman dalam gentong dalam waktu panjang untuk menghasilkan warna yang khas.

Karakter pesisir juga terlihat dari sejumlah motif yang terinspirasi kehidupan laut, seperti ikan, udang, perahu, rumput laut, dan gelombang. Dengan demikian, batik Madura bukan sekadar kain bermotif, tetapi juga merekam kehidupan masyarakat pesisir di Pulau Madura.

2. Sidoarjo, dari Kampung Jetis hingga Motif Udang dan Bandeng

Bergerak ke arah selatan, Sidoarjo juga memiliki tradisi batik yang cukup kuat. Salah satu kawasan yang paling dikenal adalah Kampung Batik Jetis.

Batik Sidoarjo mempunyai beragam motif yang mengambil inspirasi dari lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat.

Motif udang dan bandeng termasuk yang paling mudah diasosiasikan dengan daerah ini karena berkaitan dengan karakter Sidoarjo sebagai wilayah yang memiliki potensi perikanan dan tambak.

Namun, batik Sidoarjo tidak hanya soal udang dan bandeng. Perajin juga mengembangkan motif lain yang terinspirasi dari tumbuhan, kehidupan sehari-hari, hingga filosofi lokal.

Diskominfo Kabupaten Sidoarjo menjelaskan bahwa pembuatan batik tulis membutuhkan ketelitian dan waktu yang tidak singkat. Untuk menghasilkan satu lembar kain dengan detail motif tertentu, prosesnya bahkan dapat berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan.

Karakter tersebut menunjukkan bahwa nilai batik Sidoarjo tidak hanya terletak pada motif akhirnya. Proses pengerjaan manual dan keterampilan perajin juga menjadi bagian penting dari nilai budaya kain tersebut.

Eksistensi batik Sidoarjo pun tidak hanya berada di Kampung Jetis. Perajin dari daerah lain ikut mengembangkan batik dengan desain dan identitas masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi membatik di Sidoarjo terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.

3. Surabaya, Motif Batiknya Banyak Mengambil Ikon Kota

Jika batik Madura banyak membawa karakter pesisir dan batik Sidoarjo dekat dengan lingkungan tambak, batik Surabaya justru banyak menjadikan identitas kota sebagai sumber inspirasi.

Surabaya memang memiliki karakter berbeda dalam perkembangan batiknya. Sejumlah sumber menyebut sejarah batik di Kota Pahlawan tidak mudah ditelusuri karena Surabaya sejak lama berkembang sebagai kota perdagangan dan daerah transit.

Meski demikian, berbagai motif batik khas Surabaya terus dikembangkan. Beberapa motif yang dikenal antara lain Ujung Galuh, Sawunggaling, Cheng Ho, dan Mangrove. Ada pula motif lain seperti Kembang Semanggi, Kintir-Kintiran, Remo Surabayan, hingga Abhi Boyo.

Motif Ujung Galuh, misalnya, menggunakan unsur hiu, buaya, dan daun semanggi yang sangat lekat dengan identitas Surabaya. Sementara motif Sawunggaling mengambil inspirasi dari kisah Joko Berek atau Sawunggaling.

Motif Cheng Ho juga membawa cerita berbeda. Motif ini terinspirasi dari perjalanan Laksamana Cheng Ho dan jejaknya di Surabaya, terutama kawasan Sungai Kalimas.

Sementara itu, motif Mangrove mengambil inspirasi dari ekosistem mangrove di kawasan pesisir Surabaya. Penggunaan unsur lingkungan tersebut membuat batik Surabaya tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi juga kondisi alam kota.

Dari sisi visual, batik Surabaya juga cenderung berani menggunakan warna yang lebih mencolok. Motifnya pun relatif bebas dan banyak menggunakan ikon yang mudah dikenali sebagai bagian dari identitas Kota Pahlawan.

4. Mojokerto, Membawa Jejak Budaya Lokal dan Majapahit

Batik khas Jawa Timur berikutnya dapat ditemukan di Mojokerto. Daerah ini memiliki hubungan yang kuat dengan sejarah Majapahit, sehingga unsur sejarah dan lingkungan lokal cukup sering muncul sebagai sumber inspirasi motif.

Salah satu motif yang dikenal dari Mojokerto adalah Surya Majapahit. Selain itu, terdapat motif Buah Mojo, Merico Bolong, Sisik Gringsing, serta berbagai motif flora.

Pengembangan motif batik Mojokerto juga terus berlangsung melalui kreativitas para perajin. Sejumlah perajin mengembangkan motif seperti daun kelor, mengkudu, bunga seroja, bunga seruni, dan buah manggis.

Karakter tersebut membuat batik Mojokerto tidak terpaku pada satu motif. Unsur sejarah, tumbuhan, dan lingkungan dapat dipadukan menjadi desain baru tanpa menghilangkan identitas daerah.

Warna yang digunakan pun relatif beragam dan dapat tampil cerah. Kombinasi merah, hijau, kuning, dan biru menjadi salah satu karakter yang kerap ditemukan dalam pengembangan batik Mojokerto.

Batik Mojokerto menunjukkan bagaimana warisan sejarah daerah dapat diterjemahkan ke dalam karya batik yang terus berkembang.

5. Tuban, Batik Gedog dengan Jejak Akulturasi Budaya

Di pantai utara Jawa Timur, Tuban memiliki salah satu tradisi batik yang paling khas, yakni batik tulis tenun gedog. Keunikan batik Tuban tidak hanya terletak pada motifnya, tetapi juga pada kain yang digunakan.

Dalam tradisi gedog, prosesnya dapat dimulai dari kapas yang ditanam, dipintal menjadi benang, kemudian ditenun secara manual sebelum akhirnya digunakan untuk membatik.

Pemerintah Kabupaten Tuban menyebut proses tradisional tersebut sebagai salah satu karakter penting batik gedog Tuban. Tekstur kainnya cenderung lebih tebal dan kasar ketika baru dibuat, kemudian menjadi lebih lembut setelah digunakan dan dicuci.

Dari sisi motif, batik Tuban memperlihatkan pertemuan beberapa pengaruh budaya. Unsur Jawa, Islam, dan Tionghoa dapat ditemukan dalam perkembangan batik pesisir tersebut.

Salah satu contoh yang paling mudah dikenali adalah motif burung hong atau phoenix. Motif tersebut dikaitkan dengan pengaruh budaya Tionghoa yang masuk melalui interaksi perdagangan di wilayah pesisir Tuban.

Pada awalnya, batik gedog juga memiliki fungsi yang erat dengan kehidupan adat masyarakat. Kain ini digunakan dalam berbagai upacara tradisional, termasuk sedekah bumi, pernikahan, dan pemakaman.

Seiring perubahan zaman, pemanfaatannya semakin luas. Batik gedog kini dapat dijadikan pakaian, aksesori, perlengkapan rumah, hingga berbagai produk kerajinan.

Pelestarian batik gedog Tuban juga terus mendapat perhatian. Pada 2025, kawasan Batik Tulis Tenun Gedhog Tuban ditetapkan sebagai Kawasan Berbasis Kekayaan Intelektual.

Pemerintah Kabupaten Tuban kemudian melanjutkan pembahasan mengenai perlindungan, pemanfaatan, pemasaran, dan regenerasi perajin.

Apa Ciri Khas Batik Jawa Timur?

Dari Madura hingga Tuban, terlihat bahwa tidak ada satu pakem visual yang bisa mewakili seluruh batik Jawa Timur.

Batik di wilayah ini justru memiliki karakter yang beragam. Batik pesisir seperti Madura dan Tuban banyak memperlihatkan pengaruh lingkungan, perdagangan, serta pertemuan berbagai budaya.

Sementara batik Sidoarjo kuat dengan unsur kehidupan lokal, sedangkan Surabaya banyak menerjemahkan ikon kota dan sejarahnya ke dalam motif.

Mojokerto juga menunjukkan pola yang berbeda dengan membawa unsur sejarah Majapahit serta kekayaan flora sebagai sumber inspirasi.

Secara umum, batik Jawa Timur dikenal memiliki pilihan warna yang cukup berani. Merah, biru, hijau, dan kuning dapat muncul dalam berbagai kombinasi. Motifnya juga relatif ekspresif dan tidak selalu terpaku pada pola geometris yang ketat.

Unsur alam menjadi salah satu sumber inspirasi yang banyak muncul, mulai dari bunga, tumbuhan, hewan, kehidupan laut, hingga lingkungan pesisir. Di luar itu, sejarah, tokoh, legenda, agama, dan pertemuan antarbudaya turut membentuk identitas batik di masing-masing daerah.

Karena itu, menyebut batik khas Jawa Timur hanya sebagai batik Madura tentu belum menggambarkan keseluruhan kekayaan wastra di provinsi ini. Madura memang memiliki tradisi yang kuat, tetapi Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Tuban, dan berbagai daerah lain juga memiliki cerita batiknya sendiri.



(ihc/irb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads