Pawai Ogoh-ogoh Warnai Perayaan Nyepi di Surabaya

Pawai Ogoh-ogoh Warnai Perayaan Nyepi di Surabaya

Aprilia Devi - detikJatim
Rabu, 18 Mar 2026 18:07 WIB
Pawai ogoh-ogoh jelang perayaan nyepi di Surabaya
Pawai ogoh-ogoh jelang perayaan nyepi di Surabaya/Foto: Aprilia Devi/detikJatim
Surabaya -

Pawai ogoh-ogoh digelar dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi di Pura Segara Kenjeran, Surabaya. Empat ogoh-ogoh diarak keliling. Salah satu yang mencuri perhatian adalah ogoh-ogoh Suro dan Boyo.

Pantauan detikJatim di lokasi, selain ogoh-ogoh Suro dan Boyo, ada tiga ogoh-ogoh lainnya yakni ogoh-ogoh bermata satu, bertaring panjang, serta ogoh-ogoh berwarna merah.

Antusiasme masyarakat juga terlihat tinggi, warga memadati area pura untuk menyaksikan arak-arakan, bahkan banyak di antaranya mengabadikan momen dengan ponsel mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rangkaian pawai diawali dengan penampilan Tari Sekar Jagad sebagai pembuka. Tarian ini dibawakan oleh anak-anak muda sebagai wujud ungkapan rasa syukur. Suasana semakin semarak dengan penampilan Tari Barong dan Rangda, yang penarinya didatangkan langsung dari Bali.

ADVERTISEMENT

Ogoh-ogoh kemudian diarak sore ini dengan melewati rute dari Pura Segara Kenjeran, kemudian melintasi Jalan Bambang Sutoro, Jalan Wiratno, hingga Pantai Mentari dan kembali ke Pura Segara.

Setibanya di pura, seluruh ogoh-ogoh kemudian dibakar sebagai bagian dari ritual. Prosesi ini berlangsung khidmat, meski hujan deras mengguyur kawasan pura.

Anggota Sabha Walaka PHDI Pusat, Prof. I Nyoman Sutantra menjelaskan makna di balik prosesi ogoh-ogoh tersebut.

"Artinya kita memberikan, mengembalikan hutang kita dan salah-salah kita kepada Ibu Pertiwi kita dari alam semesta. Telah banyak kita ngambil dari alam semesta kan?," ujar Nyoman kepada detikJatim, Rabu (18/3/2026).

Ia menambahkan, manusia harus menyadari pentingnya menjaga keseimbangan alam dan tidak bersikap serakah.

"Sekarang kalau tidak berkeadilan diambil dengan keserakahan, dengan diambil dengan sendiri, itulah dosa-dosa kita. Sekaranglah kita sadar betul bahwa hentikan jangan mengambil sesuatu tanpa kearifan dan kebijaksanaan. Itu yang sangat penting," tambahnya.

Menurutnya, ogoh-ogoh merupakan simbol sifat buruk manusia yang harus dihilangkan.

"Kita sadar betul keserakahan, kejahatan itu adalah simbol dari ogoh-ogoh itu. Maka ogoh-ogoh kita jalan, kita usir, kemudian kita praline. Praline kita habiskan, bakar. Artinya kita membakar semua musuh-musuh yang ada dalam diri kita," pungkasnya.

Untuk informasi, pawai ogoh-ogoh ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Sebelumnya, umat telah melaksanakan ritual melasti di THP Kenjeran, disusul Tawur Agung yang digelar sejak pagi hingga siang hari ini sebagai upaya menjaga keseimbangan bhuana alit dan bhuana agung serta keharmonisan dalam konsep Tri Hita Karana.

Seluruh rangkaian berlangsung lancar, dengan sekitar 1.000 orang turut ambil bagian dalam pawai ogoh-ogoh di kawasan Pura Segara Kenjeran hari ini.



(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads