15 Puisi Menyentuh Hati untuk Dibacakan Saat Perayaan Hari Kartini

15 Puisi Menyentuh Hati untuk Dibacakan Saat Perayaan Hari Kartini

Anastasia Trifena - detikJatim
Senin, 20 Apr 2026 14:00 WIB
Ilustrasi perayaan hari Kartini. Rayakan dengan puisi-puisi indah ini.
Ilustrasi perayaan hari Kartini. Rayakan dengan puisi-puisi indah ini. Foto: ChatGPT
Surabaya -

Perayaan hari Kartini pada 21 April kerap diisi dengan berbagai macam acara. Lomba membaca puisi salah satunya, mengingat puisi adalah sajak paling jujur untuk menyuarakan kembali perjuangan yang pernah membara.

Melalui rangkaian kata yang singkat dan indah, semangat perempuan meraih emansipasi di masa lampau seakan dapat kembali dihidupkan. Puisi Kartini menjadi pengingat nilai kesetaraan dan keberanian. Bait-bait yang menyentuh mengajak perempuan masa kini untuk terus melangkah maju dengan keyakinan dan harapan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kumpulan Puisi tentang Kartini

Berikut telah detikJatim kumpulkan puisi-puisi bertema Kartini yang disadur dari buku "Antologi Puisi Kartini 2021: 50 Puisi Terbaik Sayembara Puisi Kartini" yang diterbitkan Perpustakaan Nasional RI.

1. Kartiniku Kini

Karya: Mochamad Riduwan

ADVERTISEMENT

Saat pena kau tempelkan secarik kertas
Tersusunlah kata-kata sukma meretas
Membawa perubahan awal sepintas
Hingga kaummu menyambut penuh antusias

Kini wahai Kartiniku
Kaummu seakan melupakanmu
Tersibuk dengan lautan ambigu
Terlupa akan sebuah perilaku

Wahai Kartiniku kini
Tidaklah mentari lupa menanti pagi
Saatnya dirimu membekali literasi
Saatnya dirimu penuh berinovasi

Wahai Kartiniku kini
Sudahkah dirimu menyelami diri
Mencari dimana peradaban nanti
Mengikuti aliran tsunami teknologi

Sepatah tulisan membawa pesan
Sebarisan kalimat membuyarkan angan
Sebait paragraf merubah peradaban
Majulah Kartiniku kini tuk kemajuan zaman

2. Tanduk Perempuan

Karya: Naurah Risadamayanti

Baswara rupa kami, buntara jiwa kami
Ibu Kartini titip pesan kepada kami
Jaga elok-elok seberkas harga diri
Angkat tinggi-tinggi kehormatan ini

Di saat ini tak lagi perempuan dikekang
Tak ada lagi kami dianggap membangkang
Hak-hak untuk kami kembali secara utuh
Tidak dipentingkan hanya saat butuh

Derajat, kini telah setara adanya
Pendidikan diemban secara merata
Mampu berdiri sejajar dengan putra
Ini masanya kami bebas berOleh

Siapa yang segan suruh kami untuk menunduk?
Jangan pikir kami tidak punya tanduk
Kami dapat saja buas nan liar menyeruduk
Pengetahuan membuat kami tak lagi terpuruk

3. Cinta Membaca

Karya: Zahdinny Mucharina Fadhillah

Kartini wanita Indonesia
Peranmu di bumi pertiwi belum usai
Selalu dinanti peranmu di bumi ini

Ungkapkan isi hatimu lewat tulisan
Ungkapkan pikiranmu lewat oleh
Bacalah selalu tuangkan dalam sebuah oleh

Tanpa literasi hilang jati diri
Jangan sampai hilang diterpa angin
Namun tetaplah ilmu abadi
Dengan literasi bangkitkan budaya baca

Tidak cukup dengan membaca
Tuangkan apa isi dalamnya
Tuangkan dalam bentuk oleh tulis
Agar dikenal seluruh penjuru

Cintai membaca
Bacalah kamu akan dikenal dunia
Bacalah ilmu sangat luas

Ilmu seluas lautan
Penerus Kartini tidak cukup membaca
Buktikan cinta membaca dan hasilkan Oleh

4. Kartini Milenial

Karya: Azwar Aswin

Kau kini tak lagi harus berada di belakang.
Ucapkanlah terima kasih pada seorang pengarang:
Yang menulis surat-surat ke kawannya di negeri orang.
Suarakan keinginan kaummu untuk bebas bertualang di padang ilalang.

Kebayamu dijahit dengan benang-benang literasi.
Batikmu ditulis dengan kebebasan berekspresi.
Rambutmu kau sanggul dengan pena.
Sandal kebaya kau ganti dengan sepatu kets.

Kadang ada terlalu banyak buku,
dan terlalu sedikit waktu.
Kadang ada terlalu banyak waktu,
dan terlalu sedikit buku.

Karena itulah kawanku Kartini milenial
rela membawa buku ke pelosok-pelosok sepi,
Mengajak siapapun yang dia temui
untuk jatuh cinta pada kata-kata.

Karena itulah kawanku Kartini Milenial
rela membawa buku ke tengah-tengah ramai,
Mengajak siapapun yang dia temui
untuk jatuh bangun pada cita-cita.

5. Perempuan itu Buku

Karya: Sio Hutasoit

Apa kau tahu? Jika perempuan itu Buku.
Tintanya biru teduh.

Perempuan itu Gudangnya Ilmu.
Isinya tak hanya asmara candu, namun arti dari tulus
Pengorbanan tanpa keluh.

Walau dituntut harus sempurna sungguh, Namun...
Perempuan tahu nikmatnya berdiri teguh, tanpa kompromi waktu.

Di dalam Buku akan kau temukan cerita tentang cinta yang utuh.
Walau hidup tak semanis madu, tangis menderu bahkan sakit berdentum
Tapi tak pernah ia tulis bahwa hidup sepahit empedu.

Hanya ada bait tentang nyanyian syukur
Sayangnya, Buku itu tak bisa kau beli dengan sekuntum bunga warna ungu
Tapi tawarlah dengan rindu yang sudah kau pupuk

Tenang saja, tak perlu ragu...
Karena, dari buku itu akan kau temukan bahwa perempuan adalah pangkal restu

Juga sajak-sajak tentang doa ibu
Yang tiap hari ia tulis dengan tangguh

Perempuan tak pernah layu
Perempuan itu Buku
Perempuan itu aku.

6. Literasi Kartini

Karya: Maorit

Kartini mengajarkan kami
Bahwa tulisan itu adalah ungkapan ekspresi
Menulis adalah menyusun ide
Menjadi gagasan yang mendobrak tradisi

Kartini meyakinkan kami bahwa
Membaca itu membuka jendela dunia
Mengisi pikiran dengan pengetahuan
Membuka diri pada kesempatan

Kartini membuktikan kekuatan bahasa
Bertata krama gadis Jawa
Bertutur Bahasa Indonesia
Berkomunikasi Bahasa Belanda dengan sempurna

Kartini menunjukkan kepada kami
Bahwa revolusi berakar dari rumah
Pendidikan pertama kami adalah bunda
Yang mengajarkan kami berbicara dan menanamkan cita-cita

Kartini mendorong kami maju
Dengan senjata kertas, pena dan buku
Kaki kami memang menjejak tanah
Tapi wawasan kami luas seluas angkasa

7. Ketika Puan Merapal Aksara

Karya: Ratna Agustina

Ketika puan merapal aksara
Seiring lembaran-lembaran yang terbuka
Kesadaran menyeruak dalam sahaja
Akan sebuah peran yang disandangnya
Bahwa hidup adalah tentang memberi makna

Ketika puan merapal aksara
Keluarga menjadi tempat pertama
Menabur benih cinta akan membaca
Bermula dari teladan yang kasat mata
Memantik bara seiring pembiasaan yang ditata

Ketika puan merapal aksara
Bersama bersekutu menyatukan asa
Memproyeksikan keberaksaraan bangsa
Dengan meramu pola untuk lebih berdaya
Bunga rampai karsa dalam Oleh nyata

Ketika puan merapal aksara
Khazanah cinta itu elok menjelma
Di balik bilik taman bacaan yang tercipta
Seiring budaya tutur yang kian mengemuka
Membaca nyaring dan mendongeng jadi primadona

Ketika puan merapal aksara
Ada gelora yang terus membara
Tatkala yang tersirat itu tersurat dalam tinta
Pada lembaran yang tak lekang oleh sangkala
Di mana puan menuliskan renjana

8. Kartini Masa Depan

Karya: Fiddinillah

Aku perempuan Indonesia
Menelan gelap menjadi pagi
Menantang kebodohan diri sebagai jati diri seorang aku

Mungkin lelah menggoda berkata sudah
Tapi sadar, diri kecil menyandang cita cita tinggi

Bila satu buku saja sudah menjadi penerang jalan,
Membias ke segala penjuru,
Menerobos celah tirai jendela dunia
Mengapa tak kucoba satu buku lagi saja?

Aku perempuan Indonesia
Tak akan buta menjadi identitasku
Bila payahnya literasi menjadikanku bungkam, aku tak mau seperti itu.

Biarlah hitam mataku, kapal tanganku, rontok rambutku
Jauh lebih baik bagiku dari pada gelap dunia ku

Aku mampu berdaya
Kelak, bila mana aku dapat melihat dunia
Akan ku seberangi pelita kepada perempuan Indonesia ku

Aku perempuan Indonesia
Aku potensi Indonesiaku

9. Emansipasi Masa Kini

Karya: Waidah

Emansipasi masa kini
Kami wanita yang berjuang untuk meraih mimpi
Dengan semangat penuh dedikasi
Tidak hilang kodrat tetap menjunjung kehormatan diri

Kami wanita dalam inspirasi
Wanita yang penuh cinta kasih menjaga keluarga
Wanita yang penuh sayang mendidik anak bangsa
Wanita yang penuh perhatian merawat sesama
Wanita yang punya semangat dalam bekerja

Wanita yang beroleh dan berekspresi
Wanita yang mendedikasikan untuk negeri
Dan semua wanita yang membawa misi
Dalam Panji perjuangan wanita sejati

Kami wanita yang tangguh dan mandiri
Namun tetap lembut dalam pribadi
Penuh cita cinta kasih dan berbakti
Selalu terjaga dan terpatri dalam hati

10. Kartini dan Literasi

Karya: Winnie TM

Kebudayaan dibangun dengan pemikiran
Rasa, cipta, dan karsa diolah sedemikian rupa
Perubahan berbanding lurus dengan masa yang senantiasa berganti
Masa kini perlu disiapkan untuk masa depan
Masa depan disiapkan dengan literasi

Kartiniku menulis Habis Gelap Terbitlah Terang
Terang yang aku harap terus bersinar menyinari bumi
Seperti lagu yang terus mengalun
Mengiringi emansipasi, kebebasan, dan toleran
Tiga nilai yang kudapat dari wahai Kartiniku

Kini, sarana yang paripurna tidaklah berarti
Tanpa daya dan upaya dengan literasi
Terus menerus bukan berarti tanpa jeda
Demi transendensi dan masa tanpa ego
Karena kehidupan akan menjadi seperti apa hanya bergantung pada saya

11. Literasi Ajeng Pekerti

Karya: Septiani Wahyuni

Sumbu Pandu Menyala Rona
Gemerlap Kulturasi Merangkai Jentik Hari
Jemari Gemar Berpikir, Logika Asri Bergelora
Bara Ideologi, Kidung Melati Melagu 'Kartini'

Jejer dan Jejak Gubahan Tangan Sang Putri
Semajemuk Rantai Garis Emansipasi
Mekar Berkelakar, Berakar Jati Suci
Santun Meracik Stigma, Meramu Juta Profesi

Terbit Itu Menyusuri Dedikasi Menuju Lembayung
Arsiran Literasi Menuai Filsafat Dewi Padi

Bermain Bagaikan Bintang,
Lincah Berima Edukasi

Wanita Pekerti,
Jarum Hati BerAjeng Sang Raden Peri,
Jadilah Gaung

Agar Semboyan Gelap Menerang,
Tetap Gemintang dalam Buana Melanglang

12. Untukmu, Kartini Literasi

Karya: Dwi Agustin

Bukan soal, bila harus menapaki ribuan tapak jalan
Niatnya membumikan literasi, sejernih Pantai Pandanan
Dahan pohon senantiasa doakan tiap langkahnya
Mentari pun turut menyinari cita-cita mulianya

Tak kenal lelah berjuang, hingga temukan titik terang
Pengorbanannya tak berbilang, tuk bangsanya yang ia sayang

Bukan hal mudah, tuk yakinkan masa
Bahwa niatnya tulus, tak terukur meski sampai angkasa
Prasangka yang terbang mengalun, tak buat asanya luruh menurun
Semangat itu, kan terus terpupuk dan semakin merimbun

Ia berkilau benderang, bersama bintang malam ini
Curahan terima kasih untukmu, kartini literasi

13. Kartini, Perombak Tradisi Kaumnya

Karya:WijiSayekti

Anggun parasmu sarat pesona
Sekilas permukaan terpandang bersahaja
Meski jauh di kedalaman pikirmu luar biasa
Kau wanita tak biasa...

Adakah tiada menahu kan sosoknya?
Menebar harum di untaian namanya
Pelopor kaumnya pun bisa membaca
Merajut Oleh jua karsa

Mengenang singgah di masanya
Mengintip kalam sanubarinya...
Wanita tiada bisa begini saja
Dalam pingitan menunggu takdir tiba

Wanita pun sarat talenta
Bila sebenar mengasahnya
Bangkitlah menuai ilmu menapak buana
Menjadi guna bagi semesta

Lantas...Kartini pun berdaya
Pun menjadi suri tauladan kaumnya
Engkau Kartini... perombak tradisi kaumnya
Agar habislah gelap terbitlah terang

14. Elok

Karya: Nanda Alifya

Mereka hidup bersama banyak kata
Diiringi tekad untuk memahami seluruhnya ada
Soal banyak titik hitam yang berisik di kepala
Siapa sangka tersulam penuh makna

Apa kau tahu, kawan
Niatnya lebih jernih dari air pegunungan
Mereka perempuan
Lahir dari bunga bunga termahsyur di tanah paling subur

Hari ini dan seterusnya, kawan
Mereka yang pikirannya seluas lautan
Mimpinya melesat tajam bagai peluru
Suaranya akan melahirkan keajaiban baru

Jangan abaikan hari ini, kawan
Banyak Kartini yang bermekaran
Merangkai mustahil menjadi mungkin
Martabat dan pengetahuan menjelma bagai angin

Dengan jemarinya, kawan
Lahir banyak tulisan mengiring peradaban
Kemudian persilahkan tanya keluar dari benakmu
"oh mengapa bisa seelok itu?"

15. Surat Kartini

Karya: Wanda Listiani

Berulang kali kubaca suratmu
Tidak ada pilihan, selain maju

Kubuang sejenak ragu
Tak ada lagi masa lalu

Bergemuruh rindu
Bertalu-talu
Namun kau tak membiarkanku
Membisu
Pada waktu

Surat-suratmu
Bagai taksu
Mencerabutku
Bergerak ku
Dari bayang semu

Gelap pun berlalu
Sejak itu
Tumbuh semangat baru
Selalu

Itu tadi beberapa kumpulan puisi hari Kartini yang bisa detikers jadikan referensi untuk dibacakan saat 21 April. Selamat hari Kartini, selamat merayakan emansipasi.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads