Menjaga Identitas Budaya Malang Lewat Pelestarian Budaya Boso Walikan

Menjaga Identitas Budaya Malang Lewat Pelestarian Budaya Boso Walikan

M Bagus Ibrahim - detikJatim
Senin, 28 Sep 2026 06:35 WIB
Deklarasi Ngalam Hebak di Sasana Krida Budaya, Celaket, Kota Malang
Deklarasi Ngalam Hebak di Sasana Krida Budaya, Celaket, Kota Malang (Foto: M Bagus Ibrahim/detikJatim)
Malang -

Pelestarian budaya Boso Walikan khas Malang tengah mendapat perhatian penuh dari para pemangku kepentingan. Pelestarian bahasa khas Malang ini dinilai penting untuk memperkuat identitas dari Kota Malang.

Salah satu upaya dalam pelestarian boso walikan ini dilakukan dalam gelaran Ngalam Hebak (Malang Kabeh) yang dihelat di Sasana Krida Budaya, Celaket, Kota Malang pada Minggu (27/9/2026).

Gelaran yang diinisiasi Polresta Malang Kota ini turut menggandeng Pemkot Malang, elemen masyarakat, budayawan hingga akademisi. Dalam gelaran itu, budaya boso walikan menjadi salah satu bahasan penting yang dinilai perlu mendapat perhatian penting untuk dilestarikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi menuturkan, gerakan melestarikan boso walikan ini lahir dari hasil diskusi intensif bersama akademisi dan berbagai elemen masyarakat.

ADVERTISEMENT

"Bahasa Walikan adalah identitas dan ciri khas Kota Malang yang membedakan dari daerah lain. Ini yang harus sama-sama kita gelorakan untuk terus menumbuhkan rasa kepedulian, rasa memiliki, serta harus kita jaga," kata Danang, Senin (28/9/2026).

Danang menambahkan, pelestarian boso walikan ini tidak hanya tumbuh dari keinginannya untuk merawat budaya serta adanya dorongan dari berbagai pihak yang turut mendukung.

"Kalau tidak kita, siapa lagi. Karena kita yang tinggal dan bersosialisasi disini (Kota Malang). Kita semua wajib menjaga, melestarikan, dan menggaungjan nilai-nilai patriotik, kebersaman, serta nilai-nilai baik yang menjadi indentitas Kota Malang," imbuhnya.

Upaya pelestarian boso walikan itu juga mendapat dukungan dari Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat. Menurutnya, adanya upaya memperkuat budaya khas Malang ini sangat sejalan dengan arah program-program yang digagas Pemkot Malang.

Ia menyampaikan bahwa boso walikan ini memang perlu digaungkan kembali agar kembali membumi. Mengingat, boso walikan ini memiliki nilai sejarah yang sangat kuat dan berhubungan dengan jejak perjuangan pahlawan lokal Mayor Hamid Rusdi.

"Osob Kiwalan ini kearifan lokal yang unik dan tidak dimiliki daerah lain di Indonesia. Bahasa ini melambangkan keakraban dan kekompakan keluarga besar Malangan. Melalui program Dasa Bhakti, kami berkomitmen menjaga tradisi ini agar tidak punah, termasuk menghidupkan kembali ragam kebudayaan lokal," ujar Wahyu.

Dalam gelarang tersebut juga mendeklarasikan Holopes Janji Ngalam Hebak sebagai berikut :

Kami, warga Ngalam Raya, dengan kesadaran dan tanggung jawab bersama, menyatakan komitmen untuk:

1. Menjunjung sejarah Ngalam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah, kebudayaan, dan peradaban Nusantara.

2. Memelihara dan mengembangkan budaya Ngalam, termasuk bahasa walikan, sastra, seni, tradisi, serta berbagai kearifan lokal sebagai warisan dan identitas bersama.

3. Menumbuhkan kebanggaan sebagai warga Ngalam dengan tetap rendah hati, terbuka, dan menghormati keberadaan serta martabat setiap daerah dan masyarakat.

4. Menjadikan Ngalam sebagai ruang bersama yang aman, terbuka, inklusif, dan ramah bagi setiap orang tanpa membedakan asal-usul, latar belakang, maupun status sosial.

5. Menjunjung tinggi martabat dan kesetaraan manusia dengan membangun kehidupan bersama yang bebas dari penghinaan, diskriminasi, kekerasan, dan intoleransi.

6. Memelihara keamanan, kedamaian, kerukunan, dan kenyamanan Ngalam melalui kesadaran, kepedulian, gotong royong, serta penghormatan terhadap hukum dan norma kehidupan bersama.

7. Mendorong kemajuan dan kesejahteraan Ngalam melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, teknologi, kelestarian lingkungan, serta berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

8. Memperkuat persaudaraan antara warga lokal dan pendatang, khususnya generasi muda, melalui pergaulan, komunikasi, dan dialog yang terbuka, setara, dan saling menghormati.

9. Menjaga keharmonisan antardaerah dan antarbudaya dengan memahami bahwa kecintaan kepada Ngalam merupakan bagian dari kecintaan kepada Indonesia dan tidak menjadi alasan untuk merendahkan daerah maupun budaya lain.

10. Menjaga nama baik dan kehormatan Ngalam dengan merawat kekayaan dan keunikannya, meperkenalkannya kepada Indonesia dan dunia, serta menjadikan Ngalam sebagai bagian dari kontribusi bagi kemajuan bangsa dan kemanusiaan.



(hil/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads