Budaya jimpitan ternyata masih eksis di wilayah Nganjuk kota. Salah satunya di Kampung Jarakan, Kelurahan Kramat, Kecamatan Nganjuk.
Di Kampung Jarakan ini, jimpitan diambil setiap hari oleh petugas ronda yang sedang piket. Kemudian hasil Jimpitan diarahkan ke ketua RT setempat untuk dimasukkan dalam kas.
"Jimpitannya berupa uang seikhlasnya. Jadi dimasukkan dalam kaleng yang sudah dipasang di bagian depan rumah warga. Petugas ngambilnya pas malam, jam 21-an gitu," ungkap Nono, salah satu petugas ronda ditemui detikJatim, Kamis (11/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Nono, dulunya jimpitan di kampungnya berupa beras. Namun sekarang, agar lebih praktis, warga sepakat menggantinya dengan uang seikhlasnya.
"Kalau uang kan lebih praktis. Uang jimpitan nantinya akan kembali ke warga yang membutuhkan, seperti bantuan kematian atau orang yang sedang sakit," bener Nono.
Sementara Pemerhati Budaya dan Sejarah Nganjuk, Sukadi menyampaikan bahwa budaya jimpitan sudah ada sejak lama, pascakemerdekaan.
"Keamanan saat itu kan menjadi faktor yang sangat krusial. Jadi tujuan jimpitan yaitu supaya rumah warga didatangi peronda.
Dengan mengambil jimpitan ke rumah-rumah, sisi keamanan terjaga," terang Sukadi.
Dari sisi ekonomi, lanjut Sukadi, uang jimpitan yang terkumpul di RT setempat, akan dipakai untuk kegiatan sosial. Seperti memberikan sumbangan kematian atau orang yang sedang sakit.
"Kadang juga untuk perbaikan-perbaikan di RT. Misal pergantian kabel atau lampu gang di wilayah RT, dan lain sebagainya," tambahnya.
Sukadi menyebut bahwa masyarakat Nganjuk masih memegang teguh budaya jimpitan tersebut. Meskipun ada beberapa wilayah, yang mengubah polanya.
"Jadi ada yang pola jimpitannya tidak diambil peronda. Tapi warga mengumpulkan ke rumah RT. Saya rasa yang paling-paling adalah diletakkan di kaleng, agar peronda mendatangi rumah warga. Sembari mengecek keamanan kampung," paparnya.
Lebih dari itu, Sukadi menilai bahwa budaya jimpitan ini dapat terus memupuk rasa gotong royong, rasa kepedulian sosial dan kebersamaan antar warga.
(auh/dpe)
