Sejarah Berdirinya Masjid Tertua di Nganjuk yang Kini Berusia 208 Tahun

Sejarah Berdirinya Masjid Tertua di Nganjuk yang Kini Berusia 208 Tahun

Bakrie - detikJatim
Senin, 23 Feb 2026 07:00 WIB
Masjid tertua di Nganjuk
Masjid tertua di Nganjuk (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Berdirinya masjid tertua di Nganjuk, yang kini berusia 208 tahun, tidak lepas dari Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sosro Koesoemo I atau Kanjeng Djimat. Sebagai bupati pertama di Bumi Anjuk Ladang, sosoknya juga masyhur sebagai ulama dihormati.

Ia gencar berdakwah, khususnya di wilayah Kecamatan Berbek dan Kabupaten Nganjuk, hingga memutuskan membangun sebuah masjid di Desa Kacangan, Kecamatan Berbek pada 1818 Masehi sebagai pusat syiar Islam.

Pendirian masjid yang belakangan diberi nama Al-Mubarok itu ditandai dengan prasasti berangka 1745 Tahun Jawa (1818 Masehi), yang hingga kini masih bisa dilihat di dinding ruangan utama masjid. Prasasti tersebut bertuliskan aksara arab pegon yang berbunyi 'Adege masjid ing nagari toya mirah. Toto caturing pandito hamadangi'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang artinya, telah berdiri masjid di negeri yang memiliki air melimpah (Berbek Nganjuk). Dipimpin oleh seorang pemimpin bupati yang bijaksana (Kanjeng Djimat)," terang M. Sururi, Ketua II Takmir Masjid Al-Mubarok kepada detikJatim, Minggu (22/6/2026).

Sururi mengisahkan, ketika masjid masih dalam proses pembangunan, ada salah satu pekerja yang berniat pulang mengambil ungkal atau alat pengasah benda tajam yang tertinggal di rumah. Konon rumah pekerja itu berada jauh di Jepara.

ADVERTISEMENT

Kanjeng Djimat yang melihat hal itu lalu mencegah si pekerja pulang. Ia lalu spontan menunjuk sebongkah batu yang ada dekatnya.

"Batu yang ditunjuk itu tiba-tiba berubah menjadi ungkal dan siap digunakan," cerita Sururi.

Hingga kini, ungkal sepanjang satu meter dan lebar 50 sentimeter itu masih tersimpan di sisi selatan masjid.

Kisah unik lainnya, lanjut Sururi, adalah bedug masjid yang berumur hampir 200 tahun dan hingga kini masih digunakan.

Pada 6 Juni 1880, pusat pemerintahan Nganjuk dipindahkan dari Kecamatan Berbek menuju Kecamatan Nganjuk.

Menurut Sururi, ketika itu tidak hanya para pejabatnya yang pindah. Bedug Masjid Al-Mubarok juga ikut diboyong untuk ditempatkan di Masjid Agung Baitussalam, di sisi barat Alun-Alun Nganjuk.

Anehnya, kata Sururi, bedug tiba-tiba tidak berbunyi saat ditabuh.

"Akhirnya bedug dikembalikan ke Masjid Al-Mubarok dan bisa berbunyi seperti semula hingga saat ini," tutur Sururi.

Kanjeng Djimat wafat pada 1832 Masehi dan dimakamkan di sisi barat Masjid Al-Mubarok.

Hingga kini, masjid yang telah berumur 208 tahun itu selalu ramai dikunjungi jamaah dan peziarah dari berbagai kota.

Antara lain saat agenda Haul Kanjeng Djimat atau ziarah rutin setiap malam Jumat.

"Atau ketika Bulan Ramadhan seperti saat ini, selain dipadati jamaah Salat Tarawih, juga banyak yang berdoa dan berziarah di makam, biasanya mulai jam 12 malam," pungkas Sururi.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads