- Sejarah Reog Cemandi
- Pemain Reog Cemandi Barongan Lanang Barongan Wadon
- Ragam Gerak Tari Reog Cemandi 1. Hormat Pembuka 2. Jalan Putar 3. Hormat ke Dalam Lingkaran 4. Hormat ke Samping Lingkaran 5. Putar ke Dalam Lingkaran 6. Gerakan Silat 7. Gerak Barongan Lanang 8. Gerak Barongan Wadon
- Iringan Musik Reog Cemandi
Ternyata, seni budaya reog bukan cuma ada di Ponorogo. Sidoarjo juga punya loh! Namanya Reog Cemandi. Kesenian asal Sidoarjo ini hadir dengan ciri khas berbeda. Mengandalkan kendang, angklung, serta topeng barongan sebagai daya tarik utamanya.
Reog Cemandi memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat. Kesenian ini tumbuh dari masyarakat Desa Cemandi dan berkembang sebagai media dakwah, perjuangan, hingga akhirnya menjadi bagian dari tradisi yang masih lestari hingga sekarang.
Sejarah Reog Cemandi
Reog Cemandi berawal dari kisah Abdul Katimin, seorang santri yang kembali ke Sidoarjo sekitar tahun 1917 setelah menimba ilmu di pesantren. Dalam perjalanan pulangnya, ia bertemu dengan sekelompok pemuda di daerah Pagerwojo yang gemar menabuh kendang namun belum memahami ajaran agama dengan baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Katimin kemudian mengajarkan nilai-nilai Islam kepada para pemuda tersebut. Menariknya, kebiasaan mereka bermain kendang dan menari tidak dihentikan, melainkan dimanfaatkan sebagai media dakwah. Irama kendang diubah menyerupai rebana sehingga menarik perhatian warga untuk datang ke surau dan ikut beribadah.
Memasuki tahun 1920-an, kondisi berubah seketika penjajah Belanda mulai menarik pajak dari warga Desa Cemandi. Untuk melawan hal tersebut, Katimin bersama warga menciptakan pertunjukan yang memadukan kendang dan topeng barongan yang terlihat menyeramkan. Pertunjukan ini jadi strategi untuk mengelabui tentara Belanda. Saat para tentara lengah dan larut dalam pertunjukan, warga kemudian melawan hingga akhirnya penjajah tidak lagi berani datang ke desa tersebut.
Dari peristiwa inilah, pada tahun 1922 kesenian tersebut resmi dinamakan Reog Cemandi. Semangatnya mirip Reog Ponorogo yang sama-sama kuat dan meriah.
Seiring waktu, Reog Cemandi terus berkembang. Awalnya digunakan sebagai sarana dakwah dan perlawanan, kemudian berfungsi sebagai ritual penolak bala dalam acara bersih desa.
Kini, Reog Cemandi juga kerap dihadirkan sebagai hiburan dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan, hingga festival budaya, tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional yang terkandung di dalamnya.
Pemain Reog Cemandi
Jumlah pemain dalam pertunjukan Reog Cemandi sekitar 13 orang. Mereka terdiri dari penari barongan, penabuh kendang, serta pemain angklung. Dalam pertunjukan ini, terdapat dua tokoh utama yang ditampilkan melalui topeng barongan, yaitu Barongan Lanang dan Barongan Wadon.
Barongan Lanang
Topeng Barongan Lanang terbuat dari kayu nangka dengan bentuk wajah pria yang terlihat garang. Ciri khasnya adalah warna merah pada wajah serta kumis yang menambah kesan tegas.
Untuk busana, tokoh ini mengenakan pakaian dominan hitam yang dipadukan dengan kaus garis (lerek) atau kaus merah polos. Penampilannya juga dilengkapi dengan senjata berupa pedang.
Barongan Wadon
Berbeda dengan lanang, Barongan Wadon digambarkan sebagai sosok perempuan yang lembut dan anggun, dengan topeng berwarna putih.
Kostum yang dikenakan biasanya berupa kebaya atau kain batik, serta dilengkapi selendang sebagai properti pendukung gerak tari.
Ragam Gerak Tari Reog Cemandi
Kesenian Reog Cemandi berisi tarian yang jadi unsur utama keseluruhan pertunjukkan. Secara garis besar, pola geraknya terbagi jadi dua, yakni gerak terstruktur dari penari kendhang dan gerak spontan dari penari topeng barongan. Berikut rinciannya, dilansir dari penelitian "Pergeseran Fungsi Kesenian Reog Cemandi Di Desa Cemandi Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo" karya Nindia Aldinov:
1. Hormat Pembuka
Pertunjukan diawali dengan sepuluh penari berbaris menghadap penonton, lalu membungkuk sebagai tanda penghormatan setelah aba-aba dari penari kendhang utama.
2. Jalan Putar
Enam penari kendhang berjalan membentuk lingkaran, lalu berputar ke kanan dan kiri sebanyak tiga kali sambil mengayunkan kendhang.
3. Hormat ke Dalam Lingkaran
Penari menghadap ke pusat lingkaran, menekuk kaki hingga posisi berlutut sebagai bentuk penghormatan ke dalam formasi.
4. Hormat ke Samping Lingkaran
Gerakannya mirip sebelumnya, tetapi arah hadap bergeser ke samping (kanan) dari lingkaran.
5. Putar ke Dalam Lingkaran
Penari berdiri tegak, lalu memutar badan dari arah dalam ke luar lingkaran secara perlahan sambil membawa kendhang.
6. Gerakan Silat
Dua penari dari sisi berlawanan maju ke tengah lingkaran dan melakukan gerakan menyerupai silat sambil memainkan kendhang.
7. Gerak Barongan Lanang
Penari topeng laki-laki bergerak spontan, mengangkat tangan dan mengayunkan golok ke depan sambil mengikuti alur tarian.
8. Gerak Barongan Wadon
Penari topeng perempuan juga bergerak bebas dengan memainkan sampur yang diayunkan ke depan dan samping.
Iringan Musik Reog Cemandi
Musik pengiring tampilan Reog Cemandi dibagi menjadi dua, yaitu musik internal dan musik eksternal. Musik internal merupakan nyanyian yang dilantunkan oleh enam penari kendhang. Berikut syair dan artinya sekaligus:
Iki Reog Reog Cemandi
(Ini Reog Reog Cemandi)
Reog'e wong Sidoarjo
(Reognya orang Sidoarjo)
Ayo kanca podo nyawiji
(Mari teman kita bersatu)
Bebarengan bangun negoro
(Bersama bangun negara)
Lakune wong urip iling Gusti niro
(Perjalanan orang hidup ingat sang pencipta)
Tansah ibadah ing tengah ratri
(Selalu beribadah di tengah malam)
Suci diri jiwo miworogo
(Suci diri jiwa dan raga)
Sumingkira barang olo, sing nggudo riko, iling Gusti niro Sing sayuk sing rukun
(Musnahlah sesuatu yang jelek, yang menggoda kami, ingat Gusti Pangeran)
Sementara musik eksternal Reog Cemandi dihasilkan dari enam buah kendhang dan dua buah angklung. Enam kendhang yang digunakan terdiri dari berbagai jenis tabuhan, yakni satu drendeng, satu bem, dua dhang, dan dua selan. Irama tersebut disebut menghadirkan nuansa religius karena menyerupai lantunan dzikir "Laa Ilaha Illallah".
