Mandi Besar dengan Air Kembang Setaman di Malam 1 Suro

Mandi Besar dengan Air Kembang Setaman di Malam 1 Suro

Mira Rachmalia - detikJatim
Rabu, 10 Jun 2026 10:00 WIB
Ilustrasi malam 1 Suro dan berbagai tradisinya.
Ilustrasi malam 1 Suro dan berbagai tradisinya. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Menjelang malam 1 Suro, banyak masyarakat Jawa mulai menjalankan berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu yang paling dikenal adalah tradisi siraman atau mandi besar menggunakan air yang dicampur kembang setaman.

Ritual ini bukan sekadar membersihkan tubuh, tetapi dipercaya sebagai simbol penyucian diri untuk menyambut tahun baru Jawa dengan hati dan pikiran yang lebih bersih.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi mandi besar malam 1 Suro masih terus dilestarikan di sejumlah daerah, termasuk oleh komunitas masyarakat Jawa di luar Pulau Jawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apa makna di balik penggunaan air kembang setaman, bagaimana tata cara pelaksanaannya, dan mengapa tradisi ini masih dijaga hingga sekarang? Berikut penjelasannya.

Tradisi Siraman Malam 1 Suro

Malam 1 Suro merupakan malam pergantian tahun dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Bagi sebagian masyarakat Jawa, malam ini dianggap sebagai waktu yang sakral.

ADVERTISEMENT

Terutama untuk melakukan refleksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, sekaligus membersihkan diri dari berbagai hal negatif yang terjadi selama setahun terakhir. Salah satu tradisi yang masih dijalankan adalah siraman malam 1 Suro atau mandi besar menggunakan air kembang setaman.

Tradisi ini masih lestari di berbagai komunitas masyarakat Jawa. Keberadaan tradisi tersebut tercatat dalam penelitian Wulan Selviana, mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, melalui skripsinya yang berjudul "Ritual Menyambut Bulan Suro pada Masyarakat Jawa".

Menurut penelitian tersebut, masyarakat setempat tetap mempertahankan ritual siraman sebagai bagian dari warisan budaya leluhur. Tradisi ini tidak dimaknai sebagai bentuk pemujaan selain kepada Tuhan, melainkan sebagai simbol penyucian diri yang diwariskan secara turun-temurun.

Apa Itu Mandi Besar dengan Air Kembang Setaman?

Siraman malam 1 Suro dilakukan menggunakan air yang telah dicampur dengan kembang setaman. Kembang setaman sendiri merupakan campuran beberapa jenis bunga yang umum digunakan dalam tradisi Jawa, seperti bunga kantil, mawar merah, mawar putih, dan melati.

Dalam filosofi Jawa, bunga-bunga tersebut tidak dipilih secara sembarangan. Setiap bunga memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan kesucian, ketulusan, keharuman budi pekerti, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Air dan bunga kemudian dipadukan sebagai simbol pembersihan lahir dan batin. Karena itulah, siraman malam 1 Suro tidak hanya dipahami sebagai aktivitas mandi biasa, melainkan ritual spiritual yang sarat makna filosofis.

Makna Filosofis

Dalam tradisi Jawa, siraman dikenal sebagai bentuk sembah raga atau penyucian jasmani. Melalui ritual ini, seseorang diharapkan dapat membersihkan hati, pikiran, perkataan, serta tindakan dari berbagai energi negatif yang menumpuk selama setahun terakhir.

Momentum pergantian tahun Jawa dianggap sebagai waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri. Oleh sebab itu, saat menjalani siraman, masyarakat biasanya memanjatkan doa kepada Tuhan agar diberikan keselamatan, kesehatan, ketenangan hidup, serta dijauhkan dari berbagai musibah dan mara bahaya.

Makna terpenting dari ritual ini sebenarnya bukan terletak pada air atau bunga yang digunakan, melainkan pada niat untuk memperbaiki diri dan memulai lembaran baru dengan hati yang lebih bersih.

Tata Cara Mandi Besar Malam 1 Suro

Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa, siraman dilakukan dengan mengguyurkan air kembang setaman dari kepala hingga kaki menggunakan gayung.

Jumlah siraman yang digunakan umumnya memiliki makna simbolis tersendiri. Tujuh kali siraman sering dipilih karena angka tujuh atau pitu dalam bahasa Jawa dimaknai sebagai harapan memperoleh pitulungan atau pertolongan dari Tuhan.

Sebelas kali siraman juga kerap digunakan. Angka sebelas atau sewelas dimaknai sebagai doa agar memperoleh kawelasan atau belas kasih Tuhan.

Sementara itu, sebagian masyarakat melakukan tujuh belas kali siraman. Angka ini merupakan gabungan simbol pitulungan dan kawelasan, yang melambangkan harapan akan pertolongan sekaligus kasih sayang Tuhan dalam menjalani kehidupan.

Tradisi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa menghubungkan angka, bahasa, dan doa menjadi satu kesatuan simbolik yang sarat makna spiritual.

Mengapa Siraman Dianjurkan Dilakukan di Luar Rumah?

Dalam sejumlah tradisi Jawa, siraman malam 1 Suro dianjurkan dilakukan di halaman atau area terbuka dibandingkan di dalam rumah. Secara filosofis, hal ini dimaknai sebagai upaya menyatukan diri dengan alam semesta.

Masyarakat Jawa meyakini bahwa manusia merupakan bagian dari alam sehingga keseimbangan antara keduanya perlu terus dijaga.

Melalui siraman di ruang terbuka, seseorang diharapkan dapat merasakan keharmonisan dengan alam, sekaligus menjadi simbol pelepasan energi negatif yang selama ini membebani pikiran dan perasaan.

Kapan Malam 1 Suro 2026?

Malam 1 Suro merupakan malam yang menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa. Pada tahun 2026, tanggal 1 Suro 1959 Jawa jatuh pada Rabu 17 Juni 2026, sehingga malam 1 Suro berlangsung sejak Selasa malam 16 Juni 2026, setelah waktu Magrib hingga memasuki Rabu 17 Juni 2026.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang kerap bertepatan dengan awal bulan Muharram, pada tahun ini, tanggal 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Selasa 16 Juni 2026, sedangkan 1 Suro jatuh sehari setelahnya, yakni Rabu 17 Juni 2026.

Meski tidak berlangsung bersamaan, malam 1 Suro tetap dianggap sebagai momen sakral oleh sebagian masyarakat Jawa. Berbagai tradisi dan ritual, seperti tirakat, doa bersama, hingga kirab budaya, biasanya mulai dilaksanakan pada malam pergantian tahun Jawa tersebut.

Perlu dipahami bahwa mandi besar dengan air kembang setaman bukanlah kewajiban dalam ajaran agama. Tradisi ini merupakan bagian dari budaya masyarakat Jawa yang berkembang sebagai sarana refleksi diri dan pelestarian nilai-nilai leluhur.

Karena itu, masyarakat dapat menyikapinya sebagai warisan budaya yang sarat makna filosofis tanpa harus memandangnya sebagai sesuatu yang wajib dilakukan. Esensi utamanya terletak pada niat memperbaiki diri, menjaga hubungan dengan sesama, serta mendekatkan diri kepada Tuhan saat memasuki tahun baru Jawa.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads