Ribuan umat Hindu di Surabaya mengikuti upacara Melasti di Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran, Sabtu (14/3/3026). Ritual ini menjadi rangkaian pembuka sebelum umat Hindu memasuki perayaan Hari Raya Nyepi.
Sejak pukul 07.00 pagi, para umat sudah berkumpul di Pura Segara Kenjeran. Berbagai sarana upacara dan sesaji dipersiapkan sebelum iring-iringan menuju lokasi pelaksanaan Melasti.
Selang 30 menit, rombongan umat mulai berjalan menuju lokasi upacara di sisi utara Jembatan Suroboyo. Meski jalanan becek dan beberapa titik tergenang air, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat umat yang membawa berbagai sesaji menuju lokasi upacara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar pukul 08.00 WIB, rombongan memasuki kawasan pantai di THP Kenjeran dan upacara Melasti pun dimulai. Prosesi berlangsung khidmat diiringi tabuhan gong serta lantunan kidung suci.
Rangkaian upacara diawali dengan ragam tampilan. Baru kemudian dilakukan pelarungan bebek dan ayam ke tengah laut sebagai simbol melarungkan unsur-unsur negatif dalam diri. Setelah itu, dilanjutkan dengan prosesi penyucian menggunakan tirta atau air suci sebelum umat bersama-sama memanjatkan doa.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Surabaya, Ketut Gotra Astika turut hadir dalam kegiatan ini dan menjelaskan makna spiritual dari pelaksanaan Melasti.
"Ngiring pewatek dewata adalah memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Nganyutakan lara jagad, menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan klesha atau kekotoran, serta menyucikan alam semesta. Jadi makna Melasti ini adalah melarungkan hal-hal buruk untuk menyucikan diri," ujarnya dalam kata sambutan.
Melengkapi, Penasihat Pura Segara Kenjeran, I Made Suweca menyebut Melasti merupakan rangkaian awal dalam menyambut Tahun Baru Saka 1948.
"Upacara Melasti adalah salah satu rangkaian dari umat Hindu menyambut Tahun Baru Saka. Jadi tahun Baru saka sekarang adalah 1948, yang Masehinya 2026. Jadi upacara Melasti ini, Nyepi ini diawali dengan Melasti. Dimana tujuannya adalah ya di dalam Kitab Suci Weda dikatakan angamet sarining amerta ring telenging samudra. Mencari air suci di tengah laut samudera," jelasnya kepada detikJatim, Sabtu (14/3/2026).
Laut dipandang sebagai sumber kehidupan yang mampu menyucikan berbagai unsur kehidupan.
"Yang tujuannya adalah menyucikan bhuana agung bhuana alit. Bhuana agung itu adalah makhluk kosmos alam semesta dengan segala isinya, sedangkan bhuana alit itu adalah manusia itu sendiri," lanjutnya.
Pada pelaksanaan Melasti tahun ini, umat Hindu Surabaya mengusung tema "Satu Bumi Satu Keluarga", yang dimaknai sebagai ajakan menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Bagi sebagian umat, mengikuti Melasti menjadi pengalaman spiritual yang dinantikan setiap tahun. Mira (24), salah satu umat Hindu yang hadir, mengaku sudah datang sejak pukul 06.00 WIB untuk mengikuti rangkaian ibadah.
"Excited, tadi datang dari jam 06.00 pagi. Dapat kesempatan sembahyang di depan pantai ini suatu kesempatan yang luar biasa," ujarnya.
Hal serupa juga dirasakan I Made Juan Sebastian Wijaya (18). Ia mengaku telah mengikuti upacara Melasti sejak kecil.
"Perasaannya lebih tenang, damai. Sejak kecil ikut ini (Melasti). Semoga sehat selalu lah supaya bisa mengikuti upacara ini terus," katanya.
Upacara Melasti selesai sekitar pukul 10.30 WIB. Setelah itu, para umat kembali berjalan beriringan menuju Pura Segara Kenjeran untuk menutup rangkaian kegiatan pagi tersebut.
(ihc/dpe)
