Menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 2026, Vihara Dharma Bakti Sidoarjo menggelar tradisi tahunan pencucian dan penyucian patung Buddha serta para dewa. Ritual ini sudah dimulai hari ini dan akan berlangsung selama enam hari ke depan.
Kegiatan dilakukan setiap pagi hingga sore sekitar pukul 16.00 WIB, dipusatkan di ruang Dhammasala, yakni ruangan yang biasa digunakan untuk pembabaran ajaran Dharma.
Ketua Vihara Dharma Bakti Sidoarjo, Nico Tri Sulistyo Budi menjelaskan, tradisi ini bukan sekadar membersihkan debu pada rupang (patung suci), tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini bukan hanya membersihkan patung secara fisik, tapi juga sebagai pengingat agar kita membersihkan batin. Kita diajak meninggalkan sifat-sifat buruk seperti keserakahan, kebencian, dan hal-hal negatif lainnya menjelang tahun baru," ujar Nico kepada detikJatim di sela-sela kegiatan, Rabu (11/2/2026).
Dalam ritual tersebut, umat membersihkan rupang menggunakan air yang dicampur bunga dan wewangian. Air bunga melambangkan keharuman, yang dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur serta penghormatan kepada para Buddha, Bodhisattva, dan dewa-dewi.
"Setelah dibersihkan, rupang dimandikan dan dibilas dengan air bunga. Itu sebagai simbol terima kasih karena kita sudah melewati tahun ini, sekaligus harapan agar tahun depan dipenuhi hal-hal baik," jelas Nico.
Selain patung, seluruh area vihara juga ikut dibersihkan, mulai dari altar, perlengkapan sembahyang, hingga bagian langit-langit dan sudut-sudut bangunan.
Tradisi Sebelum Imlek
Menurut Nico, dalam kepercayaan tradisi Tionghoa, sekitar satu minggu sebelum Imlek para dewa diyakini "naik ke langit". Karena itu, momen tersebut dimanfaatkan umat untuk membersihkan tempat ibadah secara menyeluruh sebelum menyambut kedatangan kembali berkah di tahun baru.
Beberapa rupang yang disucikan antara lain patung Buddha Sakyamuni, Dewi Kwan Im (Avalokitesvara), Buddha Maitreya (Mi Le Fo), serta dewa-dewa yang dikenal dalam tradisi Tionghoa seperti Cai Shen Ye (Dewa Rezeki), dewa panjang umur, dan dewa kemakmuran.
"Imlek identik dengan harapan akan rezeki, kesehatan, dan kebahagiaan. Karena itu Cai Shen Ye atau Dewa Rezeki juga ikut disucikan. Tapi yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana kita memperbaiki diri," tambahnya.
Nico menekankan, makna utama dari tradisi ini adalah refleksi diri agar umat menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang baru.
"Api itu panas, tapi kita maknai sebagai semangat menanam kebaikan. Kita diajak lebih sabar, menebar kerukunan, dan menjaga keharmonisan dengan semua makhluk. Harapannya, di tahun baru semua diberi kesehatan dan kebahagiaan," pungkasnya.
Ritual penyucian rupang ini pun terbuka untuk umat yang ingin turut bergotong royong, sekaligus menjadi bagian dari persiapan batin menyambut Imlek 2577.
(irb/hil)











































