Filosofi "Eling lan Waspada" dalam Budaya Jawa

Filosofi "Eling lan Waspada" dalam Budaya Jawa

Irma Budiarti - detikJatim
Rabu, 17 Jun 2026 16:30 WIB
Ilustrasi masyarakat Jawa yang memegang teguh filosofi Jawa dalam kehidupan sehari-hari.
Ilustrasi masyarakat Jawa yang memegang teguh filosofi Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, masyarakat Jawa memiliki sebuah ajaran yang diwariskan turun-temurun, yakni "eling lan waspada". Ungkapan ini mengajarkan manusia untuk selalu sadar diri, ingat kepada Tuhan, sekaligus berhati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan.

Filosofi "eling lan waspada" tidak hanya menjadi petuah lisan, tetapi tertuang dalam karya sastra Jawa klasik yang hingga kini masih sering dikutip. Ajaran tersebut bahkan dinilai tetap relevan di era modern, ketika masyarakat dihadapkan pada derasnya arus informasi, persaingan hidup, hingga berbagai tantangan moral.

Asal-usul Filosofi "Eling lan Waspada"

Ungkapan "eling lan waspada" populer melalui karya pujangga besar Jawa, Ronggowarsito, dalam Serat Kalatida. Karya yang ditulis pada abad ke-19 itu menggambarkan kondisi masyarakat yang sedang mengalami kemerosotan moral dan ketidakpastian zaman. Salah satu bait yang paling terkenal berbunyi:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amenangi zaman Γ©dan,
Ewuhaya ing pambudi,
MΓ©lu ngΓ©dan nora tahan,
YΓ©n tan mΓ©lu anglakoni,
Boya keduman mΓ©lik,
Kaliren wekasanipun,
Ndilalah kersa Allah,
Begja-begjaning kang lali,
Luwih begja kang Γ©ling klawan waspada.

Artinya:

ADVERTISEMENT

Menyaksikan zaman gila,
Serba susah dalam bertindak,
Ikut gila tidak akan tahan,
Tapi kalau tidak mengikuti (gila),
Tidak akan mendapat bagian,
Kelaparan pada akhirnya,
Namun telah menjadi kehendak Allah,
Seberuntung-beruntungnya orang yang lalai,
Akan lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.

Pesan tersebut lahir dari kegelisahan Ronggowarsito terhadap kondisi masyarakat pada masanya yang ia sebut sebagai "jaman edan". Namun, pesan itu bersifat universal dan masih relevan hingga sekarang karena mengajarkan manusia agar tidak kehilangan akal budi dan kesadaran diri.

Apa Makna "Eling lan Waspada"?

Secara bahasa, "eling" berarti ingat atau sadar, sedangkan "waspada" berarti berhati-hati dan mawas diri. Dalam budaya Jawa, kedua istilah tersebut tidak dapat dipisahkan karena menjadi pedoman hidup masyarakat Jawa.

Dilansir Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan, "eling lan waspada" merupakan konsep yang berasal dari khazanah tradisi Jawa dan tasawuf akhlaki. "Eling lan waspada" dapat dimaknai sebagai sikap mawas diri.

Pada dimensi kemanusiaan, konsep ini berupa kesadaran atas potensi kekuatan dan kelemahan manusia. Sementara pada dimensi ketuhanan, "eling lan waspada" merupakan kesadaran atas Sangkan Paraning Dumadi, yaitu pemahaman mengenai asal-usul dan tujuan akhir kehidupan manusia.

Melalui kesadaran tersebut, manusia diharapkan mampu memahami siapa dirinya, ke mana arah hidupnya, dan bagaimana ia harus menjalani kehidupan sesuai nilai-nilai yang diyakininya.

Filosofi "Eling lan Waspada" Berkaitan dengan Sangkan Paraning Dumadi

Dalam filsafat Jawa, Sangkan Paraning Dumadi merupakan konsep yang membahas asal-usul dan tujuan akhir manusia. Konsep ini mengajarkan bahwa kehidupan bukan sekadar mengejar kepentingan duniawi, tetapi menjaga hubungan harmonis dengan sesama dan Tuhan.

Filsuf Franz Magnis-Suseno dalam bukunya "Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa" menjelaskan bahwa masyarakat Jawa sangat menekankan keseimbangan batin, pengendalian diri, serta kemampuan menjaga harmoni dalam kehidupan.

Karena itu, seseorang yang "eling" akan menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang terbatas. Sedangkan, sikap waspada membuatnya berhati-hati agar tidak mudah dikuasai hawa nafsu, kesombongan, maupun ambisi duniawi yang berlebihan.

Filosofi yang Tetap Relevan

Meski lahir ratusan tahun lalu, filosofi "eling lan waspada" masih terasa dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini. Di tengah derasnya arus informasi, gaya hidup konsumtif, hingga berbagai tantangan sosial, ajaran untuk selalu sadar diri dan berhati-hati justru semakin dibutuhkan.

Bagi masyarakat Jawa, "eling lan waspada" bukan sekadar ungkapan bijak, melainkan pedoman hidup. Seseorang diajak untuk selalu mengingat asal-usul dan tujuan hidupnya, tidak mudah terlena kesenangan dunia, sekaligus tetap waspada dalam bersikap dan mengambil keputusan.

Karena itu, pesan yang ditulis Ronggowarsito dalam Serat Kalatida masih sering dikutip hingga sekarang. Di tengah apa yang ia sebut sebagai "jaman edan", manusia mungkin tidak selalu bisa mengubah keadaan.

Namun, ia tetap bisa memilih untuk menjaga akal budi, kesadaran, dan kewaspadaan. Sebab, seperti kata sang pujangga, "sak begja-begjaning kang lali, luwih begja kang eling lan waspada", artinya seberuntung-beruntungnya orang yang lalai, lebih beruntung mereka yang tetap ingat dan waspada.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads